Berikan Tontonan Yang Sehat Kepada Masyarakat, LSF RI Lakukan Catur Aksi, Bentuk Desa Sensor Mandiri Di 3 Provinsi

Ketua Komisi III LSF RI Naswardi memberikan Sosialisasi pedoman dan petunjuk teknis Desa Sensor Mandiri di GOR Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Selasa (9/11/2021).

WartaKita.org – Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia (RI) terus berupaya untuk memberikan tontonan yang sehat kepada masyarakat. LSF RI melakukan Catur Aksi. Salah satunya dengan membentuk Desa Sensor Mandiri di tiga provinsi.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Komisi III LSF RI Naswardi pada Sosialisasi pedoman dan petunjuk teknis Desa Sensor Mandiri di GOR Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Selasa (9/11/2021).

Bacaan Lainnya

Sosialisasi ini menghadirkan tiga pembicara, yaitu Ketua Komisi II LSF RI Ahmad Yani Basuki, Ketua Komisi III LSF RI Naswardi, dan Pengurus Dewan Kesenian Jawa Tengah yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jateng, Eko Pujiatmoko.

“Berkat kemajuan informasi dan teknologi (IT) sekarang ini, dunia itu bagaikan dalam genggaman handphone (HP). Antara “surga” dan “neraka” itu jaraknya tipis. Sesuatu itu bisa maslahat atau mudharat itu tergantung pada diri kita. Maka, kita perlu memperkuat literasi agar tontonan yang kita lihat itu sehat dan bermanfaat,” kata Naswardi.

Naswardi menyampaikan, untuk memperkuat literasi dan memberikan tontonan yang sehat, maka LSF RI melakukan Catur Aksi, yaitu satu, kampanye budaya sensor mandiri. Caranya melalui sosialisasi untuk menciptakan konten-konten atau tontonan yang sehat. Dua, membentuk Desa Sensor Mandiri. Ini dilakukan dengan membudayakan untuk memilah dan memilih tontonan atau konten yang sehat. Tiga, survei budaya sensor mandiri. Dan empat, menjalin hubungan antar lembaga.

“Tahun ini kita membentuk tiga Desa Sensor Mandiri, yaitu di Ciamis (Jawa Barat), Madiun (Jawa Timur), dan Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten (Jawa Tengah). Untuk kriterianya, di desa tersebut ada kebijakan dan program serta anggaran. Dan juga, ada upaya untuk membudayakan memilah dan memilih tontonan, serta meningkatkan wawasan litetasi tontonan,” ujarnya.

Sedang Ketua Komisi II LSF RI Ahmad Yani Basuki mengatakan, film dapat memberikan dampak positif dan negatif. Karena itu, keberadaan LSF RI diberi amanat oleh negara untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif dari sebuah film.

“Film sangat penting karena bisa mempertahankan budaya dan bisa mendidik,” tandasnya.

Sementara itu, Pengurus Dewan Kesenian Jawa Tengah yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jateng, Eko Pujiatmo mengemukakan, dalam survey kecil yang dibuatnya yang melibatkan 50 responden di Desa Candirejo terungkap bahwa warga menonton film karena ingin mencari hiburan, mencari inspirasi, melestarikak seni budaya, dan memanfaatkan waktu luang.

“Sedang film yang sering ditonton warga adalah film dari negara Indonesia, Asia, dan Holywood. Dalam survey itu, 60 persen warga menyatakan siap mendukung kerja-kerja yang dilakukan LSF RI dan siap mendukung program Desa Sensor Mandiri. Ini menjadi cambuk bagi LSF untuk menayangkan film yang sehat dan menarik,” harapnya.

Terkait, Wakil Ketua LSF RI, Ervan Ismail mengatakan, LSF RI merupakan sebuah lembaga negara yg dibentuk berdasarkan Undang-Undang (UU). Tugas utama lembaga ini adalah menyensor film dan tayangan di televisi tau bioskop. Di samping itu, juga menyosialisasikan dampak negatif film ke rumah dan keluarga hingga kawasan perdesaan.

“Perilaku atau cara melihat hiburan sekarang ini berbeda dengan waktu sebelumnya. Di zaman dulu, orang menonton televisi itu bersama keluarga. Tapi sekarang ini, orang-orang menonton melalui HP Android. Kebiasaan menonton dan mencari hiburan ini telah menjadi budaya di masyarakat kita,” ungkapnya.

Ervan Ismail menyatakan, tontonan yang baik itu memperhatikan banyak hal.

“Tontotan yang baik, yang layak, yang benar itu tidak mengandung kekerasan, tidak mengandung pornografi, tidak mengandung pertentangan antarkita, dan sebagainya. Ini menjadi tantangan ke depan bagi kita,” tandasnya.

Sedang Kepala Desa (Kades) Candirejo Farah Dedy Setiawan menyebut, jumlah peserta yang diundang di acara kali ini adalah 50 orang. Sementara, jumlah penduduk di desanya mencapai sekitar 5.000 jiwa.

“Saya berharap, warga yang diundang kali ini bisa menjadi virus kebaikan. Semua informasi yang diperoleh bisa ditularkan ke yang lainnya. Terutama dalam rangka mendampingi anak-anak saat menonton televisi. Karena perlu dilakukan pembatasan-pembatasan dengan unsur kehati-hatian,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Camat Ngawen Anna Fajria Hidayati. Dia berharap, para peserta mendapat tambahan pengetahuan tentang sensor film.

“Apa yang disampaikan di kesempatan ini dapat diterapkan di keluarganya masing-masing. Ini jadi satu-satunya desa di Jawa Tengah, yang dicanangkan sebagai desa sensor mandiri,” katanya.

Pos terkait