Berangkat Dari “Keprihatinan”, Ki Bilung Ciptakan Wayang Srawung, Bercerita Tentang Sesrawungan Masyarakat Keseharian

Triyanto Atmojo alias Bilung (kanan) berfoto bersama seniman dari Kecamatan Cawas, Jimbling Supriyadi.

WartaKita.org – Ada yang “berbeda” dalam kegiatan reses yang dilakukan Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan Kadarwati di halaman Kantor Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten pada Jumat (17/2/2023) sore.

Ya, saat itu Kadarwati menggelar reses yang diisi dengan dialog seni budaya dan pentas Wayang Srawung.

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Nguri-nguri kebudayaan tradisional Jawa Tengah” ini ditampilkan Wayang Srawung yang mengusung lakon “Sesaji Mbangun Desa” yang dimainkan oleh Ki Dalang Bilung dari Dukuh Jetakan, Desa Bawak, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten.

Lalu, apa itu Wayang Srawung?

Ki Bilung saat ditemui Wartakita.org sebelum pentas menjelaskan, ada perbedaan antara wayang kulit dengan Wayang Srawung.

“Bedanya, kalau wayang kulit itu menceritakan tentang kisah dalam Babad Ramayana atau Mahabharata. Tetapi kalau Wayang Srawung itu menceritakan tentang kehidupan masyarakat sehari-hari. Baik itu dari kalangan pegawai negeri sipil, wiraswasta, atau yang lainnya. Pokoknya, isinya menceritakan tentang kehidupan kita sehari-hari, mengenai masyarakat di sekeliling kita,” katanya.

Pria yang bernama asli Triyanto Atmojo ini menyampaikan, durasi pentas Wayang Srawung ini sekitar lima jam. Jadi, berbeda dengan pentas wayang kulit yang dimainkan sampai Subuh.

“Kalau malam hari, kita biasa pentas mulai sekitar jam 20.00 sampai jam 01.00 malam. Tetapi kalau di acara (reses) ini, kita akan main dari jam 13.00 sampai jam 17.00,” ujarnya.

Bilung mengatakan, pentas Wayang Srawung kali ini mengusung lakon “Sesaji Mbangun Desa”

“Dari lakon ini diharapkan, supaya desa yang ditempati, yaitu Desa Pogung ini (namanya) bisa terangkat, bisa menjadi desa teladan di Kabupaten Klaten pada khususnya,” harapnya.

Ki Bilung saat memainkan Wayang Srawung dengan lakon“Sesaji Mbangun Desa” di halaman Kantor Desa Pogung, Jumat (17/2/2023) sore.

Sementara itu Seniman dari Kecamatan Cawas, Jimbling Supriyadi mengemukakan, kehadiran Wayang Srawung ini berangkat dari “keprihatinan” seniman.

“Dimana berkembang daya kreatifitas dari seniman tersebut untuk mengemas adanya sebuah kesenian yang komunikatif dengan situasi yang berkembang di masyarakat. Salah satunya dalam bentuk Wayang Srawung ini,” ungkapnya.

Jimbling Supriyadi menambahkan, bahan baku untuk membuat Wayang Srawung ini berbeda dengan wayang kulit.

“Kalau wayang kulit itu bahannya dari kulit hewan. Tetapi kalau Wayang Srawung, bahannya dari talang fiber. Sehingga manakala kena air hujan, nggak masalah,” paparnya.

Jimbling mengemukakan, untuk lakon Wayang Srawung disesuaikan dengan perkembangan situasi di masyarakat. Maka, Wayang Srawung itu tidak mengenal adanya pakem. Namun untuk iringan, mereka mengacu dengan kesenian yang sudah ada, yaitu wayang kulit.

“Wayang Srawung ini adalah sebuah inovasi dalam berkesenian. Berangkat dari adanya keprihatian, maka para dalang atau seniman itu lalu menciptakan kesenian baru. Salah satunya wayang srawung. Kenapa dinamai Wayang Srawung? Ya, karena Wayang Srawung ini berisi cerita mengenai sesrawungan dengan warga sekitar,” terangnya.

Pos terkait