Bagikan Daging Kurban, Gunakan Bahan Yang Ramah Lingkungan

Warga sedang membagi-bagi daging kurban.

WartaKita.org – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan plastik kresek untuk membungkus daging kurban dan memilih bahan yang ramah lingkungan saat pembagian daging kurban di Hari Raya Idhul Adha 1440 Hijriyah mendatang.

Imbauan itu tertuang dalam Surat Edaran yang ditandatangani Sekretaris Daerah Jaka Sawaldi Nomor 658.1/670/25 tanggal 24 Juli 2019 tentang Pengurangan Timbulan Sampah Plastik.

Bacaan Lainnya

Surat imbuan yang ditujukan kepada seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah, Camat, instansi vertikal, kepala sekolah, takmir masjid dan komunitas sungai itu meliputi tiga hal pokok.

Pertama, agar Panitia Sholat Idhul Adha 1440 Hijriyah mengelola sampah serta alas sholat dari kertas dengan baik.

Kedua, agar takmir masjid mengelola kotoran hewan dengan baik, tidak dibuang ke sungai dan sembarang tempat sehingga mencemari lingkungan.

Dan ketiga, agar takmir masjid dalam mendistribusikan daging kurban tidak menggunakan kantong plastik, tetapi menggunakan pembungkus yang ramah lingkungan dan mudah diurai seperti daun pisang, daun jati, besek bambu, atau pandan.

Terkait, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Klaten Srihadi menjelaskan, warga perlu memperbaiki tata cara penanganan daging kurban termasuk kotoran hewan kurban secara benar.

“Pemerintah mengimbau jangan lagi ada masyarakat yang membuang kotoran daging kurban ke sungai yang tidak disadari mengotori lingkungan. Kotoran hewan kurban cukup ditimbun agar terurai oleh tanah, sehingga bisa menjadi pupuk. Kebiasaan-kebiasaan yang salah itu perlu diubah,” jelasnya.

Srihadi menambahkan, untuk mendukung penghematan penggunaan plastik, maka saat pembagian daging kurban diimbau agar masyarakat tidak menggunakan kantung plastik. Selain membahayakan, sampah plastik sangat sulit diurai tanah dan mencemari lingkungan.

“Masyarakat bisa mencari alternatif bahan yang ramah lingkungan seperti daun jati, besek bambu atau pandan, daun kelapa, atau daun pisang. Dengan besek bambu misalnya, selain ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan, juga menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya pengerajin bambu di desa,” terangnya.

Pos terkait