WartaKita.org – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta (UP45) melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kalurahan Caturharjo Kapanewon Sleman Kabupaten Sleman mengelar sosialisasi pengelolaan sampah melalui budidaya maggot yang diadakan di Posko KKN 18 Padukuhan Keceme, Kalurahan Caturharjo pada Senin (21/8/2023).
Sosialisasi ini diadakan dalam rangka peduli penanganan darurat sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan yang menghadirkan pembicara Tomy Wahyu Pradana dari Lembaga Teknik Mengolah Sampah (TM Sampah) ini diikuti peserta dari berbagai unsur masyarakat, seperti Ketua Kelompok Ternak, Dukuh, Ketua RT, Ketua RW, Kelompok Tani Wanita, Karang Taruna, Kelompok Perempuan dan Tokoh Masyarakat di Kalurahan Caturharjo. Sosialisasi berlangsung antusias.
Ketua LPPM Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Muhammad Novriansyah Aridito dalam sambutan pembukaan acara menyampaikan, pasca penutupan TPA Piyungan, masyarakat perlu memikirkan tentang penanganan sampah, khususnya sampah rumah tangga masing-masing.
Untuk itu, kegiatan KKN UP45 di Kalurahan Caturharjo kali ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian dalam penanganan sampah tersebut.
“Program tematik yang kita pilih yaitu tentang pengolahan sampah melalui budidaya magot. Hasil budidaya maggot ini sekaligus diharapkan menjadi pakan alternatif untuk ikan atau ternak. Kita ketahui bersama, di Kalurahan Caturharjo ini banyak masyarakat yang budidaya ikan. Ini dapat menjadi alternatif pakan ikan seiring harga pakan ikan pabrikan yang semakin mahal,” ucap Dito panggilan akrabnya.
Sedang pembicara Tomy Wahyu Pradana dalam paparan menjelaskan, pengelolaan sampah organik sebenarnya dapat dilakukan melalui teknologi komposter dan melalui budidaya magot. Pengolahan sampah melalui budidaya magot dapat dilakukan melalui teknologi biokonversi magot.
Inovasi pengelolaan sampah organik ini menarik karena memanfaatkan serangga, seperti tentara lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF) sebagai pengurai sampah organik.
“Larva dari serangga tersebut diolah menjadi alternatif pakan untuk unggas dan ikan. Selanjutnya, hasil produk dari budidaya magot tersebut dapat dipasarkan atau dijual untuk kebutuhan pakan, sehingga dapat menghasilkan nilai tambah keuntungan. Jadi upaya ini adalah mengubah sampah jadi rupiah,” papar Tomy.
Sementara itu, Wagimin, salah satu peserta dari Padukuhan Ngaglik, Kalurahan Caturharjo mengatakan, melalui kelompoknya, ia telah mengelola sampah yang berasal dari pasokan dari berbagai padukuhan.
“Namun sampai saat ini belum dilakukan pengolahan sampah organik melalui budidaya magot seperti ini. Kedepan perlu adanya kerjasama lebih lanjut untuk pengolahan sampah di wilayah kita,” ucap Wagimin yang juga Ketua RW di Padukuhan Ngaglik ini.
Terkait, Setya Rauf, peserta dari unsur pemuda Padukuhan Keceme menuturkan, kelompoknya pernah menjalankan budidaya magot dengan skala terbatas.
“Hasil dari budidaya magot kita manfaatkan untuk pakan alternatif baik untuk ternak dan ikan. Hal tersebut memang dapat menekan biaya pakan yang biasa kita gunakan dari pakan pabrikan. Namun ada kendala terkait bagaimana cara budidaya magot dalam skala besar,” ucap Rauf yang juga aktif menjadi petani milenial ini.









