WartaKita.org – Festival Batik digelar di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten pada Sabtu (25/8/2018) lalu.
Pada tahun 2018 ini, Festival Batik mengangkat tema “Klaten Mbiyen”. Tema ini dimaksudkan untuk mengangkat kembali beragam potensi Klaten tempo dulu, baik kerajinan hingga kuliner untuk dikenalkan kepada masyarakat.
Ketua panitia festival, Susana Dewi Puspitawati menyampaikan, dalam Festival Batik ini disajikan 20 stand kerajinan batik dan satu stand layah batu. Pada festival pengunjung bisa melihat dan membeli beragam kerajinan yang ada di stand.
“Dan untuk memeriahkan suasana, sejumlah spot foto berlatar belakang tempo dulu disediakan untuk bisa dinikmati oleh para pemburu fotografi,” katanya.
Dewi berharap, keberadaan festival ini bisa mengangkat potensi Desa Jarum sehingga menjadi daerah kunjungan wisata. Mengingat Desa Jarum ini memiliki beragam potensi lokal seperti batik, homestay, hingga kerajinan layah batu.
“Fokus yang ingin diangkat adalah membuka pelatihan membatik secara manual,” ujarnya.
Sedang Pelaksana Tugas (Plt) Camat Bayat, Sumaryono mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten berencana mengembangkan potensi kerajinan dan Usaha Kecil Mikro (UKM) di Kecamatan Bayat. Untuk mewujudkan program itu, Pemerintah berencana bakal memadukan empat desa dengan beragam potensi batik di wilayah tersebut. Keempat desa tersebut meliputi Desa Banyuripan, Jarum, Kebon dan Beluk atau disingkat Banjar Keluk.
“SK (Surat Keputusan) Bupati Klaten mengenai kawasan empat desa ini sudah keluar sejak Desember 2017. Tetapi kami butuh waktu untuk pendataan. Agar potensi yang akan dikembangkan bisa saling keterkaitan, bukannya malah menjatuhkan. Keempat desa itu memiliki potensi yang rata-rata sama, yaitu berupa kerajinan batik kain maupun kayu,” terangnya.
Sumaryono menjelaskan, fokus pengembangan potensi ini diwacanakan dalam bentuk pendirian tempat untuk pelaku usaha agar mudah dalam memasarkan produknya. Salah satunya dengan mendirikan showroom yang menampilkan potensi dari empat desa tersebut. Dengan demikian, potensi yang selama ini terpendam bisa dipamerkan kepada masyarakat luas.
“Kalau di kota besar lain sudah memiliki Expo Center untuk kegiatan apapun. Nah, keinginan kami (empat desa) di sini bisa memiliki semacam Bayat Expo Center (BEC). Ini kita masih mencari lahan di empat desa ini, mana yang paling strategis,” jelasnya.
Sumaryono mengaku, dalam waktu dekat ini pihaknya bakal dipanggil oleh Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah. Hal itu sebagai tindak lanjut pengajuan permohonan yang dilakukan sebelumnya. Dalam pertemuannya dengan jajaran legislatif itu, pihaknya diminta untuk memaparkan segala potensi yang dimiliki empat desa itu.
“Sentra batik ada di empat desa itu. Bahkan setiap desa hampir 80-90 % penduduknya merupakan perajin batik kain dan kayu. Maka ini kita sampaikan kepada legislatif agar ada pelatihan untuk pelaku usaha guna menunjang kepariwisataan,” ucapnya.

Sementara itu Bupati Klaten Sri Mulyani meminta kepada Pemerintah Kecamatan agar melakukan pendataan terlebih dahulu. Pasalnya, butuh kekompakan dan komitmen yang kuat dari empat desa tersebut untuk menuju pengembangan bersama. Apabila hal itu sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya akan lebih mudah.
“Empat desa itu dikumpulkan dulu dan berembug, karena butuh kerja sama yang kuat. Kalau sudah sepakat, nanti pasti akan dianggarkan,” ungkapnya.









