Angkat Derajat Bahan Pangan, Petani Di 5 Kabupaten Kembangkan Tanaman Jali

Prosesi wiwitan atau panen jali di persawahan Desa Mlese, Minggu (29/11/2020) siang.

WartaKita.org – Kegiatan wiwitan atau panen tanaman jali dilakukan di persawahan Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten pada Minggu (29/11/2020) siang.

Panen jali yang dikemas dalam acara Kenduren Climen ini mengusung tema “Ngreksa pusaka boga mrih rahayuning janma”.

Bacaan Lainnya

Acara wiwitan jali diisi dengan Doa Pancasila (secara umum), sambutan, sedekah bumi atau wiwit, dan memanen. Kegiatan panen jali dikemas dengan mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan jumlah undangan dibatasi.

Panen jali ini dihadiri sekitar 50 orang, terdiri dari perwakilan petani, perwakilan Laudato Si (eLSi) Camp Bedono, pengurus Paguyuban Nguripi Urip, Anggota DPRD Klaten dari Fraksi PDIP Didit Raditya, Kepala Desa Mlese Hari Wibawa, dan undangan lainnya.

Penanggung jawab wiwitan jali yang juga Ketua Paguyuban Nguripi Urip, Lukas Triyanto dalam sambutan menyampaikan, anggota paguyuban ini dan para petani di sekitar mereka ingin menghidupkan kembali tanaman jali yang mulai dilupakan masyarakat.

“Jali adalah sumber makanan seperti halnya beras. Karena itu, kita ajak petani lainnya untuk kembali menanam jali. Selain itu, kita juga ingin menghidupkan kembali budaya wiwit sebelum panen,” katanya.

Lukas Triyanto menyatakan, tanaman jali sudah ditanam di sejumlah lahan yang tersebar di Desa Mlese (Kecamatan Ceper), sebagian Kecamatan Trucuk, Desa Manjung (Kecamatan Ngawen), dan lainnya. Sedang tanaman jali yang sudah dipanen yaitu yang ditanam di persawahan Desa Mlese.

“Kami juga menanam jali di sawah. Ada yang hampir panen, dan ada yang baru tumbuh beberapa bulan,” terangnya.

Sedang Pastor pendamping petani jali, Rama Patricius Hartono Pr menjelaskan, dulu, jali adalah salah satu makanan pokok pengganti beras. Tetapi sekarang, derajadnya menurun. Bahkan sebagian ada yang menggunakan jali untuk pakan ternak sapi.

“Ini memprihatinkan. Maka kami berusaha untuk mengembalikan derajadnya (jali) sebagai makanan manusia,” ujarnya.

Rama Patricius Hartono mengatakan, jali memiliki berbagai kandungan nutrisi yang lebih dibandingkan pangan mainstream (utama) seperti beras dan gandum. Seperti kadar gula yang rendah, serat yang tinggi, dan bebas gluten.

“Namun disayangkan, di Indonesia belum banyak langkah serius untuk mengembangkan tanaman jali. Padahal di negara lain seperti di Filipina, sudah menjadi riset nasional dengan menanam ribuan hektar jali,” paparnya.

Petani sedang berteduh di bawah tanaman jali.

Sementara itu Direktur Laudato Si (eLSi) Camp Bedono, Wahyu Indratno mengatakan, gerakan menanam dan memakan jali kembali digaungkan mengingat tanaman jali merupakan harta pusaka warisan pangan yang dulu dikenal oleh para leluhur bangsa Indonesia 70 tahun yang lalu. Setidaknya sudah ada 5 kabupaten di Jawa Tengah dan DIY yang mengembangkan jali.

“Bahkan, di Jawa Tengah sudah ada Peraturan Gubernur (Pergub) yang menyebutkan dengan jelas, bahwa jali merupakan tanaman pangan lokal di Jawa Tengah,” tandasnya.

Wahyu Indratno menambahkan, kini sudah ada 5 kabupaten yang sudah mengembangkan jali, yaitu Kabupaten Semarang, Temanggung, Kudus, Klaten, dan Kulon Progo.

“Tanaman jali dipilih karena banyak manfaatnya. Karena bisa mengganti beras, baik untuk bahan pangan maupun untuk bahan olahan lainnya. Saat ini, harga jali kotor di tingkat petani sekitar Rp33 ribu per kilogram. Dan setelah diolah, harganya mencapai Rp60 ribu per kilogram,” jelasnya.

Pos terkait