WartaKita.org – Belakangan ini, kemauan generasi muda untuk bertani semakin berkurang. Hal ini tentu saja disebabkan banyak faktor.
Berangkat dari “keprihatinan” tersebut, maka Sekolah Dasar Ilmu Tani (SDIT) Ngudi Mulya Desa Banyuaeng, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten hadir untuk mendampingi dan mengedukasi bagi siapa saja yang ingin menekuni dunia pertanian, terutama para generasi muda.
Koordinator Sekolah Dasar Ilmu Tani (SDIT) Ngudi Mulya Desa Banyuaeng Widodo, Jumat (12/2/2021), menyampaikan, belakangan ini, sebagian besar generasi muda sepertinya enggan, dan bahkan “menolak” ketika diajak untuk bertani.
“Alasan anak muda menolak untuk diajak bertani itu banyak. Mungkin, karena mereka melihat orangtuanya yang jadi petani. Jangankan kaya, (untuk hidup) cukup saja susah. Hanya saja, kalau (anak muda itu) dipahamkan secara dini, tentang ilmunya (bertani), prospeknya, cara menjualnya, serta basic bertaninya adalah sebuah kebanggaan dan menghasilkan, saya kira para pemuda juga akan mau bertani,” katanya.
Karenanya, Anggota DPRD Kabupaten Klaten dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengajak para pegiat pertanian lainnya mendirikan SDIT Ngudi Mulya di Desa Banyuaeng.
SDIT Ngudi Mulya ini berdiri sekitar empat tahun yang lalu. Awalnya, dia mengkoordinir sekitar 80 kelompok tani se Kabupaten Klaten. Mereka di-support salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari sisi permodalan, edukasi, termasuk marketingnya. Dan sampai sekarang, mereka masih bermitra serta memiliki jaringan.
“Sampai saat ini, kegiatannya masih berjalan. Termasuk dalam hal koordinasi saat panen, pooling (pengumpulan), packing (pengemasan) hasil panen, dan lainnya,” ujarnya.
Widodo menyatakan, kegiatan SDIT Ngudi Mulya selama ini yaitu pertama, mengadakan pertemuan rutin. Dalam pertemuan ini, mereka berkoordinasi terkait penanaman dan penjualan hasil panen. Kedua, membuat market place (perantara penjual dan pembeli) sendiri. Dan ketiga, memberikan edukasi tentang ilmu-ilmu pertanian. Misalnya cara menanam melon yang baik dan sebagainya.
“Bahkan kita sudah merambah ke pengolahan hasil panen. Misalnya, saat panen melon harganya murah, maka melon akan kita buat roti. Untuk ruangan dan mesinnya sudah siap,” tandasnya.
Tak hanya itu, SDIT Ngudi Mulya ini juga sudah memiliki kandang ternak sapi dan kambing yang terintegrasi. Artinya, dari mulai pembuatan pakan fermentasi, pemeliharaan ternak, sampai pemanfaatan kotoran hewan untuk pupuk organik dilakukan di kandang ini.
“Ternak kambing di sini tidak semata-mata untuk bisnis atau jual beli. Tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat. Artinya, sebagian kambing juga digaduhke ke warga sekitar yang ingin belajar atau memelihara kambing. Selain itu, limbah dari kotoran dan urin kambing juga diproses untuk bahan pupuk organik,” paparnya.
Widodo mengatakan, SDIT Ngudi Mulya terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar bertani dan beternak. Terutama bagi generasi muda.
“Kami siap memberikan edukasi dan mendampingi. Dari teori sampai praktek langsung. Silahkan belajar di sini, belajar beternak, atau belajar bertani,” ucapnya.
Rupanya, gayung pun bersambut. Di kandang ternak terintegrasi itu ada sejumlah anak muda yang belajar beternak dan bertani. Mereka adalah para pelajar SMK di Klaten yang memanfaatkan waktunya di sela-sela belajar daring di masa pandemi covid-19 ini.
“Saya di sini (di kandang) sudah tiga bulan. Saya belajar daring sambil belajar beternak (sapi dan kambing). Di sini saya diajari beternak sapi, beternak kambing, cara mengolah pupuk, cara membuat pakan, dan sebagainya. Ini sangat bermanfaat bagi saya,” ungkap Bayu Satria (16), siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Klaten Utara Jurusan Otomotif ini.









