SMA Kolese De Britto Yogyakarta Gelar Open House, Jadi Ruang Bertemu, Belajar, Dan Menemukan Masa Depan

SMA Kolese De Britto Yogyakarta menggelar Open House pada hari Jumat sampai Sabtu (21–22/8/2026).

Warta Kita.org – Kompleks SMA Kolese De Britto Yogyakarta pada hari Jumat sampai Sabtu (21–22/8/2026) ini terasa lebih ramai dari biasanya.

Bukan hanya karena siswa dan guru yang beraktivitas, tetapi juga karena hadirnya anak-anak, orang tua, guru, calon siswa, hingga masyarakat yang ingin melihat lebih dekat seperti apa lingkungan sekolah yang berada di bawah naungan Serikat Yesus tersebut.

Melalui Open House 2026, SMA Kolese De Britto membuka pintunya lebar-lebar.

Sekolah tidak hanya memperkenalkan ruang kelas dan fasilitas, tetapi juga menghadirkan berbagai pengalaman yang menjadi bagian dari kehidupan sekolah seperti ekspo 30 lebih perguruan tinggi, aneka lomba untuk jenjang TK, SD, dan SMP, ekspo lembaga pendidikan Katolik se-DIY, talkshow, pameran ekstrakurikuler, hingga bazar.

Bagi para pengunjung, Open House menjadi kesempatan untuk melihat De Britto bukan sekadar dari luar, akan tetapi dapat merasakan suasana sekolah, bertemu dengan para siswa, mengenal kegiatan yang dijalankan, sekaligus mendapatkan gambaran tentang bagaimana pendidikan di De Britto mempersiapkan anak muda menghadapi masa depan.

Dalam Open House tahun ini, memiliki cerita yang sedikit berbeda, karena kegiatan tahunan ini menjadi bagian dari rangkaian Menuju Dasawindu SMA Kolese De Britto 1948–2028.

Lebih dari 30 perguruan tinggi mengikuti ekspo yang diadakan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Koordinator Umum Dasawindu SMA Kolese De Britto Filipus Dimas Darumurti mengatakan, Open House kali ini menjadi semakin istimewa karena menjadi bagian dari momentum pembukaan perjalanan menuju 80 tahun berdirinya sekolah.

“Open house kali ini lumayan spesial karena dalam rangka pembukaan Dasawindu. Dimana Tahun 2028, SMA Kolese De Britto akan genap delapan puluh tahun berdiri,” ujar Dimas.

Momentum ini telah dimulai pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese De Britto.

Pembukaan perjalanan menuju Dasawindu juga ditandai dengan rangkaian peringatan kemerdekaan Republik Indonesia serta peletakan batu pertama Gedung Dasawindu.

Gedung yang akan dibangun di sebelah utara lapangan sepak bola itu nantinya menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan sekolah.

Di dalamnya direncanakan terdapat ruang kelas, laboratorium, ruang guru, ruang audiovisual, ruang diskusi, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

“Gagasan itu sudah sejak lama, tetapi baru direalisasikan pada momen 80 tahun atau Dasawindu ini. Maka, gedung yang akan dibangun di utara lapangan sepak bola itu kami namakan Gedung Dasawindu,” jelas Dimas.

Jika gedung tersebut adalah gambaran masa depan secara fisik, Open House menjadi gambaran masa depan dalam bentuk yang lebih hidup, yaitu anak-anak muda yang belajar, mencoba, berkompetisi, berkarya, dan menemukan potensi dirinya.

Hal menarik lainnya dalam Open House tahun ini adalah hadirnya Ekspo Lembaga Pendidikan Katolik se-DIY.

Sebanyak 16 sekolah dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah ikut ambil bagian mengikuti Open House yang diadakan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Sebanyak 16 sekolah dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah ikut ambil bagian.

Di antaranya KB-TK-SD Kanisius Sengkan, SMP Joannes Bosco, Kalyca Montessori School, SD Eksperimental Mangunan Go, SD Marsudirini Yogyakarta, SMP Maria Immaculata Marsudirini, SD Kanisius Kintelan, SMA Santa Maria Yogyakarta, TK-SD Kanisius Demangan Baru, SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, SMP Kanisius Gayam, SMA Pangudi Luhur Sedayu, SMP Karitas Ngaglik, SMA Sang Timur Yogyakarta, Daycare KB TK Katolik Sang Timur, dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

Menurut Dimas, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk konkret semangat kolaborasi yang muncul dari gerakan Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) 2023–2024.

“Dalam Sinode Pendidikan, salah satunya bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Katolik bisa saling berkolaborasi,” katanya.

Melalui ekspo tersebut, setiap sekolah memiliki kesempatan untuk menunjukkan kekhasan, program, dan potensinya.

Kegiatan Open House ini membuka wawasan bagi masyarakat bahwa pendidikan Katolik di Yogyakarta memiliki beragam pilihan dan karakter.

Bagi masyarakat, kegiatan ini juga membuka wawasan bahwa pendidikan Katolik di Yogyakarta memiliki beragam pilihan dan karakter.

Di tengah rangkaian kegiatan, kompetisi menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian anak-anak dan remaja.

Semangat berkompetisi tampak dalam lomba mewarnai, menggambar, paduan suara, hingga Leadership Legacy Challenge.

Pada kompetisi mewarnai jenjang TK, juara pertama diraih Alexa Galenka Kurniawati, disusul Nichelle Victory Alodie Permana dan Genoveva Seraphina Anindira Christy.

Sementara pada jenjang SD, Nayanika Alisha menjadi juara pertama, diikuti Elmira Agrevinadira Yasmine P. dan Kheysha Putri Berlianna.

Untuk kompetisi menggambar SD, Samantha Ashera Anarya meraih juara pertama, disusul Barbara Kasyaira Arkhadewi dan Kinara Chitta Lavani.

Sejumlah sekolah mengikuti lomba paduan suara yang diadakan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Di bidang seni suara, SD Kanisius Sengkan menjadi juara pertama paduan suara jenjang SD.

Sedangkan SMP Maria Immaculata Marsudirini menjadi juara pertama pada jenjang SMP.

Sementara itu, Leadership Legacy Challenge menghadirkan semangat kompetisi yang berbeda.

SMP Kristen Kalam Kudus Yogyakarta menjadi juara pertama, disusul SMP Maria Assumpta dan SMP Kanisius Kalasan.

Penghargaan Best Leader diberikan kepada Dominicus Dandy Edwit Wijaya Putra.

Lebih dari sekadar perlombaan, Open House De Britto memperlihatkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang untuk bertemu dengan banyak hal: pengetahuan, kreativitas, persahabatan, keberanian, dan pengalaman baru.

Dari anak TK yang serius memilih warna, siswa SD yang menuangkan imajinasi ke atas kertas, para pelajar yang bernyanyi bersama, hingga peserta Leadership Legacy Challenge yang belajar memimpin, semuanya menunjukkan satu hal: pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam kelas.

Sejumlah anak TK sedang serius memilih warna dalam lomba mewarnai yang diadakan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Open House juga menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju masa depan tidak pernah dimulai dari ruang kosong.

Ia selalu berangkat dari pengalaman, tradisi, dan perjumpaan yang telah dibangun sebelumnya.

Menjelang Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto tidak hanya sedang menyiapkan sebuah gedung baru.

Sekolah juga sedang mempersiapkan generasi baru untuk menghadapi zaman yang terus berubah.

Terkait hal itu mungkin, di antara keramaian Open House itu, ada anak-anak yang untuk pertama kalinya mulai bertanya kepada dirinya sendiri: “Sekolah seperti apa yang ingin membentukku menjadi manusia seperti apa?”.

Pertanyaan itulah yang membuat Open House lebih dari sekadar agenda tahunan, akan tetapi menjadi ruang perjumpaan antara hari ini dan masa depan.

Pos terkait