Warta Kita.org – Umat Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius (FX) Pandes, Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten mengadakan Misa Sadranan di Makam Dukuh Ngendegan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi pada Selasa (18/11/2025) sore.
Misa untuk mengenang dan mendoakan arwah para leluhur, keluarga, sanak saudara, dan handai taulan ini dihadiri oleh umat lingkungan setempat, ahli waris, dan undangan lainnya.
Perayaan Ekaristi yang mengusung tema “Ngaso Kanthi Tentrem” ini dipimpin oleh Rama Paulus Agung Wijayanto, SJ bersama Pastor Paroki Wedi Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr.
Untuk diketahui, Gereja menetapkan bulan November sebagai bulan untuk memperingati para arwah, yang dimulai dengan hari para orang kudus pada tanggal 1 November dan hari arwah pada tanggal 2 November.
Hari peringatan para orang kudus mengingatkan umat bahwa tujuan akhir dari kehidupan adalah surga. Sedangkan hari peringatan arwah orang beriman mengingatkan umat bahwa ada sejumlah anggota Gereja yang masih membutuhkan doa-doa umat, yaitu mereka yang berada di purgatorium (api penyucian) yang sedang mengalami masa pemurnian.
Dalam rangka membantu jiwa-jiwa yang masih berada di purgatorium, maka Gereja memberikan indulgensi penuh pada hari arwah sehingga umat dapat membantu jiwa-jiwa tersebut agar dapat digabungkan ke dalam kerajaan surga. Jadi, sesungguhnya umat mempunyai kesempatan untuk membantu jiwa-jiwa di purgatorium secara istimewa di hari arwah. Namun, tentu umat juga tetap dapat membantu jiwa-jiwa tersebut di hari-hari yang lain.
Perwakilan Pengurus Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius Pandes, Gabriel Joko Budi Setiawan dalam sambutan menyampaikan, Misa Sadranan di Makam Dukuh Ngendegan ini merupakan agenda rutin yang diadakan pada setiap bulan November.
“Misa Sadranan ini kita adakan untuk nguri-uri (melestarikan) dan melanjutkan tradisi yang baik. Kita mendoakan arwah para leluhur yang telah dipanggil Tuhan. Semoga karena kerahiman dan belas kasih Allah, serta doa-doa kita, Tuhan berkenan menerima jiwa-jiwa tersebut kedalam surga,” katanya.
Gabriel Joko Budi Setiawan mengatakan, ada serangkaian acara dalam Misa Sadranan kali ini.
“Setelah misa, dilanjutkan dengan andum berkah dari gunungan hasil bumi. Ada dua gunungan yang telah disiapkan panitia. Dan umat yang hadir diperkenankan untuk ngalap berkah dari gunungan ini. Selanjutnya, ada prosesi pelepasan dua burung merpati ke udara. Rangkaian kegiatan Misa Sadranan diakhiri dengan ramah tamah dan makan bersama,” ujarnya.

Sedang Rama Paulus Agung Wijayanto, SJ dalam homili menyatakan, menurut ajaran Gereja Katolik, Gereja itu terdiri dari tiga bagian, yaitu Gereja yang mulia (para kudus di surga), Gereja yang masih berziarah (umat yang masih hidup di dunia), dan Gereja yang menderita (jiwa-jiwa di api penyucian). Ketiga bagian dari Gereja tersebut dikenal dengan istilah Persekutuan Para Kudus seperti yang diucapkan dalam Syahadat Para Rasul (Aku Percaya).
“Karena berbentuk persekutuan, maka ketiga bagian dari Gereja itu bisa saling berkomunikasi. Gereja yang sudah mulia pasti mendoakan umat yang masih hidup di dunia dan jiwa-jiwa di api penyucian. Gereja yang masih berziarah bisa memohon doa dari para kudus di surga, saling mendoakan satu sama lain, dan mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian. Dan Gereja yang menderita ditolong dengan doa-doa para kudus di surga dan umat yang masih hidup di dunia supaya dapat masuk surga,” terang rama.
Pastor asal Paroki Wedi ini menjelaskan, mendoakan arwah merupakan bagian dari ungkapan cinta (katresnan) dalam ajaran Gereja Katolik karena didasarkan pada keyakinan akan koneksi abadi antara umat yang hidup dan yang telah meninggal melalui Tubuh Kristus.
Mendoakan arwah adalah bentuk kasih konkret, membantu jiwa-jiwa yang masih berada di api penyucian untuk disucikan sebelum masuk surga. Doa tersebut juga merupakan ungkapan iman dalam kebangkitan dan kehidupan kekal, yang menunjukkan bahwa kasih tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
“Mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan. Terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Maka jangan sampai terjadi, umat lalu takut dengan leluhur yang sudah meninggal, dan malah dianggap setan,” ungkap rama.

Usai perayaan Ekaristi, rama lalu memberkati bunga tabur yang dibawa umat yang akan digunakan untuk nyekar ke makam para leluhur. Kemudian, umat ngalap berkah dari gunungan hasil bumi yang telah disiapkan panitia.
Rama membagi-bagikan hasil bumi kepada umat secara tertib dan tidak diperkenankan untuk berebutan. Umat pun merasa senang menerima aneka buah, sayuran, makanan ringan dari gunungan itu.
Selanjutnya, perwakilan umat Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius Pandes, HY Subroto melepaskan dua burung merpati ke udara yang melambangkan bahwa hidup baru telah diterima oleh para saudara saudari yang telah berpulang kepada Bapa.
Rangkaian kegiatan Misa Sadranan ini diakhiri dengan ramah tamah dan makan bersama.









