Ratusan Umat Mengikuti Misa Sadranan Di Makam Ngendegan, Jadi Ajang Untuk Mendoakan Arwah Dan Menguatkan Iman

Sekitar 200 umat Katolik dari berbagai daerah mengikuti Misa Sadranan Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius Pandes yang diadakan di makam Dukuh Ngendegan pada Kamis (7/11/2024) sore.

WartaKita.org – Sekitar 200 umat Katolik dari berbagai daerah mengikuti Misa Sadranan Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius (FX) Pandes, Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi yang diadakan di makam Dukuh Ngendegan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten pada Kamis (7/11/2024) sore.

Misa Sadranan yang mengusung tema “Ngaso Kanthi Tentrem” ini dipimpin oleh Pastor Paroki Wedi, Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr.

Bacaan Lainnya

Dalam Misa Sadranan ini, panitia mengenakan pakaian lurik.

Dan untuk lebih menambah kesan “njawani”, maka Misa yang menggunakan bahasa Jawa ini diiringi gamelan dari Paguyuban Karawitan Suka Laras Paroki Wedi.

Pengurus Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius (FX) Pandes, Alex Handoyo dalam sambutan mengucapkan terima kasih kepada Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr yang berkenan memimpin Misa Sadranan kali ini.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada umat dari berbagai tempat, yang mempunyai leluhur atau saudara, saudari yang dimakamkan di makam Ngendegan ini, dan di tempat lainnya. Terima kasih kepada bapak, ibu yang sudah membantu dana, tenaga, pemikiran, dan sebagainya, sehingga Misa Sadranan kali ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.

Rama Basilius Edy Wiyanto Pr dalam homili menyampaikan, di banyak literasi, nyadran berarti mengirim doa untuk arwah atau mendoakan arwah. Nyadran adalah tradisi Jawa. Nyadran berasal dari kata Srada dalam bahasa Sansekerta.

Nyadran adalah sebuah kesempatan istimewa bagi kita untuk mendoakan arwah,” kata rama.

Rama Edy menjelaskan, nyadran sesuai dengan ajaran Katolik. Apalagi dalam bulan November ini merupakan waktu yang dikhususkan Gereja untuk memperingati arwah.

“Pengalaman saya bertugas di Paroki Wedi ini sungguh luar biasa. Untuk membaca ujud (intensi) saja lebih dari satu jam. Ujud mendoakan arwah ini menunjukkan bahwa masih ada relasi antara kita (manusia) dengan mereka yang sudah meninggal (arwah). Hati kita tertuju kepada Tuhan, untuk memohon belas kasih dan kerahiman Tuhan,” terang rama.

Umat ngalap berkah gunungan hasil bumi yang telah diberkati rama.

Rama Edy menyatakan, nyadran, memule atau mendoakan arwah, bukan hanya untuk mengingat para leluhur atau keluarga yang sudah meninggal. Tetapi juga sebagai upaya untuk merawat dan meneguhkan iman.

“Dalam nyadran ini kita ikut meneladan hidup mereka (para leluhur) saat masih hidup di dunia, sehingga iman kita diteguhkan. Saudara-saudari yang sudah meninggal ini sudah mengupayakan iman yang kuat. Karena orang-orang yang sudah “senior” (tua) itu, belum tentu mempunyai iman yang kuat. Maka, kita mohon doa, agar kita bisa meneladan iman mereka yang kuat, yang setia, sampai akhir hayat,” tandas rama.

Mengutip bacaan Injil pada Misa itu, Rama Edy mengatakan, semua orang yang sudah diserahkan kepada Yesus, akan dibangkitkan pada akhir jaman.

“Kebahagiaan abadi itu bukan karena semata-mata upaya kita. Tetapi karena iman kita kepada Tuhan Yesus. Beriman dengan cara melakukan kehendak Tuhan. Setia pada iman, bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat kita. Keyakinan, bahwa sih wilasa Dalem ini mengampuni dosa-dosa kita,” terang rama.

Di akhir Misa, Rama Edy memberkati bunga tabur yang akan ditaburkan di makam. Rama juga memberkati gunungan hasil bumi.

Sementara itu umat Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius Pandes, Yohanes Eko Mardiyono menyambut baik dan mengapresiasi Misa Sadranan yang diadakan di Makam Ngendegan ini.

“Misa Sadranan di Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius Pandes ini merupakan tradisi yang dilakukan sudah cukup lama, bahkan puluhan tahun. Ini merupakan best practice (praktik baik) umat Lingkungan FX Pandes untuk menghormati dan mendoakan leluhur yang dimakamkan di makam Ngendegan, dan juga di makam lain yang merupakan leluhur umat yang sudah tiada,” ungkapnya.

Wakil Ketua II Dewan Paroki Wedi ini menambahkan, tradisi baik (Misa Sadranan) ini dari tahun ke tahun mengalami perkembangan dalam perayaannya. Tahun ini, Misa Sadranan diiringi dengan gamelan secara live. Sedang paraga (panitia) mengenakan pakaian adat Jawa.

“Panitia selalu menyuguhkan yang terbaik, yang bisa dilakukan untuk kenyamanan umat yang mengikuti Misa. Selalu ada kerinduan umat dalam tradisi Misa Sadranan ini. Umat bisa berkumpul. Dan umat yang tidak tinggal di Lingkungan FX Pandes juga ikut pulang untuk mengikuti Misa ini, atau sebagai ajang reuni. Ada doa yang dipanjatkan, ada kepedulian yang ditampilkan, dan ada sukacita yang dirasakan oleh umat yang hadir,” ungkap Eko.

Usai Misa, umat menikmati minuman dan makanan yang telah disediakan panitia.

Umat juga ngalap berkah gunungan hasil bumi yang telah diberkati rama itu.

Pos terkait