WartaKita.org – Rusaknya sebuah bangsa antara lain dikarenakan warga bangsa tersebut sudah “meninggalkan” kebudayaannya. Masyarakat yang sudah melupakan dan mengabaikan aturan dan tata nilai, serta sering nggampangke (memandang semuanya mudah) segala urusan mengakibatkan kehidupan ini menjadi carut marut.
Pernyataan ini disampaikan Dalang Wayang Kampung Sebelah (WKS) Ki Jlitheng Suparman saat acara pembekalan siswasogata baru angkatan perdana tahun 2019 Fakultas Pranatacara Arupadhatu Institute di Oasse di Dukuh Kayuhan, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jumat (25/1/2019).
“Karenanya, agar kondisi bangsa ini menjadi baik, rukun, damai, dan sebagainya, maka masyarakat harus kembali kepada tatanan dan jati diri budayanya. Misalnya, orang Jawa, ya harus kembali ke budaya Jawa-nya,” katanya.
Karena itu, untuk menyegarkan kembali pemahaman masyarakat akan kebudayaan Jawa, maka Arupadhatu Institue atau Paguron Arupadhatu mengadakan pembelajaran pranatacara gratis kepada masyarakat umum. Ke depan, Arupadhatu Institue ini diharapkan bisa menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan kebudayaan Jawa.
Pengajar Fakultas Pranatacara Arupadhatu Institue, Jlitheng Suparman menjelaskan, pranatacara adalah sebutan bagi seseorang yang bertugas mengatur jalannya sebuah acara hajatan warga masyarakat, seperti pernikahan, khitanan, tingkeban, dan sebagainya. Sebagai seorang pranatacara, mereka harus memahami susunan kompleks elemen-elemen kebudayaan, seperti bahasa, adat, keyakinan, seni, teknologi, edukasi, filosofi, dan lain sebagainya.
“Pranatacara paripurna adalah sosok pengatur acara yang menguasai pemahaman atas susunan kompleks elemen kebudayaan Jawa,” katanya.
Jlitheng Suparman menyampaikan, tujuan pembelajaran pranatacara ini agar siswasogata (peserta pelatihan) memiliki wawasan dan pengetahuan kebudayaan Jawa yang meliputi khasanah bentuk dan nilai baik yang bersifat nonbendawi maupun bendawi, mampu mentransfer atau menjelaskan kembali wawasan dan pengetahuan yang didapatkannya melalui penguasaan kecakapan kebahasaan dan ketrampilan sejumlah bidang (hard skill dan soft skill).
“Dari pembelajaran pranatacara ini diharapkan dapat mencetak manusia berkualitas secara intelektual, sikap, dan moral yang dapat menghantarkan terciptanya kehidupan yang aman, damai, adil, dan sejahtera. Juga diharapkan dapat menghasilkan manusia cerdas, berjati diri, dan berjiwa nasionalisme tinggi. Atau dengan kata lain, mencetak generasi dhugdheng,” harapnya.
Sedang Koordinator pembelajaran pranatacara, Agung “Bakar” Setiyoko menyatakan, pembelajaran perdana pranatacara akan dimulai pada hari Minggu (3/2/2019) di aula Balai Desa Sidowayah. Pembelajaran pranatacara ini sifatnya gratis. Selama pembelajaran, peserta diwajibkan mengenakan pakaian Jawa Hancinco dan memakai emblem.
“Alhamdulilah, pembelajaran pranatacara ini mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat. Sampai saat ini tercatat ada 57 peserta. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti dari Klaten, Sukoharjo, Boyolali, Yogyakarta, dan bahkan dari Semarang,” paparnya.
Sementara itu peserta pembelajaran pranatacara, Hapsoro menyambut baik diadakannya pembelajaran pranatacara tersebut.
“Ini menjadi cara bagi peserta untuk belajar kembali kebudayaan Jawa. Karena kebudayaan Jawa itu luar biasa. Dalam pembelajaran pranatacara ini kita bisa menata kembali tingkah laku kita, tata bahasa kita, dan sebagainya yang sekarang sudah mulai luntur,” ucapnya.









