Golda Institute Beri Wawasan Pentingnya Potensi Genetik Darah Bagi Para Pendidik

Peserta Camp Golda Institute I berfoto bersama para pembicara. (Ist)

WartaKita.org – Golda Institute, sebuah lembaga riset tentang genetika darah menyelenggarakan “Camp Golda Institute I” di Universitas Kristen Immanuel (UKRIM) Yogyakarta pada Rabu (10/7/2024) dan Kamis (11/7/2024).

Direktur Golda Institute, Eva Dipanti Tumba menyampaikan, kegiatan Camp Golda Institute I ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari pengawas, kepala sekolah dan guru. Perinciannya, 80 peserta hadir secara langsung, dan 20 peserta mengikuti secara daring (dalam jaringan).

Bacaan Lainnya

“Pesertanya dari Samarinda, Kalimantan Tengah, Banten, Pangandaran, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Klaten dan sebagainya. Jadi tingkatnya nasional,” katanya.

Eva Dipanti Tumba menjelaskan, Camp Golda Institute I ini mengangkat tema “Peningkatan Kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru dalam Implementasi Kurikulum Nasional dan Moderasi Beragama melalui Pendekatan Potensi Genetik Darah ABO”.

Camp Golda Institute I ini bertujuan untuk memberikan wawasan baru mengenai bagaimana potensi genetik darah dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, juga untuk mendukung penerapan kurikulum nasional yang inklusif dan moderasi beragama yang bertanggung jawab.

Nah, kami membuat kegiatan ini selama 2 hari. Kami ngumpulin para pengawas, kepala sekolah, dan guru yang dari mana-mana ini untuk kami training dalam hal pentingnya golongan darah di dunia pendidikan. Selama 2 hari peserta diberi banyak masukan dan pelatihan tentang itu,” ujarnya.

Sedang Pembina Golda Institute, Sumanto Al Qurtuby mengatakan, para peserta yang mengikuti kegiatan ini nantinya diharapkan dapat mendidik dan mengajar para muridnya dengan menggunakan metode golongan darah.

“Harapannya, mereka akan menerapkan perspektif golongan darah itu di sekolah masing-masing, dari PAUD, KB, TK, SD, SMP, sampai SMA,” harapnya.

Sumanto menjelaskan, dalam kegiatan ini, awalnya para peserta diberikan materi umum tentang kurikulum nasional, Kurikulum Merdeka, dan dunia pendidikan. Kemudian para peserta juga diberikan pandangan tentang moderasi beragama dan pentingnya moderasi beragama dalam dunia pendidikan.

Menariknya, peserta kegiatan ini dikelompokkan berdasarkan golongan darah. Dari pengelompokan itu, para peserta diberi tugas-tugas khusus dan dilihat bagaimana responnya terhadap tugas-tugas itu.

“Dari data yang didapat melalui respon para peserta ini akan dipantau, bahwa setiap golongan darah itu memiliki reaksi dan respon yang berbeda terhadap problem yang sama,” tandasnya.

Sementara itu Eva menambahkan, kegiatan ini memang bertujuan untuk menginspirasi para guru dalam menemukan sebuah metode baru, bagaimana membuat Merdeka Belajar itu berbasis pada genetika dan pada alami tubuh anak. Jadi kalau dulu orang melihat anak dari luar ke dalam, sekarang dari dalam ke luar.

Ia menyatakan, dengan mengetahui ilmu ini, maka mereka tidak akan kesulitan dalam memahami karakteristik dan bakat dari anak-anak. Karena tujuan anak-anak belajar itu untuk menemukan energi positif dalam dirinya, dan kemudian dikembangkan.

Nah, selama ini kita melihat bahwa Merdeka Belajar itu bagus. Tetapi belum ketemu formulasi yang tepat. Sehingga masih banyak guru-guru kita yang kesulitan. Mereka masih stres menghadapi perilaku anak, dan apa yang anak-anak lakukan dalam pembelajaran di kelas. Jadi, kami melihat ini sebagai suatu peluang yang baik untuk bisa menjembatani antara sekolah, guru, murid, orang tua,” jelasnya.

Terkait, Sumarno menerangkan, dengan metode ini, saat pertama kali masuk sekolah, anak-anak harus tahu golongan darahnya apa. Karena setiap golongan darah itu memiliki karakter yang berbeda. Setelah itu, baru didata dan disesuaikan cara belajar mengajarnya, tugas-tugasnya, responnya, dan sebagainya.

“Jadi kalau misalnya ada anak yang nggak mau ngerjain tugas, jangan langsung dijudge, siapa tau dia punya cara penyelesaian yang lain, respon lain. Selama ini orang seringkali menggeneralisir, guru ya pokoknya kamu harus begini harus begitu, diseragamkan kan. Nah, ini sesuai dengan kurikulum merdeka juga yang memberi kebebasan kepada siswa, individunya, antara lain dengan cara golongan darah ini,” jelasnya.

Sumanto mengemukakan, metode genetik darah ini juga ingin menjawab keresahan di dunia pendidikan dan pertanyaan para guru mengenai apa sih yang menjadi sumber permasalahan ketika guru menghadapi anak-anak di kelas.

“Dengan kita mengerti ilmu ini, maka kita bisa memerdekakan anak-anak sebagai seorang pembelajar. Mereka jadi bisa mengerti guru-gurunya. Guru-gurunya juga bisa mengeksplor apa yang ada dalam diri siswa-siswanya. Jadi bener-bener anak itu dimanusiakan, atau memerdekakan siswa,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan Eva.

Ia menjelaskan bahwa metode genetik darah ini memiliki keunggulan yang tentunya membantu para guru di dunia pendidikan.

“Kita sudah bisa dapet petanya, namun belum ketemu muridnya. Tetapi dari genetik darah itu, guru sudah tahu, sudah paham, anak-anak itu bakatnya apa, mau diarahkan kemana. Sehingga nanti ketika bertemu dengan murid di kelas itu, guru sudah mendapatkan semacam gambaran petanya,” terang Eva.

Menurut Sumanto, metode ini penting. Karena di Indonesia belum pernah ada pendesainan kurikulum pendidikan dalam jangka panjang yang menggunakan perspektif golongan darah. Bahkan di negara-negara lain pun belum banyak dilakukan, atau masih terbatas di Jepang saja.

“Karena itu harapannya, ini bisa menjadi terobosan di tengah kebuntuan dunia pendidikan Indonesia yang jalan di tempat, tidak maju-maju. Apa salahnya kita mencoba mendesain dunia pendidikan kita. Proses belajar mengajarnya, atau nanti konten kurikulumnya, dan sebagainya dengan menggunakan perspektif golongan darah,” ucap Sumanto.

Pos terkait