WartaKita.org – Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Stephanus Sukirno mengadakan Sosialisasi Penguatan Demokrasi Daerah di Dukuh Kwangen, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Senin (18/12/2023) sore.
Sosialisasi ini dihadiri para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Desa Sumberejo dan sekitarnya.
Mewakili peserta sosialisasi, Andreas Budi Rustomo mengucapkan terima kasih kepada Stephanus Sukirno yang mau mengadakan Sosialisasi Penguatan Demokrasi Daerah di desanya.
“Selain itu, Pak Sukirno ini telah banyak membantu, memberikan bantuan aspirasi kepada masyarakat Kabupaten Klaten. Semoga Pak Sukirno selalu diberkati, dan besok jadi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah lagi,” katanya.
Budi Rustomo menyampaikan, pada 14 Februari 2024, bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilu, yaitu pemilihan legislatilatif (Pileg) dan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres).
“Saat itu akan menjadi hari yang istimewa. Karena ada tiga peristiwa penting bagi kita, yaitu pemilu, Hari Rabu Abu, dan juga Hari Valentine. Karena itu, kita harus gunakan momentum itu sebaik-baiknya,” ujarnya.
Mantan Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Jogonalan ini mengatakan, di tengah carut marut situasi dan kondisi bangsa yang seperti ini, maka warga harus terlibat dalam pemilu. Warga harus menjadi pemilih yang cerdas dan bijaksana.
“Seperti pesan Rama Franz Magnis Suseno, SJ, kalau calonnya semua baik, maka pilihlah yang terbaik. Tetapi kalau calonnya kurang baik, maka pilihlah calon yang sekiranya baik. Karena pemilu itu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi mencegah yang terburuk berkuasa,” tandasnya.
Sedang Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Stephanus Sukirno pada kesempatan itu mengemukakan, para guru di luar negeri merasa khawatir kalau anak didiknya tidak bisa atau tidak mau mengantri. Tetapi guru-guru di Indonesia lebih khawatir kalau anak didiknya tidak bisa Matematika.
“Padahal untuk mengajarkan Matematika hanya butuh beberapa kali pertemuan saja. Tetapi untuk mengajarkan anak agar bisa atau mau mengantri, itu butuh perlu proses lama. Karena ada banyak pelajaran yang baik ketika kita mau membiasakan atau membudayakan mengantri,” terangnya.
Mantan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang ini menerangkan, sebenarnya masyarakat sudah sering melaksanakan demokrasi di daerah. Seperti pada pemilihan Ketua RT, Ketua RW, pemilihan Kepala Desa, pemilihan Kepala Daerah, dan sebagainya.
“Pancasila menjadi prinsip dasar dari penerapan demokrasi di Indonesia. Demokrasi di Indonesia ini menganut prinsip kerakyatan, prinsip hikmat kebijaksanaan, prinsip permusyawaratan, dan prinsip perwakilan. Dengan prinsip perwakilan dalam demokrasi Indonesia, rakyat memiliki para wakil tersebut melalui pemilihan umum dalam rangka menyelenggarakan kehidupan bernegara,” jelasnya.









