Usung Tema Gaya Hidup Berkelanjutan, Siswa SMPN 1 Jogonalan Belajar Mengelola Sampah, Ubah Daun Kering Jadi Kompos

Para siswa SMP Negeri 1 Jogonalan sedang mengikuti kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mengusung tema Gaya Hidup Berkelanjutan dalam bijak mengelola sampah pada Rabu (20/9/2023).

WartaKita.org – Sebanyak 900 siswa dari Kelas VII, VIII, dan IX SMP Negeri 1 Jogonalan, Kabupaten Klaten mengikuti kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengusung tema Gaya Hidup Berkelanjutan dalam bijak mengelola sampah pada Rabu (20/9/2023).

Kepala SMPN 1 Jogonalan Endah Sulistyowati menjelaskan, kegiatan pengelolaan sampah ini menjadi bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang merupakan implementasi dari Kurikulum Merdeka.

Bacaan Lainnya

“Ada dua tema besar dalam kegiatan ini. Yang pertama terkait membangun jiwa raga dengan memotret tentang perundungan, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), dan lain-lain. Sedang yang kedua mengenai penguatan tentang P5 terkait tema gaya hidup berkelanjutan dalam bijak mengelola sampah. Ini kita pilih karena SMPN 1 Jogonalan merupakan sekolah Adiwiyata,” katanya.

Endah Sulistyowati menyampaikan, selama ini, kegiatan pengelolaan sampah dilakukan siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Adiwiyata.

Ia berharap, melalui kegiatan penguatan P5 ini pengelolaan sampah bisa dilakukan seluruh warga sekolah dengan terus menerapkan zero waste atau bebas sampah.

“Selama ini kita sudah melakukan pembiasaan di sekolah, seperti di kelas sampah sudah terpilah, serta pengelolaan sampah organik maupun nonorganik,” ujarnya.

Koordinator Kepala Sekolah Penggerak Kabupaten Klaten Angkatan I itu mengatakan, dalam kegiatan pengelolaan sampah ini, para siswa membentuk kelompok-kelompok untuk memproduksi pupuk organik.

Siswa dibebaskan untuk memanfaatkan wadah yang akan digunakan sebagai tempat memproduksi pupuk organik. Soal bahan baku, siswa juga dibebaskan menggunakan daun kering yang ada di lingkungan rumah masing-masing maupun daun kering di sekolah.

“Untuk target akhirnya, anak-anak bisa mengelola sampah di lingkungan rumah masing-masing. Mereka mendesain sendiri cara mengelola sampah menjadi pupuk organik. Dari situ para siswa mendesain ide, menggali nalar kritis, gotong-royong, dan lain-lain. Nantinya, yang dinilai adalah komposnya jadi atau tidak. Kalau tidak jadi, nanti dievaluasi bersama-sama,” terangnya.

Kepala SMPN 1 Jogonalan Endah Sulistyowati berfoto bersama hasil karya siswa.

WartaKita.org mengabarkan, para siswa itu membuat pupuk dengan membentuk kelompok-kelompok. Mereka mengumpulkan sampah organik berupa daun kering yang kemudian dicacah. Daun kering yang dicacah kemudian disusun menggunakan tanah serta diberi EM4 (Effective Microorganism-4) dan air gula. EM4 merupakan campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.

Sedang tempat untuk membuat pupuk organik itu beragam. Ada yang menggunakan galon bekas maupun kaleng cat bekas.

Salah satu siswa SMPN 1 Jogonalan, Nuriza mengatakan, pembuatan kompos pupuk dari daun kering itu menjadi pengalaman pertamanya.

Ia dan kelompoknya menyiapkan daun kering dan bahan lain seperti tanah, air cairan EM4, dan gula. Kemudian mereka menyiapkan tempat untuk membuat kompos. Daun kering itu ditumpuk tanah kemudian diberi EM4 dan cairan gula.

“EM4 kan bakteri dan sebagai makanannya dari gula. Tujuannya untuk mengurai sampah-sampah daun kering. Kemudian ditumpuk daun kering dan tanah lagi. Wadahnya pakai galon bekas. Selain membuat lingkungan bersih, kompos ini juga bisa berfungsi untuk menyuburkan tanah,” jelas siswa Kelas IX E itu.

Sedang Rio Julianzah mengemukakan, mengolah sampah daun kering menjadi pupuk organik bermanfaat untuk menyuburkan tanah. Pengelolaan sampah daun kering menjadi pupuk kompos dinilai lebih bermanfaat ketimbang dibakar yang justru menimbulkan asap dan mencemari udara.

“Sampah daun kering itu lebih baik dibuat menjadi kompos, karena berguna untuk lingkungan juga,” ucap siswa Kelas IX F ini.

Pos terkait