WartaKita.org – Wahid Foundation bersama Kelompok Kerja (Pokja) Desa Damai menggelar sarasehan dan peresmian women crisis center (WCC) di Gema Jaya Park Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten pada Kamis (2/2/2023).
Acara ini dihadiri perwakilan Pokja dari tujuh Desa Damai dampingan Wahid Foundation di Jawa Tengah.
Mereka adalah Desa Gemblegan (Kecamatan Kalikotes), Desa Nglinggi (Klaten Selatan), Desa Jetis (Klaten Selatan), Desa Jabung (Gantiwarno), Desa Telukan (Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo), Kelurahan Tipes (Kecamatan Serengan, Kota Surakarta) dan Desa Tingkir Lor (Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga).
Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menjelaskan, program Desa Damai ini diinisiasi untuk meneruskan cita-cita Gus Dur, yaitu menjadikan suatu negara yang adil, sejahtera, dan hidup yang nyaman.
“Desa Damai merupakan salah satu program Wahid Foundation yang memiliki tiga komponen, yaitu penguatan ekonomi, pelatihan untuk mencegah konflik, dan penguatan peran perempuan,” katanya.
Di Kabupaten Klaten, ada empat Desa Damai. Salah satunya adalah Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan. Nglinggi menjadi Desa Damai dampingan Wahid Foundation sejak Oktober 2017.
Dalam hal penguatan ekonomi, selama ini, Nglinggi mendapat berbagai program dan pendampingan. Seperti pelatihan bagi UMKM, penguatan modal, pendampingan dalam pemasaran, dan sebagainya.
“Hebatnya Wahid Foundation itu mendampingi (UMKM) dari membentuk kelompok, manejmen organisasi, pengolahan produk, pengelolaan keuangan usaha, ijin PIRT-nya, pengemasan produk, sampai pemasarannya. Jadi dari hulu sampai hilir didampingi. Kita juga dibantu alat dan dibantu modal lewat koperasi,” ungkap Kepala Desa Nglinggi, Sugeng Mulyadi.
Kepala Desa Nglinggi menjelaskan, ada 13 kelompok UMKM di Desa Nglinggi yang didampingi Wahid Foundation. Sebagian besar berbasis makanan. Seperti abon lele, rendang ikan tuna, manisan kolang-kaling, kerupuk, karak, makanan dari bahan ikan, makanan tradisional, minuman herbal jahe wangi, es kuwut, dan sebagainya.
“Bahkan, kita punya catering yang sudah bisa melayani orang punya hajatan, sering dipesan keluar desa. Menu spesialnya masakan-masakan Jawa, seperti sayur lodeh, sayur lombok ijo, dan sebagainya. Mereka juga punya kas kelompok,” ujarnya.
Sugeng Mulyadi menyatakan, kualitas berbagai makanan olahan produk UMKM Desa Nglinggi ini sudah bagus dan telah dikemas sedemikian rupa sehingga layak dipasarkan. Ijin PIRT dan lain-lainnya juga sudah ada. Hanya kendalanya di alat pengemasan kaleng. Sehingga mereka masih bekerjasama dengan pihak ketiga.
“Saya berharap dari kunjungan ini, Pemerintah melalui Bupati Klaten atau Kementerian Perindustrian bisa mengupayakan alat tersebut agar UMKM di Desa Nglinggi semakin dikenal, semakin laris, dan bisa mengangkat nama Kabupaten Klaten,” harapnya.
Sugeng berharap, dengan tumbuh dan berkembangnya banyaknya UMKM ini akan muncul semangat kewirausahaan warga untuk mendukung visi Nglinggi yaitu menjadi kawasan ekonomi baru melalui UMKM.
“Karena dengan keberadaan UMKM ini bisa meningkatkan pendapatan warga dan menyejahterakan masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, fasilitator pendamping UMKM Desa Damai Nglinggi, Sri Wardani menambahkan, berbagai makanan olahan produk UMKM Desa Nglinggi ini sudah dipasarkan ke mana-mana. Bahkan sudah diekspor ke sejumlah negara.
“Kita sebenarnya sudah bisa ekspor. Hanya saja, kita kurang bisa bersaing karena kendalanya di harga. Ini karena biaya pengemasan (kaleng) yang cukup tinggi. Kalau kita sudah punya mesin sendiri, saya yakin, usaha kita akan semakin maju dan berkembang,” ucap pemilik usaha es kuwut ini.









