DALAM berinteraksi, manusia membutuhkan alat untuk berkomunikasi supaya dipahami satu sama lain. Salah satunya yaitu dengan adanya bahasa.
Bahasa sangat penting dan merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan bahasa, seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain. Bahasa juga merupakan jembatan bagi seseorang untuk menambah pengetahuan yang akan didapat saat berkomunikasi dengan orang lain. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, maka akan semakin banyak pula interaksi yang didapat dari orang lain.
Di Indonesia terdapat berbagai jenis bahasa daerah. Terdapat lebih dari 700 bahasa yang tersebar di Indonesia. Karenanya, untuk mempersatukan hal tersebut, Indonesia mempunyai Bahasa universal yaitu Bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa nasional di Indonesia.
Namun dalam kenyataannya, masih banyak orang yang belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Bisa dari lingkungan, orang tua, dan keseharian yang jarang menggunakan Bahasa Indonesia.
Manusia pada dasarnya selalu mengalami perubahan karena adanya pengaruh dari berbagai faktor dan adanya perkembangan zaman yang sangat pesat. Hal ini menyebabkan banyak perubahan bahasa yang bermunculan. Contohnya adalah bahasa gaul.
Dapat dilihat, bahwa bahasa gaul telah menjadi bagian dari masyarakat yang mulanya menganggap bahwa kalimat tersebut alay, tapi sekarang banyak yang menggunakan bahasa tersebut.
Penggunaan Bahasa Indonesia semakin mengalami perubahan dengan maraknya penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja saat ini. Bahasa gaul dinilai lebih unik dan kekinian, sehingga para remaja menjadi lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan teman-teman mereka.
Bahasa gaul dinilai lebih “satu jiwa” dengan para remaja. Atau bahasa sederhananya, bahasa gaul adalah bahasa para remaja. Dan terkadang, bahasa gaul hanya dimengerti oleh (antar) kalangan remaja saja, dan menjadi bahasa mereka sehari-hari.
Selain itu, bahasa adalah suatu alat komunikasi untuk bersosialisasi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Bahasa juga dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan suatu gagasan atau mengungkapkan sebuah ide yang ada dalam diri seseorang.
Sering dijumpai, dalam kehidupan sehari-hari, sebagai makhluk sosial pasti mengalami suatu interaksi antara makhluk satu dengan lainnya, baik itu secara langsung ataupun tidak langsung. Hal inilah yang membuat masyarakat pengguna bahasa dituntut untuk dapat menjaga keutuhan Bahasa Indonesia.
Akan tetapi di kalangan anak milenial zaman sekarang, mereka menggunakan bahasa yang sangat beragam dalam penggunaan ragam bahasa. Anak remaja zaman sekarang cenderung memakai bahasa gaul saat berinteraksi. Banyak contoh ragam bahasa gaul yang dapat dijumpai di sosial media seperti Facebook, Tiktok, dan Twitter.
Ragam bahasa gaul ini umumnya digunakan dan dipakai sebagai sarana untuk berkomunikasi remaja belasan tahun dan sekelompoknya selama kurun waktu tertentu. Artinya, ragam bahasa gaul hanya digunakan pada masanya saja. Jadi kalau trend itu sudah tergantikan dengan ragam bahasa gaul yang lain, maka bahasa gaul yang digunakan itu sudah tidak terpakai lagi. Karena sudah tergantikan dengan ragam bahasa gaul yang baru.
Remaja memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi sangat diperlukan oleh kalangan remaja agar dapat menyampaikan gagasan atau hal yang sedang trending dibicarakan.
Kosakata bahasa gaul yang lahir dan muncul di lingkup remaja mempunyai makna yang sangat beragam. Hal ini dapat dilihat dalam segi pemakaiannya.
Lahirnya bahasa gaul ini juga dianggap sebagai hal yang sudah biasa dan wajar. Karena hal tersebut sesuai dengan perkembangan pada anak usia remaja dari masa ke masa yang sudah tahu beragam bahasa yang timbul dalam sosial media. Selain itu, penggunaan bahasa gaul juga dibilang sangat tidak terbatas. Karena bahasa yang muncul di sosial media itu otomatis akan menjadi top trending di kalangan para remaja Indonesia yang pandai bermain sosmed.
Bahasa yang dipakai dalam bahasa gaul merupakan bahasa yang sifatnya tidak resmi. Kemunculan bahasa gaul dalam pertumbuhan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah tidak perlu dikhawatirkan. Karena bahasa itu akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.
Fenomena bahasa gaul yang dipakai oleh para remaja dalam bersosial media ini menjadikan suatu perkembangan di era globalisasi. Karena hal itu menuntut remaja untuk dapat aktif menciptakan bahasa yang baru (up date). Ini merupakan penyebab dari pesatnya perkembangan bahasa gaul dan berkembangnya teknologi situs di sosial media.
Perlu diketahui, bahasa gaul yang telah digunakan oleh kalangan remaja, tanpa disadari dapat menggeser penggunaan Bahasa Indonesia yang baik di kalangan remaja. Ini sehubungan dengan maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan remaja dan terdengar alay dalam cakupan masyarakat luas. Akan tetapi, hal itu masih digunakan oleh remaja dalam bersosial media. Sehingga ini perlu adanya tindakan dari pihak yang peduli dengan eksistensi Bahasa Indonesia.
Seperti diketahui, ada bermacam-macam bahasa gaul yang muncul. Contohnya istilah pap yang artinya minta kirim foto, gamon artinya gagal move on, insecure artinya tidak percaya diri, santuy artinya santai, baper artinya bawa perasaan, mager artinya males gerak, bucin artinya budak cinta, gaje artinya gajelas, sasimo artinya sana sini mau, jamet artinya norak, dan sebagainya.
Selain itu, masih ada banyak lagi ragam bahasa gaul lainya yang menjadi bahasa plesetan. Seperti contohnya kata apa ditulis dengan kata affa, jijik menjadi jijay, dan gemes menjadi gemay. Contoh plesetan kata itulah yang “menghantam” pemakaian dan pembinaan bahasa.
Masyarakat melihat, remaja yang tinggal di perkotaan akan cenderung menggunakan bahasa gaul mereka saat berinteraksi dengan teman sebayanya. Seperti kata loe dan gue sudah menjadi bahasa keseharian mereka.
Tak hanya remaja saja, bahkan anak-anak pun sudah tahu tentang bahasa gaul di sekitarnya. Hal ini membuat perkembangan anak dirasa kurang sesuai dengan usianya yang terbilang masih anak-anak.
Berbeda halnya dengan remaja yang tinggal di desa. Selain mereka mengerti bahasa gaul sesuai perkembangan zaman, remaja yang hidup di desa lebih cenderung memakai bahasa daerah mereka untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sebayanya. Maka kebanyakan mereka menggunakan bahasa daerah.
Dalam fenomena ini, sebagai warga negara wajib untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia, agar Bahasa Indonesia tetap abadi dan tidak terkalahkan dengan bahasa-bahasa gaul tersebut.
Selain itu, masyarakat perlu menggunakan Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam bersosialisasi dengan lingkungan ataupun masyarakat. Ini demi menjaga keutuhan Bahasa Indonesia.
Lalu, bagaimana tanggapan mengenai bahasa gaul “Anjay”?
Seperti diketahui, kata “Anjay” merupakan salah satu kosa kata bahasa gaul yang sering digunakan dan dilontarkan oleh generasi millennial. Kata “Anjay”muncul pertama kalinya dan sudah banyak digunakan untuk mengikuti perkembangan dalam bermedia sosial selama beberapa tahun terakhir.
Bagi generasi milenial, kata “Anjay” bukan kosa kata yang dianggap baru. Karena kata “Anjay” akhir-akhir ini menjadi sorotan dan kontroversi. Makna dari kata “Anjay” ini sempat viral di sosial media karena sejumlah tokoh publik atau YouTuber yang menggunakan kata tersebut saat memulai vlog yang diunggah ke media sosial.
Karena seringnya kata “Anjay” diucapkan oleh kalangan anak dan remaja, maka menjadi sorotan dan menimbulkan asumsi masyarakat bahwa kata “Anjay” tersebut memang kurang pantas diucapkan. Hal ini dapat berpengaruh dalam meningkatnya penggunaan kata “Anjay” di masyarakat, terutama oleh generasi millennial.
Munculnya kata “Anjay” berawal dari salah satu konten yang dibuat oleh seorang YouTuber Indonesia bernama Lutfi Agizal. Dalam kontennya, Lutfi Agizal menyorot jargon, kata, dan bahasa gaul yang sedang viral diucapkan di media sosial, dan yang paling utama adalah kata “Anjay”.
Menurut Lutfi Agizal, kata “Anjay” mempunyai makna yang kasar. Bahwasanya kata “Anjay” adalah kata yang diperhalus dan diplesetkan dari arti sebenarnya yakni kata “Anjing”.
Berdasarkan fenomena penggunaan bahasa gaul, bahwa secara kepantasan atau kelaziman, kata “Anjay” dinilai kurang pantas jika dituturkan dan diucapkan dalam bahasa sehari-hari. Hal ini dinilai kurang baik dan kurang layak jika kata “Anjay” terus dipakai dan diucapkan untuk berkomunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Peran media sosial seharusnya dapat mengedukasi pemirsanya melalui sebuah konten edukasi yang ditampilkan. Sehingga apabila kata yang tidak enak untuk didengar secara terus-menerus dapat mempengaruhi pemirsanya untuk ditirukan tanpa pemirsa itu mengetahui terlebih dahulu apa makna dari kata tersebut. Degan kondisi masyarakat yang sangat beragam, kata “Anjay” sangat menimbulkan konflik dan kontroversi yang tinggi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007) mendefinisikan bahasa gaul sebagai dialek Bahasa Indonesia yang nonformal dan digunakan oleh komunitas tertentu sebagai cara bergaul dengan sesama. Macam kosakata bahasa ini timbul dari berbagai sumber, seperti dialek Indonesia Jakarta, bahasa prokem, bahasa daerah, dan bahasa asing. Selain itu, bahasa gaul dapat menciptakan ataupun melahirkan kosakata yang baru serta terbentuk melalui kaidah tertentu.
Praktik fenomena sosial yang dibahas didalam tulisan ini adalah penggunaan bahasa gaul di kalangan anak muda di Jakarta pasca Orde Baru, berkisar mulai usia belasan tahun atau bisa dibilang mulai dari anak SMP.
Mengapa anak muda? Karena bahasa gaul merupakan ragam bahasa yang erat kaitannya dengan anak muda. Dan mengapa di Jakarta? Karena Jakarta adalah ibu kota negara dan tempat dituturkannya bahasa Indonesia dialek Jakarta yang menjadikan varian paling dominan dengan digunakannya dalam komunikasi di berbagai ranah.
Mengapa pasca-Orde Baru? Karena pasca kejatuhan rezim Orde Baru, penggunaan bahasa gaul mulai memuncak pada kalangan anak muda. Bukti ini diperkuat sejak diterbitkannya Kamus Bahasa Gaul (1999) yang berisikan kosakata yang digunakan oleh para waria di Jakarta yang disusun oleh Debby Sehertian. Kemudian secara perlahan penggunaan kosakata itu merambah kalangan anak muda.
Di tahun 2005, bahasa “alay” muncul. Awalnya “alay” berasal dari singkatan anak layangan, yaitu anak “kampungan” karena bermain layang-layang. Kata “alay” pertama kali muncul dalam jejaring sosial Friendster.
Ketika bahasa gaul digunakan, para penutur mempunyai kesadaran tentang mengapa mereka memilih untuk menggunakan bahasa tersebut.
Selama berada di bangku sekolah, mereka selalu diemban dan diajarkan aturan berbahasa yang baik dan benar. Namun, ternyata bahasa itu hanya dipakai pada saat kesempatan tertentu saja. Seperti di luar sekolah dan di rumah saja. Bahasa yang mereka pelajari di sekolah ditanggalkan begitu saja. Mereka mulai menggunakan bahasa yang santai dan terlepas dari aturan.
Begitupun ketika mereka sedang berhadapan dengan orangtua. Mereka segera mengubah bahasa mereka dengan bahasa yang hanya dapat diketahui oleh kelompoknya. Terutama ketika pembicaraan mereka berkaitan dengan sesuatu hal yang tabu atau berbau rahasia, sehingga bahasa yang mereka gunakan menjadi sebuah bahasa sandi dengan kelompoknya.
Berdasarkan hal tersebut, penulis menyimpulkan bahwa dalam kehidupan dan berkomunikasi, berbahasa bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga orang lain. Maka dari itu, alangkah baiknya masyarakat dapat berbahasa dengan baik dan benar, dan harus disesuaikan dengan lawan bicara.
Jika terdapat kata yang lebih sopan, maka gunakanlah kata yang santun. Satu hal yang perlu diingat adalah bijaklah dalam berbahasa karena bahasa merupakan jati diri masyarakat sebagai Bangsa Indonesia. (*)
Penulis : Serli Novita Sari, Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia (TBI), Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta.









