Cegah Stunting, Agar Bonus Demografi Jadi Berkah, Bukan Musibah

Anggota Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen saat menyampaikan materi pada kegiatan Promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting di Balai Desa Kujon, Rabu (26/10/2022) sore.

WartaKita.org – Promosi dan KIE (komukikasi, informasi, dan edukasi) Program Percepatan Penurunan Stunting bersama Anggota Komisi IX DPR RI, Muchamad Nabil Haroen digelar di Balai Desa Kujon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Rabu (26/10/2022) sore.

Kegiatan promosi dan KIE ini merupakan kerjasama antara DPR RI, BKKBN Perwakilan Jawa Tengah, dan Komunitas Omah Sambung Klaten.

Bacaan Lainnya

Hadir dalam kegiatan ini diantaranya Anggota Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen, Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN Pusat Edi Setyawan, Widyaiswara BKKBN Perwakilan Jawa Tengah Suwarno, Kepala DissosP3APPKB Kabupaten Klaten Muh Nasir, Camat Ceper Seniwati, Kades Kujon Sumardi Mardiyanto, warga Desa Kujon dan sekitarnya, serta undangan lainnya.

Camat Ceper Seniwati dalam sambutan selamat datang mengucapkan terima kasih kepada Anggota Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen dan BKKBN Perwakilan Jawa Tengah yang telah mau mengadakan kegiatan promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting di Desa Kujon ini.

“Mengapa kegiatan ini diadakan di Desa Kujon? Karena Desa Kujon merupakan locus stunting di Kecamatan Ceper. Selama ini memang sudah banyak program dan kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan stunting di desa ini. Kegiatan ini merupakan “rasa sayang” beliau (Muchamad Nabil Haroen) kepada warga Desa Kujon,” katanya.

Kepala DissosP3APPKB Kabupaten Klaten Muh Nasir mengajak para orangtua untuk memperhatikan kecukupan gizi bagi anak-anaknya agar terbebas dari stunting.

Sedang Kepala DissosP3APPKB Kabupaten Klaten Muh Nasir menyampaikan, harta yang paling berharga bagi keluarga adalah anak. Maka, anak-anak harus diperhatikan kecukupan gizinya agar terbebas dari stunting.

“Stunting adalah gagal tumbuh kembang anak. Gagal perkembangan terkait pemikiran, dan gagal pertumbuhan terkait fisik. (anak) Stunting itu pendek, tetapi (anak) pendek belum tentu stunting. Maka, intinya pada pencegahan stunting, yaitu saat sebelum menikah dan ketika anak belum berusia 2 tahun,” ujarnya.

Dalam pemaparan materi, Widyaiswara BKKBN Perwakilan Jawa Tengah Suwarno menyatakan, berdasarkan data, di Kabupaten Klaten terdapat sekitar 3000 bayi di bawah dua tahun (baduta), dan sekira 2300 ibu hamil (bumil).

“Stunting di Klaten masih di angka 15,8 persen. Maka, kita perlu berupaya keras agar stunting di Klaten ini turun, dan berada di angka 14 persen, seperti target Pemerintah. Karena itu, perkawinan harus dipersiapkan dengan baik. Calon pengantin harus memenuhi persyaratan. Kalau calon orangtua belum siap punya anak, maka disarankan untuk memakai alat kontrasepsi terlebih dulu,” pesannya.

Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN Pusat Edi Setyawan menjelaskan perlunya mempersiapkan Generasi Emas 2045.

Sedang Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN Pusat Edi Setyawan menjelaskan, Indonesia sudah dinilai sukses dalam program Keluarga Berencana (KB) dari PBB. Meski begitu, Pemerintah dan masyarakat masih punya pekerjaan rumah (PR) besar, yaitu mempersiapkan Generasi Emas 2045, yakni generasi yang unggul dalam segala bidang.

“Untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 itu, salah satu caranya dengan mencegah dan mengatasi stunting. Karena stunting jadi momok bagi bangsa. Sebab jika generasi mendatang itu tidak produktif, dan sakit-sakitan, maka beban negara akan semakin besar. Maka saya berharap, sosialisasi mengenai stunting ini juga ditansfer (dibagikan) ke ke kerabat, teman, grup, kolega, dan sebagainya,” tandasnya.

Sementara itu Anggota Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen mengatakan, untuk mencegah dan menurunkan stunting diperlukan upaya (ikhtiar) jasmani dan rohani.

“Pemerintah tidak bisa sendiri. Harus ada kerjasama dan dukungan dari semuanya (untuk mencegah dan menurunkan stunting). Kita ingin, generasi mendatang menjadi putra-putri yang sehat, cerdas dan kuat seperti lirik dalam mars Keluarga Berencana. Sehingga mereka akan menjadi harapan bangsa. Bukan menjadi beban bangsa. Dengan demikian, bonus demografi (di tahun 2030) menjadi berkah bagi kita, bukan menjadi musibah,” tandasnya.

Pos terkait