Ngangsu Kawruh, BUMDes Manunggal Trucuk Belajar Bersama Di Pasung

Rombongan dari Desa Trucuk berfoto bersama dengan Kepala Desa dan pengelola BUMDes Lumintu Pasung di Pemancingan dan Rumah Makan Tirto Mili Pasung, Sabtu (29/1/2022) sore.

WartaKita.org – Ada banyak cara bisa dilakukan untuk memajukan atau mengembangkan diri.

BUMDes Manunggal Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten ini misalnya.

Bacaan Lainnya

Mereka ngangsu kawruh (menimba ilmu) ke BUMDes Lumintu Desa Pasung, Kecamatan Wedi mengenai cara mengelola BUMDes di Pemancingan Tirto Mili Pasung, Sabtu (29/1/2022) sore.

Ikut dalam rombongan dari Desa Trucuk ini diantaranya Ketua BPD Trucuk (yang sekaligus sebagai Pengawas BUMDes) Sarwidhi, Direktur BUMDes Manunggal Trucuk Nanang WP Safari dan pengurus lainnya, Perangkat Desa, dan sebagainya.

Direktur BUMDes Manunggal Trucuk Nanang WP Safari dalam pengantar mengatakan, kedatangan mereka ke BUMDes Lumintu Desa Pasung ini untuk belajar mengenai pengelolaan BUMDes.

“BUMDes Manunggal Trucuk ini sudah berdiri sejak tahun 2019. Selama ini, usahanya adalah fotocopy, jualan sembako, dan simpan pinjam. Maka, kedatangan kami ke sini (Pasung) untuk griyak-griyak (berusaha bergerak). Untuk ngangsu kawruh (menimba ilmu) ke BUMDes Lumintu Desa Pasung,” katanya.

Sedang Ketua BPD Trucuk Sarwidhi menyatakan, Desa Trucuk memiliki Blumbang Jolodoro. Selama ini, blumbang tersebut untuk budidaya ikan. Setelah ikan dirasa cukup besar, kemudian diadakan lomba mancing.

Nah, kami ingin agar Blumbang Jolodoro itu tidak hanya untuk lomba mancing. Tetapi bisa mendatangkan pendapatan bagi desa secara lebih rutin. Apalagi di sekitar blumbang itu ada warung yang disewakan ke pihak lain untuk jualan soto, pecel, dan lain-lain. Kami ingin blumbang itu bisa memberi nilai tambah kepada desa dan masyarakat,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa (Kades) Pasung Sumarsono “Ambon” menyambut baik kedatangan dan keinginan belajar dari rombongan Desa Trucuk ini.

“Terus terang, kami lebih sreg untuk menyebut belajar bersama, bukan studi banding. Karena kami (BUMDes Lumintu Pasung) juga belum lama berdiri dan masih belajar bersama. Kalau mau studi banding, bisa ke BUMDes-BUMDes yang sudah lebih maju,” ucapnya merendah.

Rombongan dari Desa Trucuk berfoto bersama di Agrowisata Desa Pasung, Sabtu (29/1/2022) sore.

Kades Pasung Sumarsono menjelaskan, bagi desa yang potensi alamnya minim, memang harus kreatif. Mereka harus mau belajar ke mana saja untuk mengembangkan potensi yang ada di desa.

“Tetapi yang paling penting adalah, Kades, BPD, dan BUMDes harus nyekrup dulu. Mereka harus sepakat dan seia sekata. Selain itu, Kades juga harus berani mengambil keputusan. Sebab kalau Kades tidak berani memutuskan, selamanya desa itu juga akan stagnan,” jelasnya.

Sumarsono menambahkan, dari awal, BUMDes Lumintu Pasung memilih mengembangkan konsep Agrowisata. Karena sebagian besar wilayah Desa Pasung itu terdiri dari areal pertanian. Selain itu, Pemdes Pasung juga ingin menarik minat generasi milenial untuk mau bertani.

“Kami memilih mengembangkan agrowisata. Karena kalau kami bergerak di usaha toko, PPOB (Payment Point Online Banking), dan sebagainya, pasti akan ada benturan dengan (usaha) masyarakat. Dan juga, tidak ada tantangan. Makanya, kami memilih mengembangkan agrowisata, dengan ditopang pemancingan dan rumah makan Tirto Mili,” paparnya.

Sementara itu Manajer Pemancingan dan Rumah Makan Tirto Mili, Sentot Wijayanto menerangkan, konsep agrowisata ini memang tidak sekali jadi. Tetapi terus berproses dan ada penyempurnaan di sana-sini.

“Awalnya, di kanan kiri jalan desa ini hanya ditanami pohon Glodog Pecut untuk penghijauan. Tetapi kemudian diganti dengan tanaman buah. Akhirnya, jadilah Agrowisata Desa Pasung. Di sepanjang jalan sekitar 4,3 km ini, sekarang sudah ada 1000 lebih tanaman buah, terutama nangka,” terangnya.

Sentot Wijayanto mengemukakan, pada 25 Januari lalu, Desa Pasung mendapat dua Surat Keputusan (SK) dari Bupati Klaten sekaligus, yaitu SK Desa Wisata dan Desa Miskin ekstrim.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemdes dan warga Desa Pasung. Maka, harus ada sinergi dari semua pemangku kepentingan,” ucapnya.

Pos terkait