Hebat! Setiap Minggu, 15 Ton Ikan Nila Dari Klaten Dikirim Ke Papua, Diminati Konsumen Cina

Yustina Kusmanti menunjukkan ikan nila warna hitam yang biasa dikirim ke Papua, Selasa (28/12/2021).

WartaKita.org – Ikan nila dari Kabupaten Klaten ternyata diminati warga Papua.

Buktinya, dalam satu minggu, UD Putra Papua yang berlamatkan di Dukuh Brambangan RT 02 RW 04, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten ini mampu mengirim 15 ton ikan nila frozen (beku) ke wilayah timur Indonesia itu.

Bacaan Lainnya

Owner UD Putra Papua, Yustina Kusmanti saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (28/12/2021), menjelaskan, usaha pemotongan ikan dan ayamnya itu dimulai pada tahun 2008. Sejak awal, pemasaran usahanya memang ke Papua.

“Dulunya, order (ikan) dari Papua itu kita ambil dari Pasuruan (Jawa Timur). Seiring waktu berjalan, kita lihat, ternyata prosesnya (pemenuhan order) itu nggak terlalu sulit. Sepertinya, ini bisa kita lakukan. Setelah itu, kita berpikir, kenapa tidak kita produksi sendiri. Klaten kan terkenal sebagai penghasil ikan di Indonesia,” katanya.

Yustina Kusmanti kemudian mendatangi para petani ikan di daerah Ponggok (Kecamatan Polanharjo). Dia lalu menemui Fajar, salah satu petani ikan di Ponggok.

Saat bertemu Fajar, Kusmanti minta untuk dicarikan ikan nila yang warnanya hitam. Karena untuk kedepannya, pemasaran ikan nila warna hitam dinilai akan lebih bagus daripada lele.

“Soalnya permintaan ikan nila untuk setiap dua minggu sekali sudah delapan ton. Dan selama ini diambil dari Pasuruan,” ujarnya.

Akhirnya, petani ikan di Ponggok (dan sekitarnya) bersepakat untuk menyediakan ikan nila hitam. Namun seiring waktu berjalan, setoran ikan nilai hitam ini terus menyusut.

Karena itu, para petani ikan ini dikumpulkan lagi. Mereka ditanya, mengapa setoran ikan nilai hitamnya menyusut? Ternyata, ada permasalahan pada bibit ikan.

Sejumlah pekerja UD Putra Papua sedang membersihkan sisik dan jeroan ikan nila, Selasa (28/12/2021).

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kusmanti kemudian minta Pokphand (produsen pakan dan pengembangbiakan) untuk mengusahakan bibit ikan nilai hitam. Akhirnya, permasalahan ini bisa teratasi. Bibit ikan nilai hitam itu dibudidaya di Kediri (Jawa Timur).

“Ada sekitar 50 petani ikan yang saya gandeng. Mereka dari Desa Ponggok, Janti, dan Nganjat. Mereka minta bibit ikan berapa pun akan kita penuhi. Kemudian, mereka nanti setor ikan ke kita sesuai ukuran yang kita maui,” terangnya.

Kusmanti menyampaikan, setiap minggu, UD Putra Papua mengirim ikan nila hitam satu kontainer kapasitas 15 ton ke Papua. Meski masih pandemi Covid-19, namun permintaan ikan nila hitam tidak berpengaruh.

“Konsumen di Papua itu lebih suka ikan dari Klaten. Kenapa? Karena ikan dari Klaten itu punya banyak keunggulan. Satu, tidak bau tanah. Dua, ketebalan dagingnya oke. Dan tiga, kekenyalan dagingnya juga oke,” tandasnya.

Kusmanti menerangkan, ada sejumlah proses atau tahapan sebelum ikan itu dikirim ke Papua.

Begitu ikan dari Ponggok itu tiba di Brambangan, ikan tersebut lalu dijaring dan ditimbang. Setelah itu, sisik dan jeroan ikan itu dihilangkan. Kemudian ikan itu dicuci. Sebelum dicuci, ikan itu dikocor dengan air dari kran. Ini untuk menghilangkan kotoran yang ada pada ikan tersebut.

Selanjutnya, ikan dimasukkan ke ember pencucian yang pertama, yang kedua, dan yang ketiga. Dan di ember pencucian yang terakhir itu, ikan dicuci dengan es batu. Supaya ikan menjadi dingin dan siap dimasukkan ke fresher.

Saat dimasukkan ke fresher, setiap satu ekor ikan di-packing satu plastik, supaya tidak kelet. Setelah itu, ikan langsung masuk fresher.

“Di sini ada 36 fresher. Setelah di-fresher satu hari satu malam. Besok paginya, sekitar jam 10.00, ikan itu dibongkar, dan kita kemas. Satu karung diisi 35 kg ikan. Lalu kita simpan di costorage. Kalau kita mau loading akan ada pengiriman, maka ikan sudah siap (dikirim). Ada pintu khusus untuk mengeluarkan ikan itu,” paparnya.

Yustina Kusmanti menunjukkan ikan nila warna hitam yang sudah di-packing, Selasa (28/12/2021).

Warga Dukuh Kebonagung, Desa Ceporan ini menyatakan, UD Putra Papua mempunyai 25 karyawan. Dan semuanya adalah warga Desa Ceporan.

“Kita ingin memberdayakan warga di sini. Untuk jam kerjanya dari pukul 10.00 WIB sampai selesai, sekitar pukul 17.00 WIB,” katanya.

Kusmanti menambahkan, kedepan, dirinya ingin mengembangkan produksinya. Karena itu, dia ingin mencari lahan dulu dengan kriteria, satu ada sungai besar. Dua, ada akses truk kontainer bisa masuk. Dan tiga, ada jaringan listrik tiga pas. Soalnya, semua kriteria itu saling berkaitan.

“Kemarin dari Surabaya minta sampel (contoh produk) untuk pengiriman ke Cina. Tetapi kita belum siap. Karena proses perijinan untuk ekspornya belum siap. Dan kapasitas produksi kita juga belum siap. Kalau kapasitas produksi kita sudah mencapai 5 ton, baru kita berani ekspor. Semoga dalam waktu lima tahun ke depan, kita sudah bisa ekspor,” harapnya.

Apa yang dilakukan UD Putra Papua ini diapresiasi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Klaten Ny Endang Samiasih Yoga Hardaya.

“Kami menyambut baik dan mengapresiasi usaha keras dari Bu Yustina Kusmanti ini. Bagaimana dia mengirim barang-barang (dagangan) dari Klaten ke Papua. Seperti daging ayam, ikan nila, makanan ringan (snack), keripik, dan sebagainya. Sehingga keberadaan UD Putra Papua ini sangat membantu masyarakat. Karena pertama, mengurangi banyak pengangguran. Dan kedua, membantu pemasaran produk UMKM dari Klaten,” ucapnya.

Pos terkait