Padepokan Samber Gelap Bakungan, Karangdowo Lakukan Edukasi Kepada Masyarakat, Bangkitkan Kekuatan Dari Alam Bawah Sadar

Pendiri Padepokan Samber Gelap, Agus Krisnanto Wisnu Diatno (kiri) mendampingi warga yang berlatih mematahkan besi cor di rumahnya, Rabu (29/9/2021).

WartaKita.org – Selama ini, di masyarakat banyak berkembang praktek perdukunan yang “menyesatkan”. Para dukun atau “orang pintar” itu sering meng-klaim, apa yang dilakukannya itu adalah gaib atau digaib-gaibkan.

Maka, Padepokan Samber Gelap yang berada di Dukuh Bakungan RT 08 RW 04, Desa Bakungan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten ini hadir untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mudah percaya dengan sesuatu yang digaib-gaibkan oleh para dukun itu.

Bacaan Lainnya

Pendiri Padepokan Samber Gelap, Agus Krisnanto Wisnu Diatno saat ditemui di rumahnya pada Rabu (29/9/2021), menyampaikan, tujuan didirikannya padepokan ini untuk membangkitkan kekuatan dari alam bawah sadar.

Menurutnya, setiap manusia itu mempunyai kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya. Tetapi, tidak semua orang bisa membangkitkan kekuatan alam bawah sadar itu.

Lha, kekuatan yang terpendam itu kita bangkitkan di sini (padepokan). Sehingga kekuatan yang timbul itu adalah keyakinan, kepercayaan diri, dan sebagainya,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Bakungan ini menyatakan, karena Padepokan Samber Gelap ini ingin mengedukasi masyarakat, maka pihaknya mendapatkan “tentangan” dari para dukun yang melakukan praktek “sesat” itu.

“Musuh kita itu ya dukun-dukun itu. Mereka yang melakukan praktek-praktek perdukunan yang menyesatkan. Sebenarnya, ini produk dari alam bawah sadar, tetapi diklaim, ini gaib. Banyak yang digaib-gaibkan, dan dibanget-bangetke. Misalnya, saya bisa memecahkan herbel sembilan. Kalau kita yakin, percaya diri, pasti herbel itu bisa pecah,” ujarnya.

Agus Krisnanto Wisnu Diatno mengatakan, untuk menghilangkan keraguan, kekhawatiran, was-was, dan menambah keyakinan pengikutnya, maka padepokan ini memberikan banyak pelatihan kepada pengikutnya.

“Seperti pelatihan berjalan di atas paku, tidur di atas paku dan dibodem, berjalan di atas pecahan kaca, tidur di atas pecahan kaca dan dibodem, berjalan di atas bara api, menjilati bara api, memecah botol, memecah botol pakai tangan, memecah herbel pakai tangan satu, dan sebagainya. Kalau kekuatan (alam bawah sadar) itu sudah terbangkitkan, maka keyakinan dan kepercayaan diri seseorang itu lurus,” tandasnya.

Kades Bakungan tiga periode ini mengemukakan, di masyarakat, ada banyak praktek “sesat” yang masih dipercaya warga.

“Misalnya ada keluarganya yang (mengalami) sakratul maut dan tidak segera meninggal. Lalu dicarikan dukun, orang pintar. Kemudian diambil ada “cekelan” atau jimat. Padahal tidak seperti itu yang terjadi. Ada juga seseorang yang sakit dan tidak sembuh-sembuh. Jangan-jangan terkena gangguan. Lalu mereka ke dukun,” ungkapnya.

Maka, imbuh Agus, Padepokan Samber Gelap ini hadir untuk mengedukasi masyarakat.

“Kalau di (padepokan) sini itu mengedukasi. Maka pengobatan yang dilakukan disini itu seperti rukiyah, hypno, bekam, totok jalur listrik, dan sebagainya. Paling output kita “membersihkan” rumah, mengobati orang sakit, dan lainnya. Nah, kita ingin meluruskan orang-orang yang “salah” itu. Sehingga “menarik uang” itu tidak ada. Hukum alam mengatakan, kalau ingin punya uang itu ya bekerja. Jadi tidak menarik uang. Tetapi saya bisa membuktikan bagaimana sarung dikebutkan dan keluar uangnya. Itu biasa. Cuma kalau di sini (padepokan) itu mengedukasi,” terangnya.

Agus Krisnanto Wisnu Diatno menunjukkan sertifikat pelatihan yang pernah diikutinya, Rabu (29/9/2021).

Suami dari Lestari, Staf Kantor Kecamatan Karangdowo ini mengutarakan, kegiatan yang dilakukan padepokan ini lebih ke kegiatan sosial kemanusiaan. Sedang kegiatan rutin yang dilakukan diantaranya pelatihan pengobatan, olah nafas, dan lain-lain.

“Maka, praktek-praktek yang dilakukan di perdukunan-perdukunan itu saya anggap gosip. Jadi, kita mengedukasi bahwa yang seperti itu tidak ada. Mula, aja gampang percayan, aja gumunan, aja kagetan, mundak gampang kapusan,” pesannya.

Bapak dua orang anak ini mengutarakan, pelatihan yang dilakukan di padepokan ini lebih ke hypno atau membangkitkan alam bawah sadar.

“Semula, ada orang yang takut bila dikepruk botol. Lalu dikuatkan sugestinya. Jadi tidak apa-apa saat dikepruk botol. Itu semua untuk membuat otoritas. Kalau sudah punya otoritas, kita arahkan ke pelatihan hypno lainnya. Tetapi kalau hypno-nya tidak benar, ya larinya ke gendam di jalanan. Membohongi orang. Padahal kalau hypno itu sederhana. Tetapi pemahaman orang itu beragam. Padahal sebenarnya, yang dipakai adalah sugesti. Jadi, sugesti itu sangat dahsyat,” tegasnya.

Pria yang punya hobby memelihara burung ini menambahkan, banyak warga yang berobat ke padepokannya. Seperti sakit stroke, syaraf terjepit, dan sebagainya.

“Yang tidak saya terima itu pasien yang pernah operasi. Misalnya, minta tolong untuk mengobati lutut, tetapi lututnya pernah dioperasi. Sudah di pen. Atau orang yang terlalu lemah, atau terlalu tua. Kalau selain itu, insya Allah bisa sembuh. Sudah ribuan pasien yang datang dan sembuh. Kebanyakan nyeri lutut, syaraf kejepit di punggung, di pinggang, di tulang ekor, nyeri kepala, nyeri dada (sering diklaim asam lambung), nyeri perut, hernia, kanker, dan lain-lain,” paparnya.

Pria yang senang tanaman bonsai ini menambahkan, pusat Padepokan Samber Gelap ini berada di Bakungan. Sedang cabang padepokan ada di Salatiga, Jakarta, Wonogiri, dan lainnya.

“Kita tidak cari pengikut seperti padepokan pada umumnya. Karena yang kita cari bukan kuantitas, tetapi kualitas. Sithik ning mentes. Kedepan, kita ingin dan sedang membangun madrasah dan Pondok Pesantren di Slogohimo (Kabupaten Wonogiri),” jelasnya.

Agus menyebut, dirinya sudah “malang melintang” di daerah Wonosobo, Cirebon, Pati, Banyuwangi, dan lainnya. Sedang pengikutnya dari Aceh sampai Madura.

“Saya sudah jelajah banyak daerah selama delapan tahunan. Terus, saya melihat perilaku masyarakat itu banyak yang salah atau sesat. Akhirnya, yang putuskan untuk mendirikan Padepokan Samber Gelap Bakungan untuk mengedukasi masyarakat, dan membangkitkan kekuatan dari alam bawah sadar,” ucapnya.

Pos terkait