PERKEMBANGAN teknologi saat ini berjalan sangat pesat.
Media sosial adalah salah satu contoh perkembangan teknologi dunia. Dimana didalamnya manusia dapat dengan mudah berbagi, berpartisipasi, menggali informasi, dan berkomunikasi.
Namun di balik semua kecanggihan dari media sosial itu, secara tidak sadar, media sosial membawa candu dan sisi negatif dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Para pengguna jejaring media sosial yang mengunggah foto pribadinya dan mendapatkan respon publik berupa “like” misalnya, secara tidak sadar akan membuat candu bagi para pengguna jejaring media sosial tersebut. Mereka akan cenderung memposting foto pribadinya kembali yang lebih bergengsi untuk mendapatkan respon publik berupa “like” di media sosial yang lebih banyak lagi.
Bahkan, ada beberapa para pengguna media sosial tersebut sampai rela berpergian keluar kota, makan di restoran mahal terkenal, dan menginap di hotel mewah, lalu mengekspos dirinya hanya untuk mendapatkan “like” di media sosial.
Mendapatkan “like” yang lebih dari biasanya menjadi salah satu kepuasan bagi pengguna jejaring media sosial. Mereka akan merasa senang dan puas saat mendapatkan “like” yang terus bertambah dan ingin selalu meningkatkan “like” di media sosial tersebut dengan cara apapun.
Dengan demikian secara tidak sadar media sosial sudah menjadi candu bagi mereka. Mengapa disebut candu?
Karena para pengguna cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkan kepuasan diri di media sosial berupa “like”. Terkadang, mereka bisa menghalalkan segala cara, dan apabila hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, mereka bisa merasa kecewa dan menganggap bahwa reputasi mereka di media sosial sudah menurun.
Tidak hanya itu, apabila pengguna media sosial sudah kecanduan, mereka juga bisa termakan atau tertipu oleh para pengguna yang lain. Dengan demikian, mereka cenderung akan membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain.
Alhasil, mereka tidak menjadi diri sendiri. Mereka merasa kesepian, dan iri hati timbul dalam diri para pengguna jejaring media sosial. Ini sangat tidak sehat bagi kesehatan mental seseorang. Bahkan, mereka bisa termakan moment atau suasana orang lain yang belum tentu sesuai dengan realita yang sebenarnya.
Membatasi penggunaan media sosial adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menahan kencanduan dan pikiran-pikiran negatif dalam diri kita. Seperti yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Nadiem Makarim.
“Ketika saya memilih untuk tidak memiliki media sosial atau berpuasa media sosial, saya merasa hidup saya lebih tenang, otak dan hati saya lebih merasa adem,” katanya pada acara live di Mata Najwa, (1/12/2019).
Dengan cara demikian, kita akan lebih bisa fokus dalam mengerjakan tugas-tugas di setiap hari, merasa lebih percaya diri, dan dapat melakukan interaksi sosial dengan teman yang lebih dalam. Interaksi sosial tidak lagi dilakukan didalam media sosial atau media chatting. Dengan membuat suatu jadwal untuk bertemu dan berbincang-bincang secara langsung akan memberikan pengaruh yang lebih positif terhadap perteman dan diri sendiri.
Hal ini patut dicoba oleh para pengguna jejaring media sosial yang aktif dan hidup di era yang serba digital modern ini. Manusia juga harus mulai sadar dengan fenomena media sosial yang ada saat ini, dengan mulai memperhatikan dampak negatif yang akan timbul bagi para penggunanya.










