WartaKita.org – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah proses pemilihan untuk mendapatkan pemimpin yang legitimate (sah) dengan proses yang bersih. Karena itu, adanya dugaan keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Kepala Desa (Kades) sangat disesalkan.
Pernyataan ini disampaikan Bakal Calon Bupati (Bacawabup) Klaten Muhammad Fajri dalam acara nongkrong bareng dengan wartawan di Angkringan 31 Jalan Rajawali nomor 31 Bareng, Kabupaten Klaten, Senin (21/9/2020) siang.
“Masyarakat itu butuh pemimpin dengan legitimasi yang kuat. Pemimpin dengan legitimasi yang kuat, yang terpilih dalam sebuah pemilihan (Pilkada) yang bersih, bukan sekadar perolehan suaranya yang besar. Memperoleh suara yang besar, tetapi tidak dengan proses yang bersih, itu tidak legitimate. Kalau pemimpin itu tidak legitimate, maka potensi kerawanan sesudahnya akan sangat besar,” katanya.
Bacawabup pasangan One Krisnata ini menyatakan, salah satu yang meruntuhkan legitimasi itu ketika pasangan calon atau siapapun memanfaatkan ASN. Karena ASN tidak diperbolehkan aktif di dalam politik praktis. Termasuk pemanfaatan anggaran (APBD) yang tidak pada tempatnya.
“Jauh sebelum ini, sudah mencuat saat virus corona muncul. Tentang hand sanitizer misalnya. Nah, yang seperti itu yang disayangkan pasangan ORI (One Krisnata – Muhammad Fajri). Pasangan ORI penginnya kompetisi (Pilkada) besok itu kompetisi yang sehat,” tandasnya.
Direktur PT Taman Sakura Tawangwangu itu mengatakan, fakta selama ini menunjukkan bahwa dalam proses dan tahapan Pilkada Klaten telah terjadi pelanggaran. Karenanya, dia tidak perlu mengatakan ada kecurangan atau tidak dalam Pilkada Klaten ini.
“Sudah mengemuka pernyataan Lurah Gergunung misalnya. Dan sedang bergulir, dua pejabat ASN yang dilaporkan Bawaslu. Ini yang terjadi di ASN. Yang di luar ASN, misalnya (dugaan) kerlibatan kepala desa. Saya nggak perlu sebut data, karena kejadian ini sudah ada. Ini sangat disesalkan,” ujarnya.
Bapak tiga anak ini menyampaikan, semua pasangan calon Pilkada itu harus siap menang dan siap kalah. Karena dalam pertandingan adanya hanya menang dan kalah.
“Menang atau kalah itu akan dapat diterima oleh masyarakat, ketika prosesnya (Pilkada) sehat. Kalau ORI inginnya menang dengan proses yang sehat. Sehingga pemenangnya legitimate,” harapnya.









