WKRI Klaten Adakan Seminar Kebangsaan, Rama Sugihartanto: Jadilah Pemilih Yang Cerdas Dan Bijaksana…

Rama Raymundus Sugihartanto, Pr berfoto bersama aktifis DPC WKRI Kabupaten Klaten usai Seminar Kebangsaan di Gedung Eka Kapti Klaten, Jumat (8/12/2023) sore.

WartaKita.org – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Kabupaten Klaten, Jawa Tengah  menggelar Seminar Kebangsaan dengan tema “Strategi menghadapi Pemilu tahun 2024 menuju Indonesia Damai” dan sub tema “Menjadi pemilih yang cerdas dan bijaksana” di Gedung Eka Kapti Klaten, Jumat (8/12/2023) sore.

Bertindak sebagai narasumber seminar kali ini adalah Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Kabupaten Bantul, Rama Raymundus Sugihartanto, Pr.

Bacaan Lainnya

Pengurus DPC WKRI Kabupaten Klaten, Emmanuela Maria Rudatiningrum Quin Putranti dalam sambutan menyampaikan, pada tanggal 14 Februari 2024, bangsa Indonesia akan melaksanakan Pemilu, yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

“Menjelang Pemilu, belakangan ini kondisi perpolitikan kita tidak sedang baik-baik saja. Di kampung sudah banyak gunjingan sana, gunjingan sini. Tetapi apapun, kita sebagai bangsa Indonesia, harus menggunakan hak pilih kita dengan baik dan bertanggung jawab. Kita harus menjadi pemilih yang cerdas dan bijaksana,” katanya.

Narasumber Seminar Kebangsaan, Rama Raymundus Sugihartanto, Pr menjelaskan, Katekese Kebangsaan ini lahir dari spiritualitas inkarnatoris, yakni Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Allah umat beriman adalah Allah yang menyelematkan dengan tinggal dan berjuang dalam suka duka hidup.

“Oleh karenanya, seperti yang dipesankan Bapa Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, Pr, maka umat kristiani perlu terjun dalam kondisi carut marut masyarakat untuk memperjuangkan kesejahteraan umum. Spiritualitas inkarnatoris, bukan spiritualitas yang mengelak dari carut marut dunia, tetapi spiritualitas yang memeluk keberdosaan dan carut marut itu,” ujar rama.

Mantan Komisi Kerawam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini menerangkan, Katekese Kebangsaan membawa transformasi sosial. Daniel Schiphani mengungkapkan, bahwa pendidikan iman yang membawa transformasi sosial ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menekankan tiga aspek yang menitikberatkan pada perubahan sosial, yaitu seeing, judging, dan acting.

Seeing menekankan aspek melihat realitas konkret yang dihadapi oleh masyarakat sekitar. Dengan melihat permasalahan yang ada tersebut diharapkan umat dapat memberikan penilaian melalui proses judging.

Sedang judging merupakan penilaian terhadap realita yang ada melalui terang Sabda Allah yang direfleksikan dalam nilai-nilai Injil, sehingga menemukan kehendak Allah. Melalui penilaian terhadap realita dan menemukan kehendak Allah tersebut, umat diajak untuk melakukan aksi nyata atau acting.

“Sementara itu acting merupakan tindakan konkret sebagai sintesis realitas konkret dan Sabda Allah sehingga mampu menghasilkan perubahan sosial,” ungkap rama.

Narasumber Rama Raymundus Sugihartanto, Pr saat menyampaikan materi pada Seminar Kebangsaan yang diadakan DPC WKRI Kabupaten Klaten usai di Gedung Eka Kapti Klaten, Jumat (8/12/2023) sore.

Moderator Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Jawa Tengah dan DIY ini mengemukakan, Paus Fransiskus berpandangan akan pentingnya warga gereja terlibat dalam politik.

Karena politik adalah wujud tertinggi dari cinta kasih, karena politik tertuju pada pencapaian kesejahteraan umum (Beato Paus Paulus VI). Kendati politik itu sedemikian kotornya, orang Katolik harus terlibat di dalamnya, mengasah diri menjadi pribadi berkualitas dan berani terjun ke gelanggang publik.

“Keterlibatan dalam politik adalah suatu tindakan kemartiran dalam mencari kesejahteraan umum tanpa membiarkan diri menjadi korup,” tandas rama.

Mantan Panitia Pengawas (Panwas) Pemilu Kabupaten Boyolali ini menerangkan, keterlibatan dalam berpolitik adalah wujud tanggung jawab moral warga Gereja terhadap kehidupan bersama.

Ketika situasi dan kondisi sosial “ada kalanya menyimpang dari tatanan kesusilaan dan keagamaan serta bahaya besar bagi hidup kristiani”, maka keterlibatan umat Katolik dalam berpolitik menjadi “suara hati” bagi dunia. Warga Gereja menjadi pejuang nilai-nilai keadilan, perdamaian dan kerukunan, serta menjauhkan politik yang kental dengan politik identitas, diskriminatif, sektarian dan eksklusif.

“Gereja hadir sebagai perekat dan pemersatu bangsa dengan memperjuangkan perwujudan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis – moral kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas rama.

Mantan Ketua Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS) ini mengatakan, kondisi politik Indonesia saat ini mengkhawatirkan. Karena hampir semua orang “bicara politik”. Namun sayangnya, bukan karena (mereka) tahu atau paham tentang hakekat politik. Tetapi karena mengkonsumsi “hoax” dan dibuat galau oleh berita, analisa dan opini politik abal-abal yang mengacaukan.

“Maka rakyat dengan sangat mudah terpolarisasi, diadu domba, diperalat, dan sebagainya,” kata rama.

Mantan Komisi Kerawam Regio Jawa ini mengungkapkan, ada sejumlah pertimbangan dalam mencari atau memilih pemimpin atau wakil rakyat.

Satu, memegang teguh Pancasila, UUD 1945, NKRI dan menghormati kebhinekaan. Dua, memiliki integritas, mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau golongan. Tiga, mempunyai keberpihakan kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Dan empat, memiliki rekam jejak yang terpuji, menjunjung tinggi martabat manusia dan menjaga keutuhan alam ciptaan.

Sedang kriteria dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat yaitu pertama, ideologi (harus jelas, kita menyelaraskan dengan ideologinya). Kedua, program (penting diperhatikan karena masa berkuasanya sangat singkat, jangan cari yang abstrak). Ketiga, identitas (SARA itu baik, tapi bagaimana pemanfaatannya). Empat, kompetensi atau kapasitas (apakah yang bersangkutan memiliki kemampuan cukup untuk menjadi wakil atau pemimpin rakyat). Dan kelima, integritas (apakah yang bersangkutan memiliki kesamaan antara kata dan laku, atau kesesuaian antara perkataan dan tindakan).

“Mengutip pernyataan Rama Franz Magnis Suseno, SJ, bahwa Pemilu itu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi mencegah yang terburuk berkuasa. Maka kita harus menjadi pemilih yang cerdas dan bijaksana,” pesan rama.

Pos terkait