Setelah 6 Tahun Diteliti, Calon Varietas Beras Rojolele Masuki Uji Organleptik

Sejumlah panelis sedang melakukan uji organleptik pada calon varietas beras Rojolele di Pendopo Kabupaten Klaten, Kamis (11/4/2019).

WartaKita.org – Badan Tenaga Nuklir (Batan) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melakukan uji organleptik calon varietas beras Rojolele di Pendopo Kabupaten Klaten, Kamis (11/4/2019).

Ada sembilan calon varietas beras Rojolele serta tiga pembanding lainnya yang disajikan kepada para panelis dalam bentuk nasi. Adapun yang dinilai dari calon varietas beras Rojolele ini meliputi warna, tekstur, kilap, aroma, rasa, kepulenan, dan penerimaan umum.

Bacaan Lainnya

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Klaten Sunarna mengatakan uji organleptik ini adalah tahap terakhir dari seluruh rangkaian penelitian yang dilakukan sejak 2013. Hasil uji itu nantinya untuk menyusun proposal yang akan diajukan dalam sidang pelepasan varietas di Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

“Mengingat nantinya varietas Rojolele ini hanya dilepas di wilayah Kabupaten Klaten, maka perlu diujicobakan kepada warga Klaten. Kita mengundang ratusan panelis untuk menguji bagaimana rasa dan aromanya. Karena kedepannya, warga Klaten yang akan menjadi konsumen utamanya,” katanya.

Sunarna menyatakan, setelah memasuki tahapan terakhir dari penelitian yang panjang itu, calon varietas beras Rojolele ini diharapkan dapat lolos dalam sidang pelepasan varietas mendatang.

“Tujuannya agar calon varietas beras Rojolele ini segera bisa dikembangkan di wilayah Kabupaten Klaten. Sehingga kedepannya bisa menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” harapnya.

Sedang Peneliti Padi pada Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Batan, Subrizal menyampaikan, penelitian terhadap varietas beras Rojolele ini sudah dimulai sejak tahun 2013.

“Melalui penelitian yang kita lakukan, kita sudah berhasil memperpendek umur serta memperpendek batang tumbuh padi. Umur padi Rojolele dari 160 hari menjadi 110 hari. Kemudian ketinggiannya menjadi lebih pendek, yaitu 110 cm. Jadi, sudah tidak tinggi lagi. Maka, kali ini kita ujikan rasanya, bagaimana kepulennanya, bagaimana aromanya, dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, ratusan penelis diminta memberikan penilaian pada formulir yang telah disediakan terkait sembilan calon varietas Rojolele. Termasuk tiga varietas pembanding lainnya, yakni Rojolele indukan, Menthik Wangi dan Sintanur. Masing-masing hanya diberi kode berupa nomer mulai 1 hingga 12 tanpa diberitahu jenis varietasnya.

Salah satu panelis yang merasakan nasi dari beras Rojolele itu adalah Suwarto, petani Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo. Dia mengaku calon varietas Rojolele nomer urut 1 itu yang paling enak.

“Saya mencicipi rasanya manis dan gurih, serta aromanya cukup wangi. Cita rasanya juga cukup nikmat. Saya menyakini nomor urut 1 itu varietas Rojolele yang unggul,” terangnya.

Suwarto berharap dengan tahapan uji akhir kali ini mampu melahirkan varietas Rojolele sesuai dengan umur panen dan tinggi yang diharapkan. Tetapi cita rasa hingga aromanya setidaknya menyamai rojolele indukan.

Pos terkait