WartaKita.org – Belakangan ini, nama Rumah Sakit Cakra Husada (RSCH) Klaten semakin dikenal masyarakat. Ini tak lepas dari sejumlah program yang dilakukan oleh rumah sakit yang berada di Jalan Merbabu nomor 7 Klaten itu.
Salah satunya adalah program Klaten Sehat. Program Klaten Sehat ini terbagi menjadi empat sub program, yaitu Kampung Sehat, Sekolah Sehat, Pasar Sehat dan Karyawan Sehat. Dalam program Klaten Sehat ini, RSCH Klaten melakukan pemeriksaan kesehatan, pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, dan pengawalan medis yang bekerja sama dengan banyak pihak.
Selama ini, RSCH Klaten bekerja sama dengan Pemerintah Desa, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Humas Pemkab, Kodim 0723 Klaten, Polres Klaten, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Program Klaten Sehat ini terus dilakukan sejak tahun 2013 hingga saat ini.
Lalu, siapa pengagas atau perancang program Klaten Sehat ini? Ia adalah Made Sumiarta, Konsultan RSCH Klaten yang sekaligus Direktur Umum Administrasi dan Keuangan RSCH Klaten dari 12 Desember 2012 hingga 28 Mei 2018.
Di bawah bimbingan dan kepemimpinan Made Sumiarta, RSCH Klaten mengalami perkembangan yang luar biasa. Seperti peningkatan jumlah kamar rawat inap yang semula 54 bed menjadi 99 bed.
Melalui berbagai ide yang inovatif dan out of the box, serta kepemimpinan yang meng-empower dan merangkul banyak pihak, membuat jumlah pengunjung rumah sakit, baik rawat inap maupun rawat jalan meningkat hingga 7 – 8 kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun ini.
Bahkan saat ini, pasien rela datang jam 2 – 3 pagi ke RSCH Klaten untuk mengambil nomor antrian, agar mereka mendapat nomor antrian. Karena ada pasien yang sudah beberapa kali datang pagi, namun tidak mendapat nomor antrian.
Berbagai pondasi pelayanan yang ditanamkan dan dikawal dalam implementasinya membuat pasien merasa sangat nyaman. Pasien merasa seperti dirawat di rumah sendiri.
“Beberapa hari ini kami dirawat di RSCH Klaten. Namun kami merasakan tidak seperti dirawat di rumah sakit pada umumnya. Kami merasakan seperti dirawat di rumah sendiri. Kami seperti dilayani oleh keluarga sendiri. Semua komponen di RSCH Klaten sangat ramah dan membantu kami, sehingga kami menjadi cepat sembuh,” kata Nur, pasien dari Wedi.
Selain pelayanannya yang cepat dan ramah, administrasinya juga sangat cepat dan tidak membeda-bedakan, baik pasien umum maupun pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Made Sumiarta mengatakan, di masyarakat Jawa ada istilah ewuh pakewuh. Ketika orang Jawa itu diperlakukan dengan baik, maka mereka akan menjadi sungkan, atau “tidak berdaya”. Hal ini juga disimbolkan dalam tulisan (huruf) Jawa. Huruf Jawa bila dipangku akan menjadi mati. Sehingga muncullah istilah: Orang Jawa itu kalau dipangku mati. Kalau diberi kebaikan, maka ia akan membalas dengan kebaikan pula.
“Dari sinilah kita mengembangkan layanan-layanan yang berbasis pada pelayanan dengan tema “Service is Our Character, atau Pelayanan adalah karakter kami”. Sederhana namun sangat efektif dalam korporasi layanan publik, yang akan melekat di benak masyarakat. Dan mereka akan ikhlas dan bersemangat menjadi sarana promosi kita (RSCH Klaten),” ujarnya.
Di depan publik, nama Made Sumiarta sepertinya tidak terlalu dikenal. Karena Made lebih berperan sebagai konseptor dan ahli strategi dalam membangun kinerja di lingkungan internal. Made menghidupkan fungsi-fungsi struktural, membimbing setiap leader untuk dapat mandiri dan menjalankan fungsinya, sehingga seluruh organ dalam struktur dapat berfungsi secara sinergis. Made juga ahli dalam perencanaan, strategi, eksekusi atau implementasi.
Sebelum bekerja di RSCH Klaten, Made adalah entrepreanur di bidang penjualan perangkat komputer sejak tahun 1998 bersama beberapa rekan di kota Jogja. Ia mengawali dari 1 toko kecil hingga berkembang menjadi 16 cabang yang tersebar di Jogja, Semarang dan Palembang. Usahanya meliputi penjualan perangkat komputer dan lembaga pendidikan komputer, hingga Akademi Komputer.
Dalam perjalanan karirnya, Made memulai dari Manajer keuangan, Kepala cabang, Direktur Operasional dan Keuangan, hingga Direktur Regional, dan Bendahara Yayasan sebuah Kampus Komputer di Sumatra Selatan, yaitu Kampus AKMI Baturaja.
Made adalah seorang pembelajar otodidak. Ia seorang Certified Hypnosis (CH), Certified Hypnosis terapis (CHt), Perencana Keuangan “Qualified Welt Planner” (QWP), Certified Practicioner Neuro Liguistic Programing (CP-NLP), dan Certified Neurolinguistic Communication Consultan (CNCC). Made juga memmiliki sejumlah sertifikasi, seperti sertifikasi Trainner Utama dari BNSP, sertifikasi pengelola badan diklat, dan seorang Grounded Coaching.
Pada tanggal 28 Mei 2018 ini, Made Sumiarta telah purna tugas seiring dengan berakhirnya kontrak kerja dan telah tercapainya tujuan serta target yang telah ditetapkan. Made berharap, Rumah Sakit Cakra Husada Klaten akan terus bertumbuh, melayani lebih banyak masyarakat, menyehatkan masyarakat Klaten dan sekitarnya, dan menyejahterakan 230 karyawan beserta keluarganya.
Acara perpisahan purna tugas Made Sumiarta ini dihadiri oleh Owner, Komisaris dan Direksi PT Cakra Husada, Direksi Rumah Sakit Cakra Husada Klaten, Jajaran Manajer, dan seluruh leader Rumah Sakit Cakra Husada Klaten. Ada suasana haru dalam perpisahan purna tugas itu. Made Sumiarta hadir bersama istrinya.









