WartaKita.org – Kabar baik bagi masyarakat Kabupaten Klaten dan sekitarnya. Terutama bagi pecinta gula yang tak mau terkena diabetes melitus (DM).
Kini, PT Gula Energi Nusantara (Gulanas) Semarang mengembangkan usahanya di Dukuh Bener RT 02 RW 03, Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten.
PT Gula Energi Nusantara adalah perusahaan yang memiliki visi untuk berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, melalui pengembangan produk hasil olahan tebu dan palm beserta turunannya.
Gulanas ingin mengembalikan kejayaan Indonesia yang pernah menjadi eksportir gula terbesar dunia, namun kini telah berbalik menjadi negara importir gula terbesar kedua dunia. Selain itu, Gulanas juga ingin menjadikan petani tebu Indonesia lebih berdaya.
Direktur UKM PT Gula Energi Nusantara (Gulanas), Joko Budi Wiryono, Sabtu (3/4/2021), menyampaikan, pihaknya memilih mengembangkan usaha gula cair dari tebu ini karena ingin Indonesia bisa swasembada gula.
“Pada tahun 1934, Indonesia adalah pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Cuba. Tetapi sampai tahun 2015, berdasarkan riset kami selama 81 tahun, ada trend produksi gula di Indonesia terus menurun. Sedang trend impor gula terus naik. Kalau trend ini diteruskan, maka Indonesia tidak akan pernah swasembada gula dalam waktu 50 tahun sampai 100 tahun kedepan,” katanya.
Joko Budi Wiryono menyatakan, ketidakmampuan Indonesia berswasembada gula ini karena adanya “kesalahan” dalam memanfaatkan tebu untuk produksi gula. Karena selama ini, hanya satu unsur saja yang diambil dari gula tebu, yaitu sukrosa untuk membuat gula kristal.
“Sebab hanya sukrosa-lah yang bisa mengkristal. Padahal di gula tebu itu ada tiga unsur, yaitu sukrosa, glukosa, dan fruktosa,” ujarnya.
Alumni Jurusan Teknik Mesin UNS ini mengatakan, ada banyak hambatan ketika produsen gula hanya mengambil satu unsur sukrosa saja. Karena pembentukan sukrosa ini butuh proses fotosintesis yang panjang. Proses fotosintesis butuh penyinaran matahari yang lama. Apalagi belakangan ini banyak negara yang terkena anomali cuaca, sehingga probabilitas hasil tebu terus menurun.
“Nah, dari riset yang kita lakukan, kita temukan proses teknologi yang baru. Tebu kita proses menjadi gula cair. Atau semua unsur tebu diambil. Dengan proses ini, kita mengalami penghematan di proses produksi. Hasil gulanya pun meningkat 100 persen dibanding kula kristal,” terangnya.
Suami dari Neli Fatmawati ini menjelaskan, gula kristal itu murni sukrosa. Sedang kalau gula cair, semua unsur gula alaminya diambil.
“Kita punya variasi produk. Dan ternyata, gula putih cair itu lebih higienis dan praktis pemakaiannya. Sedang dari segi harga, harga gula cair putih sama dengan harga gula kristal,” ucapnya.
Joko Budi Wiryono menambahkan, pihaknya terus mengembangkan teknologi produksi gula cair. Sampai pada teknologi dimana proses pemurnian anti diabetiknya tidak hilang. Sehingga gula cair ini tidak menyebabkan diabetik, walaupun tingkat kemanisan dan kalorinya sama.
“Gula rendah glikemik index ini aman untuk penderinta diabetes melitus. Karena glikemiknya rendah. Dan bagi yang tidak menderita diabetik, berpotensi aman tidak terkena diabetik,” tandasnya.
Joko mengungkapkan, UKM PT Gulanas ini mulai beroperasi pada bulan Desember lalu. Sedang total produksinya belum banyak. Karena masih standar UKM.
“Dalam sehari, kita bisa memproduksi satu ton. Sedang pemasarannya sampai ke seluruh Indonesia. Kita sudah bekerjasama dengan Alfamart, Alfamidi, Pertamina retail, restoran, dan café. Bahkan kita sudah ekspor ke Malaysia. Untuk pangsa pasar tak ada masalah. Karena pangsa pasar kita itu terbesar keempat dunia. Pangsa pasar dalam negeri besar sekali,” ungkapnya.
Dia mengatakan, untuk bahan baku selama ini, pihaknya mencari dari penebas tebu. Kalau di Semarang, mereka biasa mengambil dari Kudus, Jepara, dan Batang.
“Kita ingin memberdayaan masyarakat di sini. Karena itu, karyawan pabrik ini ya dari warga Malangjiwan,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Malangjiwan Suprianto menceritakan, pihaknya meminta Joko Budi Wiryono untuk pulang ke kampung dan membangun masyarakat sudah sekitar setengah tahun yang lalu.
“Kita ajak Pak Joko untuk bali desa mbangun ndesa. Kita minta Pak Joko untuk mendirikan UKM PT Gulanas di Malangjiwan ini. Dan setelah enam kali pertemuan, kita baru deal,” ucapnya.
Kades Suprianto mengemukakan, ada banyak keuntungan dari pendirian UKM PT Gulanas di Malangjiwan ini.
“Pertama, ini bisa mendukung visi misi saya, yaitu mewujudkan satu RW, satu sarjana. Kedua, kita ingin mendirikan home idustri gula. Dan ketiga, kita ingin menghidupkan petani tebu di Malangjiwan yang sudah puluhan tahun tidak menanam tebu lagi. Dan keempat, karena PG Gondang Baru sudah tutup, maka kita gelorakan lagi swasembada gula di Klaten,” harapnya.
Suprianto menyatakan, kehadiran UKM PT Gulanas ini sangat membantu warga Malangjiwan. Karena mereka yang sebelumnya menganggur, kini bisa bekerja lagi.
“Kami berharap, kehadiran UKM PT Gulanas ini dapat meningkatkan perekonomian warga dan bisa mendorong pembangunan desa,” pintanya.









