Ingin Taaruf? Ini Pesan Bagas Ihsanul Umam Untuk Anak Muda Islam

Bagas Ihsanul Umam

WartaKita.org – Bagas Ihsanul Umam dikenal sebagai pembicara kalangan muda muslim di berbagai seminar.

Selain itu, ia juga seorang penulis buku. Salah satu karyanya adalah Buku “Dua Rakaat Dulu Aja Panduan Menggapai Cinta Allah di Sepertiga Malam Terakhir”.

Bacaan Lainnya

Ditemui di salah satu acara seminar di Solo pada awal bulan Juli lalu, Bagas Ihsanul Umam menyampaikan pandangannya terkait taaruf.

Menurutnya, taaruf adalah proses kenalan antara laki-laki dan perempuan yang sudah dalam kondisi siap menikah, dan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan satu sama lain.

“Semua itu bertujuan agar bisa mengukur kapasitas diri, siap atau tidak menerima kekurangan calon pasangannya. Tentu prosesnya sebagaimana yang diatur dalam Islam,” katanya.

Namun realitanya, saat ini banyak dijumpai teman-teman yang katanya taaruf, tapi faktanya pacaran. Mereka melanggar batasan dalam syariat, seperti berdua-duaan, telponan, chattingan hal yang tidak bermanfaat, mengumbar syahwat, dan sebaginya.

Lantas, apa solusinya?

Pertama, mereka harus dalam kondisi sudah siap menikah. Baik siap secara biologis, mental, ilmu, kemandirian finansial, serta siap bertanggung jawab dalam komitmen pernikahan.

“Kalau taaruf dilakukan sebelum dalam kondisi siap nikah, besar kemungkinannya akan jatuh dalam dosa pacaran,” katanya.

Kedua, orientasinya adalah pernikahan, bukan hanya sekadar iseng untuk kenalan saja. Maka taaruf itu hanya boleh dilakukan oleh mereka yang serius saja.

“Ketika ditanya bagaimana kalau belum siap nikah? Ya jangan taaruf dulu, fokus memperbaiki diri dulu, tingkatan value diri, perbanyak ilmu, kerja, bakti sama orangtua, jangan pacaran! Sampai nanti masanya tiba sudah dalam kondisi siap menikah,” ujarnya.

Bagas Ihsanul Umam saat tampil di sebuah seminar.

Ketiga, tidak boleh berkhalwat atau berdua-duaan, mesra-mesraan. Lewat HP (handphone) saja tidak boleh, apalagi ketemu secara langsung!

“Maka dalam proses taruf ini harus melibatkan orang lain, boleh mentor atau murabbi, temen yang mengerti batasan saat taaruf, atau bahkan saudara, orangtua, paman, bibi. Yang penting, mereka mau mendampingi serta ngerti juga tentang batasan- batasan saat taaruf,” paparnya.

Keempat, bahas hal-hal penting, berbobot, yang erat kaitannya dengan kehidupan rumah tangga.

“Bukan hal yang receh kayak “udah makan belum?” Ini kan sudah kebutuhan dasar setiap manusia. Kalau lapar pasti makan kok. Tapi saat taaruf ini bahaslah apa yang membuatmu ragu dengan calon pasangan. Bahas hal-hal yang erat kaitannya dengan kehidupan setelah berumah tangga nanti,” tandasnya.

Kelima, libatkan orangtua.

“Tanya beliau, mau punya mantu yang seperti apa karakternya. Biar nanti kriteria kamu nggak berbenturan dengan kriteria ibu bapak.

Terakhir, libatkan Allah dalam prosesnya.

“Perbanyak doa dan shalat-shalat sunnah, sama sering-sering istikharah juga, biar keputusanmu nanti valid dalam menentukan,” ungkapnya.

Bagas Ihsanul Umam menyatakan, tujuan taaruf adalah ibadah.

“Jadi atau nggaknya menikah, berjodoh atau tidak, itu adalah ketetapan Allah. Tapi jika prosesnya itu dilandasi dengan niat ibadah dan ketaqwaan, insyaallah, kalau nggak jadi nikah pun, tetap akan mendapatkan pahala,” jelasnya.

Bagas Ihsanul Umam mengatakan, dengan taaruf diharapkan ada gambaran tentang karakter calon pasangan.

“Jangan sampai nggak tahu. Apalagi kalau kekurangannya itu bertentangan dengan prinsip hidup. Khawatirnya nanti akan memicu konflik besar setelah nikah,” urainya.

Bagas Ihsanul Umam

Untuk itu, pesan Bagas Ihsanul Umam, manfaatkan masa kenalan atau taaruf itu untuk betul-betul mengenali calon pasangan, baik dari sisi kelebihan atau kekurangannya, termasuk masalah keuangan dan lain lain .

Kelebihannya mungkin semua bisa dan mudah diterima. Tapi nggak dengan kekurangannya. Apalagi yang toxic, banyak nuntut, nggak menghargai, apalagi kalau marahnya sampe mukul.

Identifikasi kekurangannya. Apa saja yang bisa kamu tolerir dan mana yang nggak. Mana yang bisa kamu bersabar dengannya. Mana yang nggak.

Kalau banyak nggaknya, tapi tetap maksa lanjut, apalagi punya pikiran “nanti dia akan berubah kok setelah menikah”, siap-siap saja akan menerima banyak kekecewaan nantinya.

“Terakhir, terus libatkan Allah dalam setiap prosesnya. Jangan berhenti istikharah sampai hati betul-betul yakin untuk menerima ataupun menolaknya. Wallaahu a’lam,” ucapnya.

Bagas Ihsanul Umam mengemukakan, ada beberapa hal yang perlu ditanyakan saat taaruf yaitu tentang pernikahan, finansial, ibadah, kepribadian, dan komunikasi.

Ini perlu ditanyakan, karena banyaknya anak anak muda muslim yang perlu diedukasi tentang hal tersebut. Apalagi saat ini sudah mulai banyak yang menormalisasikan pacaran. Padahal pacaran itu sendiri sangat bertentangan dan jauh sekali dengan nilai Islam.

“Makanya, saya pengin hadir di ruang publik. Biar banyak yang tahu bahwa Islam itu tidak hanya mengatur ibadah shalat, puasa, haji dan umrah saja. Tapi mengatur semua lini kehidupan, termasuk mengatur antara hubungan laki-laki dan perempuan. Sehingga kita dapati bahwa dalam konsep taaruf itu semuanya harus sesuai dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu aialihi wasallam,” ucapnya.

Pos terkait