WartaKita.org – Indeks toleransi kehidupan beragama di Indonesia saat ini dinilai makin meningkat seiring dengan berjalannya waktu.
Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Assosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang juga Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, KH Taslim Sahlan di sela-sela acara Pembinaan Sosial Politik oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah di Hotel Grand HAP Solo, Jumat (24/12/2021).
“Perayaan Natal 2021 dan persiapan tahun baru 2022 di Jawa Tengah alhamdulillah berjalan lancar, aman, dan kondusif sesuai protokol kesehatan, serta berlangsung dengan damai,” katanya.
Menurut Taslim Sahlan, situasi yang aman dan kondusif penuh kedamaian ini tidak lepas dari upaya berbagai pihak dalam menjaga kondusifitas di tengah masyarakat.
Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo belum lama ini, bahwa suasana harmoni dan kondusif di masyarakat tidak lepas dari sinergitas yang baik antara ulama dengan umara serta berbagai pihak.
“Kehidupan keberagamaan di Indonesia pada umumnya, dan di Jawa Tengah pada khususnya, alhamdulillah menunjukkan tren yang sangat positif,” ujarnya.
Taslim Sahlan mengatakan, tren yang sangat positif tersebut sangat menggembirakan bagi semua pihak, utamanya bagi para investor.
“Indeks toleransi yang makin tinggi tersebut berdasarkan hasil survei Balitbang Kementerian Agama belum lama ini,” jelasnya.
Taslim menyatakan, indeks kerukunan umat beragama di Jawa Tengah berada pada posisi ranking 15.
“Ini berarti, kerukunan umat beragama di Jawa Tengah pada kondisi yang baik. Atau di atas rata-rata,” ungkapnya.
Dosen di Fakultas Agama Islam Unwahas ini mengemukakan, dalam upaya penguatan kerukunan umat beragama di Jawa Tengah, terdapat beberapa langkah konkrit yang dilakukan oleh FKUB.
“Ada 4 langkah yang kami lakukan, yakni pertama, penguatan kedewasaan atau moderasi beragama. Kedua, penguatan dialog antar dan intern umat beragama. Ketiga, penguatan soliditas antarumat beragama. Dan keempat, penguatan integritas tokoh agama,” terangnya.
Tasli menjelaskan, upaya-upaya itu menjadi faktor penting bagi terwujudnya kerukunan umat beragama di Jawa Tengah. Bahkan di berbagai kesempatan dirinya juga selalu berpesan tentang peran agama sebagai pemersatu bangsa.
“Agama harus menjadi perekat, bukan penyekat. Agama harus menjadi pemersatu, bukan saling berseteru,” tandasnya.
Taslim menceritakan, setiap kali bertemu kawan-kawan pendeta, rama, bhikku dan lain-lain, dirinya terus saling melakukan penguatan.
“Membangun komitmen kebersamaan dalam keperbedaan menjadi kata kunci dalam membangun toleransi, kesetaraan, saling menghargai, dan saling menghormati ajaran masing-masing agama,” paparnya.
Sementara itu Ketua FKUB Kabupaten Klaten yang juga Ketua Koordinator Assosiasi FKUB Jawa Madura, Syamsuddin Asyrofi mengatakan, meningkatnya indeks toleransi ini terjadi dari tingkat akar rumput hingga para tokoh yang lebih mengutamakan keberagaman demi kerukunan dan persaudaraan sejati.
“Berbagai komunitas keberagaman tumbuh dan berkembang di Indonesia pada umumnya, dan di Jawa Tengah pada khususnya,” ucapnya.
Menurutnya, FKUB terus menginisiasi dan mendeseminasi kedewasaan beragama dalam keberagaman. Relasi personal antar pemimpin yang rukun dan damai mestinya menjadi contoh teladan. Selain itu, keberagaman dan kerukunan di Jawa Tengah ini juga ditandai dengan gerakan bersama menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.
“Itulah yang saya sebut sebagai ekointerreligious praksis. Ada kesadaran bagus dan praksis tentang ekoteologis interreligius, yakni penghayatan iman, harapan, dan kasih demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan, apa pun agama dan kepercayaannya,” jelasnya.
Syamsuddin Asyrofi juga menjelaskan bagaimana kiat-kiat menjaga harmoni yang bermula dari pikiran yang bersih dan terhindar dari buruk sangka dalam membangun relasi kehidupan beragama.
“Buang jauh setiap prasangka buruk terhadap sesama. Memahami agama dan kepercayaan orang lain sehingga kita mampu membangun relasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” pesannya.
Syamsuddin menandaskan, untuk mewujudkan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat itu perlu duduk bersama bila ada perbedaan, dan tidak memaksakan kehendak yang melanggar kebebasan.
“Saling berkunjung dan bersilaturahmi saling menjaga kerukunan itulah kuncinya,” tandasnya.









