WartaKita.org – SMP Negeri 1 Jogonalan, Kabupaten Klaten mempunyai sejumlah program untuk mendukung Sekolah Adiwiyata. Salah satunya adalah program Anggrek Sejuta Warna.
Kepala SMPN 1 Jogonalan Endah Sulistyowati, Senin (13/4/2020), menjelaskan, program anggrek sejuta warna ini dikerjakan melalui dua kegiatan, yaitu intra dan ekstra sekolah.
Di intra sekolah, program anggrek sejuta warna masuk dalam pembelajaran IPA dan IPS. Di pembelajaran IPA, anak-anak diajari bagaimana mengenal macam-macam anggrek sampai ke budidayanya. Sedang di pembelajaran IPS, anak-anak diajari bagaimana menjual anggrek pasca budidaya.
“Program anggrek sejuta warna juga masuk di kegiatan ekstra sekolah untuk anak-anak pioner di setiap kelasnya. Anak-anak yang senang dengan kegiatan budidaya anggrek dibimbing lewat kegiatan ekstra mengenai bagaimana membudidayakan anggrek. Kemudian anak-anak ini memberikan ilmunya ke anak-anak lainnya,” katanya.
Endah Sulistyowati menyatakan, dalam program anggrek sejuta warna ini, satu anak diminta merawat satu anggrek. Setelah anggrek itu tumbuh dan besar akan dijual. Sehingga ada purna jualnya.
“Dan Alhamdulillah, setiap ada pameran, sekolah kami menjual anggrek dan laku banyak. Bahkan sampai laku Rp1,5 juta. Seperti saat pameran di Rowo Jombor dan di Bayat yang lalu. Kami berharap, selain mengenal bermacam-canam anggrek, anak-anak juga dapat berwirausaha anggrek,” ujarnya.
Sementara itu Guru Kelas VII SMPN 1 Jogonalan, Eti Prajanti dan Theresia Rochayati mengatakan, setelah diadakan ektra kurikuler budidaya anggrek, anak-anak bertambah senang dan semakin mencintai anggrek.
“Anak-anak mau merawat, memupuk, dan menyiram anggrek. Bahkan, anak-anak sudah bisa menyilangkan, dan kemudian memisahkan anggrek,” ungkapnya.
Eti Prajanti menambahkan, dengan adanya ekstra budidaya anggrek ini, anak-anak semakin termotivasi. Tidak hanya anak-anak yang ikut ekstra budidaya anggrek saja yang mau memelihara. Ternyata anak-anak yang lain juga mau memelihara anggrek di sekolah ini.
“Kalau pas jam istirahat, anak-anak yang dari pagi sudah sarapan dan tidak jajan, langsung masuk ke green house ini. Tanpa perintah dari guru, anak-anak langsung menyirami, memupuk, dan lainnya. Karena anak-anak sudah tahu apa yang harus dilakukan,” paparnya.









