Dukung Annual Museum Exhibition, Museum Sonobudoyo Yogyakarta Gelar Pameran Jayengtilam

Pengunjung sedang melihat Pameran Jayengtilam di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

WartaKita.org – Museum Sonobudoyo Yogyakarta menggelar pameran dengan tema “Jayengtilam: Bertajuk identitas lokal dan pembentukan sastra lisan” di Gedung Pameran Temporer museum tersebut dari tanggal 6 November sampai 30 Desember 2020.

Pameran Jayengtilam ini diadakan dalam rangka mendukung agenda Annual Museum Exhibition.

Bacaan Lainnya

Masyarakat dapat mengunjungi pameran ini setiap hari pada pukul 09.00 sampai pukul 21.00 WIB.

Walaupun tidak ada batasan waktu dan pengunjung, namun pihak Museum Sonobudoyo tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menyediakan tempat cuci tangan sebelum memasuki museum dan menyediakan sarana untuk pengecekan suhu.

Kata Jayengtilam dipinjam dari salah satu nama Panji yang berarti “Jaya di peraduan“. Ide dasar dari acara ini digunakan untuk mengangkat kejayaan tradisi lisan yang hidup di masyarakat. Jayengtilam ini membawa ruh dari manifestasi sastra lisan yang diwujudkan dalam koleksi – koleksi museum.

Dalam pameran ini dipamerkan berbagai jenis wayang beserta kisahnya. Tidak hanya wayang saja, tetapi juga kain batik khas Yogyakarta.

Kisah Setra-Gandamayit dan Astabrata mengawali ruang pameran dengan narasi setan, kepemimpinan, dan wayang yang berada pada masing – masing ruangan. Selanjutnya, kisah perempuan dan mitos Ratu Pantai Selatan menyambut perjalanan pengunjung untuk menikmati pameran sebagai kesatuan dari ide dasar sastra lisan.

Di ruang tengah pameran, pencampuran budaya Jawa kental diwujudkan melalui visualisasi pasren serta kosmologi yang menyertainya. Ruang selanjutnya berisikan tentang kisah topeng dan tuturan mengenai nafsu manusia didunia. Di ruangan terakhir, pengunjung dapat mendengarkan dan berbagi kisah tentang pengalaman budaya dan dilisankan dalam bentuk podcast. Klimaks dari isi pameran adalah menyelami cerita Panji melalui koleksi Wayang Beber.

Pembukaan pameran diawali dengan tarian daerah dan sambutan dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharso dalam sambutan menyampaikan, konstestasi tradisi lisan di dalam sejarah perkembangan Jawa lebih dahulu lahir sebelum dikenalnya tradisi tulis. Bahkan di tengah derasnya produksi tradisi tulis, pelbagai memori kolektif tentang kelisanan pun masih terus-menerus diceritakan. Penceritaan inilah yang kerap dipahami oleh masyarakat sebagai gugon tuhon (kepercayaan lokal setempat).

“Melalui pameran ini, masyarakat akan dibawa pada narasi tentang Yogyakarta dalam tradisi lisan yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Gelaran pameran Jayengtilam ini disambut baik pengunjung.

“Saat saya ke pameran ini, saya merasa sangat tertarik dengan apa yang disajikan. Saya berharap, semoga semakin banyak acara – acara dengan tema seperti ini di waktu yang akan datang,” harap Linda, pengunjung Pameran Jayengtilam.

Pos terkait