WartaKita.org – Tim Dosen Pengabdian Kepada Masyarakat dari Program Studi Teknik Industri Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta bekerjasama dengan Program Studi Administrasi Publik Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta serta Pemerintahan Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul mengadakan kegiatan sarasehan yang mengusung tema “Inovasi Rekayasa ‘Pirolisis’ di Rumah Makan “Pring Petung” Kawasan Wisata Pantai Baru Kalurahan Poncosari pada Jumat (1/9/2023).
Sarasehan ini dalam rangka penanganan darurat sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini untuk mendukung Pengembangan Wisata Mandiri Energi di Pantai Baru Kalurahan Poncosari.
Kegiatan yang menghadirkan narasumber Muhammad Noviansyah Aridito, MSc, dari Program Studi Teknik Lingkungan UP45 ini diikuti oleh berbagai unsur, seperti Pengelola Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Poncosari, Pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kalurahan Poncosari, Jajaran Pemerintah Kalurahan Poncosari, Tim Pengerak PKK, Kelompok Pengelola Sampah, Dukuh dan Pendamping Desa, serta Pendamping Lingkungan Kecamatan Srandakan.
Sarasehan berlangsung antusias. Apalagi saat pengenalan teknologi dan pelatihan penggunaan alat Pirolisis untuk mengubah sampah menjadi arang.
Ketua Tim Pengabdi, Ir Syamsul Ma’arif, ST MEng yang didampingi oleh anggota Tim Pengabdi, yaitu Agustinus Eko Susetyo, ST MSc (Dosen Program Studi Teknik Industri UST), dan Nurhadi, MPA (Dosen Program Studi Administrasi Publik UP45), dalam sambutan acara menyampaikan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dalam rangka ikut serta mengembangkan kawasan wisata Pantai Baru menjadi kawasan wisata mandiri energi melalui upaya pengolahan sampah di Kalurahan Poncosari.
Kegiatan ini dapat terselenggara atas dukungan Program Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) dalam Hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pengabdian kepada Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) tahun 2023.
Syamsul Ma’arif mengatakan, selain pengenalan teknologi pengolahan sampah dan pelatihan penggunaan alat pirolisis ini, nantinya pihaknya akan menyerahkan alat tersebut kepada Pemerintah Kalurahan Poncosari.
“Kita juga akan adakan Pelatihan Digital Marketing untuk mendukung distribusi pemasaran produk yang dihasilkan dari alat pengolah sampah ini. Kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan dan dipersiapkan oleh 22 mahasiswa UST,” jelas Dosen di Program Studi Teknik Industri UST ini.
Sedangkan Lurah Poncosari Supriyanto SE, SPt dalam sambutan mengatakan, pihaknya mengucapkan terima kasih atas kegiatan program pengabdian kepada masyarakat menyangkut penanganan sampah di Kalurahan Poncosari ini, terlebih pasca penutupan TPA Piyungan.
“Ini sejalan dengan upaya mewujudkan Program ‘Bantul Bersih 2025’. Kami menyambut baik program kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk mengantisipasi jika kelak sampah ini menjadi masalah baru di lingkungan kita,” kata mantan Ketua LPMD Poncosari ini.
Sementara itu Suwandi, peserta dari unsur Pokdarwis Pantai Baru saat dialog interaktif menuturkan, pihaknya telah kesulitan untuk membuang sampah, baik itu sampah laut, sampah kuliner, maupun sampah yang dibawa oleh wisatawan.
Menurutnya, mereka menjadi penyumbang pembuangan sampah di TPA Piyungan. Sebenarnya, pihaknya juga pernah menggunakan teknologi pengolahan sampah. Namun terkadang terkendala sumber daya manusia (SDM) yang kurang memadai.
“Untuk itu, kita masih perlu dukungan untuk teknologi pengolahan sampah ,seperti sampah organik (sisa olahan masakan kuliner) dan anorganik (plastik dan lainnya) yang tidak bertentangan dengan peraturan hukum perundang-undangan yang berlaku. Di samping itu, kita juga perlu cara pengelolaan SDM pengelolaan sampah yang efektif,” harap Suwandi.

Terkait, Muhammad Noviansyah Aridito MSc selaku narasumber memaparkan, Pemerintah DIY sedang membangun tempat pengolahan sampah yang lebih memadai dan diperkirakan baru akan beroperasi pada 2025.
“Kita akan menghadapi masa kritis penanganan sampah pasca penutupan TPA Piyungan sampai pada tahun 2025. Untuk itu, kita perlu melakukan pengelolaan sampah di masing-masing lingkungan kita,” tandasnya.
Muhammad Noviansyah Aridito menjelaskan, pengolahan sampah sebenarnya dapat ditangani dengan menggunakan berbagai teknologi. Berdasarkan yang tercantum dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) RI, cara pengelolaan sampah bermacam-macam jenisnya. Salah satunya adalah pengelolaan sampah menjadi sumber energi.
Beberapa teknologi untuk mengolah sampah menjadi sumber energi adalah biodigester (biogas), proses termal yaitu insinerator, pirolisis, dan gasifikasi. Dari berbagai teknologi pengelolaan sampah yang paling ramah lingkungan adalah teknologi pirolisis.
Pirolisis berasal dari kata ‘Piro’ (api) dan ‘Lisis’ (pemecahan). Sehingga dapat diartikan teknologi pengolahan sampah menggunakan api untuk memecah material (dalam hal ini sampah) dengan tanpa oksigen.
“Oleh karena itu, prinsip pirolisis tidak membakar sampah sama sekali. Karena api yang digunakan tidak mengenai material sampah sama sekali,” tegas Dito, panggilan akrabnya.
Untuk diketahui, kerjasama antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dan Universitas Proklamasi 45 (UP45) serta Pemerintahan Kalurahan Poncosari ini merupakan langkah konkret dalam menghadapi permasalahan darurat sampah yang sedang dihadapi di DIY.
Kegiatan ini merupakan tindakan nyata untuk mencari solusi terhadap masalah sampah yang semakin meresahkan. Penggunaan teknologi ini menjadi salah satu solusi inovatif dalam upaya mengubah sampah menjadi sumber energi yang dapat mendukung pengembangan wisata mandiri di Pantai Baru, Kalurahan Poncosari. Saat penutupan TPA Piyungan dan upaya mewujudkan “Bantul Bersih 2025,” kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak awal untuk mengatasi masalah sampah dan memajukan wilayah ini secara berkelanjutan.









