Warta Kita.org – Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta memperkuat kerja sama internasional dengan Federação Cooperativa de Crédito Hanai Malu (FCCHM), sebuah federasi Credit Union di Timor-Leste.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di kantor FCCHM, Bairro Pité, Dili pada Senin, 5 Oktober 2026.
Pada hari yang sama, enam orang anggota Tim FBE Sanata Dharma juga menyelenggarakan pelatihan pengembangan usaha anggota CU dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Business Model Canvas (BMC).
Kunjungan Tim Sanata Dharma yang dipimpin Dekan FBE, Dr Lukas Purwoto ini disambut hangat oleh Elizario Ferreira, pendiri sekaligus General Manager FCCHM. Penyambutan berlangsung dalam suasana persaudaraan.
Para anggota tim yang merupakan dosen dari S1 Manajemen, S1 Akuntansi, S1 Ekonomi, dan Magister Manajemen dikalungi kain tenun ikat khas Timor-Leste, sebuah simbol keramahan dan penghormatan kepada tamu.
Pihak FCCHM menyampaikan ungkapan yang mengesankan bagi rombongan: mereka yang datang ke Dili dan disambut dengan kain tenun ikat khas Timor-Leste pasti akan ingin datang kembali.
Ungkapan tersebut mencerminkan harapan agar kunjungan ini bukan sekadar pertemuan sesaat, melainkan awal hubungan kerja sama yang berkelanjutan.
Salah satu hal yang menggembirakan bagi Tim Sanata Dharma adalah kenyataan bahwa sebagian besar peserta kegiatan masih dapat berbahasa Indonesia. Bahkan, beberapa di antara mereka pernah menempuh pendidikan di Indonesia, baik di Solo, Yogyakarta, maupun Badung.
Pengalaman tersebut membuat komunikasi dan pertukaran gagasan berlangsung lebih akrab. Perbedaan latar belakang kelembagaan dan negara tidak menjadi penghalang untuk belajar bersama. Sebaliknya, kedekatan bahasa dan pengalaman pendidikan membantu membangun suasana dialog yang terbuka dan bersahabat.
Kerja sama untuk memperkuat Credit Union

MoU yang ditandatangani kedua institusi mencakup kerja sama internasional dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—serta pengembangan Credit Union.
Kerja sama ini membuka peluang pertukaran pengetahuan, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas kelembagaan Credit Union.
FBE Universitas Sanata Dharma merupakan bagian dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang mengembangkan pendidikan bisnis dan ekonomi dengan memadukan keunggulan akademik dan nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, FBE berupaya menerapkan pengetahuan akademik untuk menjawab kebutuhan organisasi dan masyarakat. Dalam kunjungan ini, pengalaman dan keahlian di bidang manajemen dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha anggota Credit Union.
Sementara itu, FCCHM merupakan federasi yang menghimpun Credit Union di Timor-Leste.
Menurut profil institusi yang dipresentasikan, organisasi ini berawal dari Federasi Hanai Malu yang didirikan pada 24 April 1996. Setelah mengalami beberapa kali masa sulit, organisasi tersebut direstrukturisasi pada November 2010 dengan nama Federação Cooperativa de Crédito Hanai Malu.
FCCHM berperan dalam memperluas akses layanan keuangan, meningkatkan kapasitas pengurus dan staf Credit Union, memperkuat penghimpunan modal komunitas, serta mewakili dan mengoordinasikan kepentingan CU .
Dalam profilnya per September 2026, FCCHM mencatat 49 CU anggota dengan total 31.214 anggota individu. Angka ini menunjukkan potensi besar jaringan CU untuk mendukung inklusi keuangan dan pengembangan ekonomi masyarakat Timor-Leste.
Dari Aset Menjadi Peluang Usaha

Setelah penandatanganan MoU dan sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan bertajuk From Assets to Opportunities: Designing a Business through ABCD + Business Model Canvas dengan fasilitator utama Antonius Sumarwan, SJ, Kaprodi Magister Manajemen.
Pelatihan berlangsung pada pukul 13.00 hingga 17.30, dengan 29 peserta tercatat dalam daftar hadir.
Pendekatan ABCD mengajak peserta memulai pengembangan usaha dengan mengenali aset yang sudah dimiliki atau dapat diakses, bukan semata-mata berfokus pada kekurangan modal. Aset tersebut dapat berupa pengetahuan, keterampilan, pengalaman, relasi, jaringan komunitas, peralatan, maupun sumber daya ekonomi. Berbagai aset kemudian dihubungkan dengan kebutuhan nyata calon pelanggan untuk menemukan peluang usaha.
Selanjutnya, peserta menggunakan BMC untuk memetakan sembilan unsur penting dalam suatu bisnis, mulai dari segmen pelanggan dan proposisi nilai hingga saluran pemasaran, sumber daya, mitra, pendapatan, dan struktur biaya. Dengan cara ini, gagasan usaha tidak berhenti sebagai ide, tetapi mulai disusun menjadi model bisnis yang lebih terarah.
Salah satu contoh yang digunakan dalam pembelajaran adalah usaha seorang staf CU yang menjual produk-produk kesehatan dan kecantikan bagi perempuan. Usaha tersebut menjadi bahan untuk mempraktikkan pemetaan BMC: siapa pelanggan yang dilayani, manfaat apa yang ditawarkan, bagaimana produk menjangkau pelanggan, serta sumber daya dan aktivitas apa yang diperlukan agar usaha dapat berkembang.
Contoh nyata ini membantu peserta memahami bahwa pengalaman, pengetahuan mengenai pelanggan, jaringan, dan akses terhadap produk merupakan aset yang dapat diolah menjadi peluang bisnis. BMC kemudian membantu mereka melihat hubungan antara berbagai unsur usaha secara utuh.
Dalam sesi presentasi, peserta mendapat kesempatan untuk membagikan rancangan model bisnis yang telah disusun. Kesan yang muncul dari peserta adalah bahwa pendekatan ABCD dan BMC membantu mereka memetakan bisnis dengan lebih jelas dan merancang usaha secara lebih sistematis.
Bukan sekadar menandatangani MoU

Bagi kedua institusi, penandatanganan MoU merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kesepakatan tersebut menjadi kegiatan nyata yang memberikan manfaat bagi anggota CU dan masyarakat.
Pelatihan pengembangan usaha anggota diharapkan dapat dilanjutkan melalui pendampingan, penyempurnaan model bisnis, pengujian peluang usaha, dan penguatan jejaring antarangggota. FCCHM juga memiliki ruang untuk mengembangkan program peningkatan kapasitas pengurus, staf, dan CU yang tergabung di dalamnya.
Tim Sanata Dharma berharap kerja sama ini tidak berhenti pada kunjungan dan pelatihan pertama. Sebaliknya, MoU yang telah ditandatangani diharapkan menjadi dasar bagi kolaborasi berkelanjutan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pertemuan di Dili memperlihatkan bahwa kerja sama perguruan tinggi dan Federasi Credit Union dapat mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis masyarakat. Dengan semangat saling belajar, pendekatan ABCD dan BMC menjadi salah satu cara untuk membantu anggota CU mengenali kekuatan yang mereka miliki, menemukan peluang, dan membangun usaha yang memberi nilai bagi keluarga maupun komunitas.
Disambut dengan kain tenun ikat, dipertemukan oleh bahasa dan pengalaman, serta dipersatukan oleh semangat pemberdayaan, kunjungan ini diharapkan menjadi awal persahabatan dan kerja sama yang terus bertumbuh antara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan FCCHM Timor-Leste.









