SMA Kolese De Britto Yogyakarta Berkolaborasi Dengan SMP Joannes Bosco Gelar LDK OSIS, Usung Tema “Siap Mengenal Diri, Bertumbuh, Dan Melayani”

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Joannes Bosco Yogyakarta yang berlangsung pada Jumat–Sabtu, 18–19 September 2026 ini mengusung tema “Siap Mengenal Diri, Bertumbuh, dan Melayani”.

Warta Kita.org – Menjadi pemimpin bukan pertama-tama tentang memiliki jabatan atau kemampuan mengatur orang lain.

Kepemimpinan justru dimulai dari keberanian untuk mengenal diri, kesediaan untuk terus bertumbuh, serta kemauan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk melayani.

Semangat itulah yang menjadi jiwa Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Joannes Bosco Yogyakarta yang berlangsung pada Jumat–Sabtu, 18–19 September 2026, dengan tema “Siap Mengenal Diri, Bertumbuh, dan Melayani”.

Sebelum memasuki rangkaian utama LDK, para peserta terlebih dulu mengikuti Pra LDK pada Rabu, 16 September 2026.

Kegiatan ini menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mempersiapkan diri secara personal maupun kelompok. Salah satu materi yang diberikan adalah pengenalan diri melalui konsep Jendela Johari dengan gagasan “Kenali Dirimu, Kenali Temanmu”.

Melalui Jendela Johari, peserta diajak menyadari bahwa mengenal diri bukan sekadar mengetahui kelebihan dan kekurangan pribadi, tetapi juga memahami bagaimana diri dilihat dan dialami oleh orang lain. Kesadaran tersebut menjadi bekal penting dalam membangun komunikasi, kerja sama, dan relasi yang sehat dalam kehidupan organisasi.

Pra LDK sekaligus memberikan gambaran mengenai proses, dinamika, serta berbagai penugasan yang harus dipersiapkan, baik secara pribadi maupun kelompok. Dengan demikian, peserta tidak hanya datang sebagai penerima materi, tetapi telah dipersiapkan untuk terlibat aktif dalam seluruh proses pembelajaran.

LDK menjadi ruang formasi bagi para pengurus OSIS untuk belajar memimpin diri sekaligus mempersiapkan diri menjadi pribadi yang mampu memberikan keteladanan dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekolah.

Kepemimpinan ditempatkan bukan sekadar sebagai persoalan organisasi, melainkan sebagai proses pembentukan pribadi yang utuh melalui olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari semangat kolaborasi antara SMP Joannes Bosco dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Tiga pendidik SMA Kolese De Britto, yakni Filipus Dimas Darumurti, Reinaldus Sem Bau Liku, dan Chr. Danang Wahyu P hadir sebagai fasilitator. Selain itu, turut terlibat Victor Yuna Aditya Putra, alumni inspiratif SMP Joannes Bosco yang kini menjadi siswa SMA Kolese De Britto.

Filipus Dimas Darumurti menyampaikan, keterlibatan dalam LDK tersebut merupakan bagian dari upaya membangun jejaring pendidikan yang tidak berhenti pada hubungan antar lembaga, tetapi sungguh-sungguh menghadirkan ruang untuk saling belajar dan berbagi.

“Kolaborasi ini bukan sekadar berbagi materi atau mengisi kegiatan, tetapi menjadi kesempatan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman dalam membentuk generasi muda. Semangat 3B (Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi) akan menjadi bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk melalui pendampingan dan pembentukan kepemimpinan di sekolah,” ujar Dimas.

Kehadiran para fasilitator dan alumni memberikan warna tersendiri dalam proses LDK.

Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, baik ketika menerima materi maupun ketika terlibat dalam berbagai dinamika kelompok.

Pengalaman dan perspektif yang dibagikan para fasilitator menjadi jembatan antara gagasan kepemimpinan dan pengalaman nyata dalam kehidupan sekolah.

Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi bentuk konkret gerakan 3B yang dikembangkan SMA Kolese De Britto, yakni Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi. Kolaborasi tidak berhenti pada gagasan, tetapi diwujudkan melalui kesediaan untuk berbagi pengalaman, kompetensi, dan praktik baik dalam pembentukan kepemimpinan peserta didik.

Semangat ini juga sejalan dengan hasil Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang yang mendorong tumbuhnya jejaring dan sinergi antar-lembaga pendidikan. Melalui kerja sama semacam ini, pendidikan tidak berjalan dalam ruang yang terpisah-pisah, tetapi saling menguatkan agar proses formasi peserta didik memberikan dampak yang lebih luas bagi sekolah, Gereja, masyarakat, dan lingkungan.

Berawal Dari Mengenal Diri

Hari pertama LDK diawali dengan pendalaman mengenai Kepemimpinan Dominican.

Para peserta diajak memahami bahwa seorang pemimpin bukan sekadar pribadi yang berada di depan, tetapi seseorang yang bersedia menjadi pelayan kebenaran, memiliki hati yang peka, pikiran yang reflektif, serta keberanian untuk mewujudkan kebaikan melalui tindakan.

Empat unsur kepemimpinan menjadi dasar proses pembelajaran, yakni kesadaran diri, kecerdikan atau kreativitas, cinta kasih dan kepedulian, serta semangat kepahlawanan. Keempat unsur tersebut menjadi jalan bagi peserta untuk memahami bahwa sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri.

Pembelajaran kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai dinamika.

Melalui wide games, peserta menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan kerja sama, komunikasi, kreativitas, strategi, dan kemampuan mengambil keputusan bersama. Situasi permainan membuat peserta mengalami secara langsung bahwa kepemimpinan tidak dapat dijalankan seorang diri.

Salah satu dinamika yang menarik adalah teater mini.

Peserta diajak menghidupkan nilai-nilai kepemimpinan melalui lima tema, yakni kesadaran diri, kreativitas, cinta kasih, semangat kepahlawanan, dan kebenaran. Melalui teater, nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman dan tindakan.

Dinamika kemudian dilanjutkan dengan permainan pengibaran Bendera Merah Putih dan sharing dalam tiga putaran.

Dalam sesi sharing, peserta belajar mengungkapkan pengalaman sekaligus mendengarkan pengalaman orang lain. Mereka dilatih untuk menerima pengalaman teman tanpa menghakimi dan menemukan pembelajaran bersama dari pengalaman yang berbeda.

Sedang Chr. Danang Wahyu P menjelaskan, proses tersebut penting karena kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui pengetahuan dan keterampilan organisasi. Peserta perlu diberi ruang untuk mengalami, merefleksikan, dan menemukan makna dari setiap pengalaman yang mereka jalani.

“Kami ingin peserta tidak hanya pulang dengan membawa pengetahuan tentang kepemimpinan, tetapi membawa kesadaran baru tentang dirinya. Setiap dinamika sebenarnya menjadi cermin: bagaimana saya bekerja sama, bagaimana saya mengambil keputusan, bagaimana saya mendengarkan, dan bagaimana saya memperlakukan orang lain. Dari sana mereka belajar bahwa memimpin orang lain selalu diawali dengan kemampuan memimpin diri sendiri,” jelas Danang.

Malam hari menjadi kesempatan untuk memperlambat langkah melalui Examen.

Dalam tradisi spiritual Ignatian, Examen menjadi latihan pemeriksaan batin untuk melihat kembali pengalaman yang telah dijalani. Peserta diajak menemukan kehadiran Tuhan dalam pengalaman hari itu, mensyukuri hal-hal baik yang telah diterima, menyadari kekurangan, serta menentukan langkah perbaikan.

Berefleksi Menuju Aksi

Hari kedua membawa peserta pada pengalaman yang lebih konkret melalui peregrinasi dan aksi diri. Peregrinasi menjadi ruang untuk berjalan sekaligus merenung.

Perjalanan fisik tersebut diolah menjadi perjalanan batin untuk melihat kembali arah hidup, mengenali panggilan pelayanan, serta menyadari bahwa kepemimpinan membutuhkan proses pencarian dan refleksi yang terus-menerus.

Pengalaman reflektif tersebut kemudian diterjemahkan dalam tiga bentuk aksi, yakni orasi, kerja bakti, dan aksi sosial.

Melalui orasi, peserta dilatih untuk berani menyampaikan gagasan mengenai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar, khususnya persoalan sampah. Mereka tidak hanya diajak melihat masalah, tetapi juga menyampaikan keprihatinan dan gagasan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.

Kerja bakti menjadi pengalaman konkret untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, aksi sosial menjadi ruang untuk mengasah compassion atau kepekaan terhadap sesama, khususnya kepada masyarakat dan mereka yang membutuhkan perhatian.

Dalam rangkaian tersebut, kehadiran Victor Yuna Aditya Putra memberikan warna tersendiri.

Sebagai alumni SMP Joannes Bosco yang pernah menjadi pengurus OSIS dan kini melanjutkan pendidikan di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Victor hadir membawa pengalaman personal mengenai perjalanan kepemimpinan yang pernah ia jalani.

Kehadirannya menunjukkan bahwa proses pendidikan dapat terus berlanjut melalui jejaring alumni. Apa yang dulu diterima di bangku SMP dapat dikembangkan dalam lingkungan pendidikan berikutnya dan pada saat yang sama dibagikan kembali kepada generasi sesudahnya.

Kolaborasi Yang Menjadi Gerakan Bersama

Keterlibatan SMA Kolese De Britto dalam LDK OSIS SMP Joannes Bosco ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Sekolah dapat saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat proses formasi peserta didik melalui jejaring yang hidup.

Bagi SMP Joannes Bosco, LDK bukan hanya kegiatan tahunan untuk mempersiapkan pengurus OSIS, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan peserta didik.

“Kami berharap melalui LDK ini anak-anak tidak hanya memahami tugas dan tanggung jawab sebagai pengurus OSIS, tetapi juga semakin mengenal dirinya, mampu bekerja sama, berani mengambil tanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Kepemimpinan yang kami harapkan adalah kepemimpinan yang tumbuh dari keteladanan dan kesediaan untuk melayani,” ungkap Kepala SMP Joannes Bosco Fransiskus Haryo Tri Aji.

Dalam semangat 3B, LDK ini menjadi ruang nyata untuk berkolaborasi melalui keterlibatan dua lembaga pendidikan, berkontribusi melalui berbagi kompetensi dan pengalaman kepemimpinan, serta mendorong peserta didik untuk berprestasi.

Prestasi dalam konteks ini tidak semata-mata dimaknai sebagai pencapaian akademik, tetapi juga sebagai keberanian memberikan yang terbaik bagi diri, sesama, dan lingkungan.

Semangat tersebut sekaligus menjadi wujud konkret dari pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai pribadi yang dipanggil untuk berkembang dan memberikan dampak.

Kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan berbicara, mengatur kegiatan, atau mengambil keputusan. Kepemimpinan menemukan maknanya ketika kemampuan tersebut digunakan untuk membangun kehidupan bersama.

Karena itu, LDK tidak berakhir ketika seluruh rangkaian kegiatan selesai.

Para peserta diajak melakukan Renovatio Vitae, yakni merefleksikan kembali seluruh pengalaman yang telah dijalani dan merumuskan niat perubahan hidup yang dapat diwujudkan setelah LDK.

Renovatio Vitae menjadi penting karena pengalaman akan kehilangan maknanya jika tidak diolah menjadi pembelajaran dan tindakan. Apa yang ditemukan tentang diri selama LDK perlu dibawa kembali ke kehidupan sehari-hari: dalam cara belajar, berelasi dengan teman, menjalankan tanggung jawab organisasi, menjaga lingkungan, dan melayani sesama.

Pada akhirnya, LDK OSIS SMP Joannes Bosco menjadi perjalanan untuk menemukan kembali makna kepemimpinan. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling depan, atau siapa yang paling banyak memiliki kemampuan. Melainkan tentang siapa yang bersedia terus belajar mengenal dirinya, bertumbuh bersama orang lain, dan mengubah kemampuan yang dimiliki menjadi pelayanan.

Dari mengenal diri, peserta diajak bertumbuh. Dari pertumbuhan, mereka dipanggil untuk bertindak. Dan dari tindakan, mereka belajar melayani. Inilah kepemimpinan yang diharapkan tumbuh dalam diri para pengurus OSIS SMP Joannes Bosco: kepemimpinan yang berakar pada kesadaran diri, diperkaya oleh kreativitas, digerakkan oleh cinta kasih, diperkuat semangat kepahlawanan, dan diarahkan pada kebenaran.

Dengan demikian, LDK bukan sekadar latihan untuk menjadi pengurus OSIS. Lebih jauh, LDK menjadi ruang untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum dipercaya memimpin orang lain sekaligus pribadi yang siap mengenal diri, bertumbuh, dan akhirnya hadir untuk melayani, demi kemuliaan Allah yang lebih besar.

Pos terkait