Warta Kita.org – Event Biennale Klaten 4 2026 yang mengusung konsep environmental art (seni lingkungan) digelar di Ruang Publik Lima Benua di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten dari Senin sampai Rabu (20-22/4/2026).
Biennale yang mengangkat tema “Tak Gendong The Power Of Women” ini secara resmi dibuka oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik Muhammad Asrian Mirza.
Penyelenggara Biennale, Temanku Lima Benua menyampaikan, Biennale Klaten 4 2026 ini memadukan 5 maestro seniman klasik dan 5 maestro seniman kontemporer, serta 4 ahli tata kelola yang mengharmonisasi desain yang berorientasi pada penggabungan kemewahan, detail rumit, dan nuansa elegan dari gaya tradisional dengan kesederhanaan garis karakter, tekstur yang bersih, serta fungsional modern.
“Biennale Klaten 4 2026 ini mengusung konsep Environmental Art (seni lingkungan) dan mengangkat tema utama “Tak Gendong The Power Of Women” yang berfokus pada kesadaran ekologis, pengelolaan limbah, dan pemaknaan ulang nilai-nilai sosial yang dilakukan dalam 3 sesi. Sesi pertama melakukan kajian. Sesi kedua residensi. Dan sesi ketiga memamerkan hasil karya,” katanya.
Perempuan yang akrab disapa Liben ini menjelaskan, “Tak Gendong” mencerminkan filosofi tanggung jawab, beban, dan kekuatan yang selaras dalam konteks lingkungan.
“Bagaimana perempuan berperan penting dalam merawat lingkungan (menggendong beban ekologis) dan mengelola sampah rumah tangga dengan memilah sampah dari rumah,” ujarnya.
Liben menyatakan, Klaten Biennale “Tak Gendong” telah mengalami transformasi dari Biennale Klaten Eklusif menjadi Inklusif, yang berjalan perlahan tapi pasti.
“Klaten Biennale “Tak Gendong” tidak hanya menyajikan karya visual, tetapi juga pengalaman sosial dengan panggung pertunjukan, kuliner tradisi, dan sejarah yang melekat erat di dalam arus lokal dan global, di mana seniman bersama warga bekerja sama dalam berkarya. Sehingga ini menjadi hajatan bersama dan sebagai ruang jumpa antara seni lokal – kontemporer – industri budaya – ekonomi budaya dan arus global dalam menjaga lingkungan,” terangnya.
Ia mengatakan, gelaran Biennale Klaten 4 ini ingin merespon isu lingkungan yang santer digaungkan terkait dengan perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming), serta pelaku seni dan budaya.
“Karenanya, Biennale Klaten ini juga melibatkan penggiat lingkungan seperti ibu-ibu bank sampah dan juga pemulung. Ada 50 pelaku seni budaya dan penggiat lingkungan yang terlibat dalam Biennale Klaten 4 ini,” tandas Benua.

Sedang Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, Muhammad Asrian Mirza menyambut baik Biennale Klaten 4 yang diinisiasi Liben dan kawan-kawannya ini.
“Biennale Klaten ini luar biasa. Ini adalah contoh karya seni atau para seniman yang dari daerah, yang menunjukkan kemampuannya. Ini harus didukung,” tandasnya.
Muhammad Asrian Mirza menjelaskan, Liben dan kawan-kawan ini adalah salah satu penerima Dana Indonesiana, dana abadi dari pemerintah. Dana itu disalurkan lewat Kementerian Kebudayaan.
“Liben menerima dana ini, dan mereka langsung berkarya. Dana ini untuk siapa saja. Bukan hanya untuk segelintir orang,” terangnya.
Asrian mengatakan, tujuan Dana Indonesiana ini untuk memberikan bantuan kepada seniman atau siapa saja yang membutuhkan dana untuk berkarya. Baik itu seni tari, seni musik, atau mereka yang perlu bantuan untuk berkarya keluar.
“Tahun 2026 ini penerimanya 2400 orang lebih, dari 7000 orang lebih pendaftar. Jadi, monggo kita manfaatkan dana ini. Mari berkarya dengan kemampuan masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu Dosen ISI Yogyakarta Prof M Dwi Maryanto mengapresiasi upaya Liben yang ingin membawa kembali para seniman, lalu menghidupkan kembali para seniman lokal. Karena banyak seniman dari daerah ini yang berkarya ke Jogja, Solo, Semarang dan tidak pulang.
“Event ini unik sekali. Dari setting tempat sudah unik sekali. Ini kan tempat pertemuan aliran air. Air itu kan sumber kehidupan. Lha, ini menjadi pertemuan hidup. Ketika sumber air itu sudah didapat, maka perlu menjaga sumbernya, yaitu pohon,” ungkapnya.
M Dwi Maryanto merasa kagum atas apa yang telah dilakukan Liben selama ini.
“Orang seusia Liben ini bisa membuat event di Klaten, seperti biennale, Art Klaten, itu sudah luar biasa. Punya kesadaran untuk menggali, menumbuhkan potensi cultural local itu sudah bagus sekali. Kesadaran untuk menggalang ibu-ibu, memfokuskan upaya mereka mempunyai kesadaran itu sudah bagus sekali. Sekarang tinggal bagaimana itu diekspos, ada orang yang bisa membantu. Kemudian buatkah event yang berkelanjutan. Lalu ketika nanti ada reward, ada penghargaan, maka orang itu akan datang dengann sendirinya,” ucapnya.
Hajatan Bersama Biennale Klaten 4 ini dibuka dengan penampilan paduan suara dan art dance dari SMA Negeri 3 Klaten serta gedruk Topeng Ireng Saloka Budaya dari Selo, Boyolali.









