Rayakan HUT Ke-77, SMA Kolese De Britto Berkolaborasi Dengan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta Adakan Banyak Acara, Usung Judul “ARSARA”

Tari kolosal memeriahkan HUT ke-77 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.

Warta Kita.org – Kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta tahun 2025 ini mengusung judul “ARSARA”.

Judul tersebut merupakan gabungan dari kata ‘Asa’ dan ‘Raga’ yang merupakan bahasa Indonesia serta kata ‘Svara’ yang merupakan bahasa Sansekerta. Ketiga kata tersebut membingkai tiga hari kegiatan untuk saling berkesinambungan secara makna dan spiritualitas.

Bacaan Lainnya

Asa’ berarti harapan, cita-cita, atau impian yang terus diperjuangkan. Hal ini melambangkan sebuah harapan bagi mereka yang tersingkirkan. ‘Raga’ berarti tubuh, tindakan, dan gerakan yang merengkuh. Hal ini melambangkan aksi konkret untuk mewujudkan harapan tersebut. Sedang ‘Svara’ berarti suara yang lahir dari kedalaman hati bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk dihidupi, sebagai bentuk kasih dan keberpihakan pada sesama.

Melalui judul “ARSARA”, kegiatan ini dapat mewujudkan harapan melalui suatu aksi konkret bagi mereka yang tersingkirkan, serta suatu tempat bagi mereka yang jarang terlihat untuk menghidupi harapan itu sendiri.

Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta Christophorus Danang Wahyu Prasetio menyampaikan, kegiatan HUT ke-77 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta mengangkat tema “Walking with the Excluded.” Tema ini diambil dari salah satu arah dasar dalam panduan global karya-karya Serikat Jesus yakni Universal Apostolic Preferences (UAP) yang berwarna merah.

Dalam dasar UAP tersebut, Jesuit ingin agar karya kerasulan dapat menjadi suatu ruang sebagai sarana bagi mereka yang kurang terlihat, terbuang dan tersingkirkan, serta yang martabatnya telah diperkosa untuk ikut terangkul, sehingga, orang-orang yang terpecah belah dapat disatukan, dan pada akhirnya mereka yang terluka dapat disembuhkan.

Upacara HUT RI ke-80 di lapangan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Semangat yang diusung dalam kegiatan ini bagaikan sebuah lilin yang dapat menjadi penerang dan penuntun bagi mereka yang tersingkirkan. Kolaborasi ini menjadi lilin kecil yang menyala bukan karena spektakuler, tapi karena dihidupkan oleh cinta, solidaritas, dan keberanian untuk melihat serta berjalan bersama mereka yang tidak selalu mendapat tempat di panggung utama kehidupan. Hal ini mencerminkan suatu rumah yang nyaman dengan penuh harapan, cerita, dan cinta kasih bagi semua orang. “Tema kegiatan ini selaras dengan judul yang diusung yaitu “ARSARA” yang memiliki makna, rasa kasih dan cinta dapat tersalurkan bagi mereka yang tersingkirkan melalui perbuatan serta raga yang saling mengiringi wadah untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Christophorus Danang Wahyu Prasetio menjelaskan, latar belakang yang menjadi dasar kolaborasi kegiatan perayaan HUT ke-77 Tahun SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta ini antara lain karena sejarah berdirinya dua sekolah tersebut.

SMA Kanisius Yogyakarta didirikan pada tanggal 19 Agustus 1948 oleh Yayasan Kanisius, para rama Jesuit, dan para suster Carolus Borromeus (CB). Sekolah ini merupakan cikal bakal berdirinya SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.

Secara resmi, jabatan kepala sekolah (saat itu) dipegang oleh Rama R van Thiel, S.J. Tetapi akibat peristiwa peperangan dengan Belanda mengakibatkan instansi pendidikan tersebut diharuskan tutup sementara.

Pentas seni menyemarakkan HUT ke-77 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.

Setelah keadaan tenang, kegiatan sekolah kembali dimulai dengan kegiatan pembelajaran oleh pelajar putri pada bulan Agustus 1949. Sedangkan pelajar putra dimulai pada bulan Oktober 1949. Peristiwa tersebut membuat pelajar putra dan putri dipisahkan. Bagian putra diasuh oleh para rama Jesuit dengan menggunakan nama SMA Santo Johanes De Britto. Sedangkan bagian putri diasuh oleh para suster Carolus Borromeus dengan  menggunakan nama SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.

Tepat pada tanggal 1 Agustus 1962, kepengurusan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta yang semula masih disatukan dengan SMA Kolese De Britto Yogyakarta, secara resmi diserahkan kepada Yayasan Tarakanita. Sedangkan SMA Kolese De Britto Yogyakarta tetap diasuh oleh Yayasan De Britto.

“Perubahan dan perkembangan instansi pendidikan ini menjadi rangkaian peristiwa yang panjang dan dinamis, serta menjadi instansi pendidikan berlandaskan asas-asas Katolik yang melahirkan siswa dan siswi bermoral serta berkarakter sesuai dengan nilai-nilai dari 1L+5C dan Cc5+,” terangnya.

Danang menyatakan, SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta menjadi pilar penting lembaga pendidikan Katolik di Yogyakarta yang memberikan pengaruh positif terhadap masyarakat.

Pemaknaan api obor pada lambang SMA Kolese De Britto Yogyakarta sebagai api dan semangat untuk menerangi hati setiap orang. Sedang pemaknaan “Bintang Penuntun” dan “Bintang Samudera” sebagai harapan dan perjuangan di tengah-tengah gelombang.

“Maka dari itu, kami ingin menghidupi dan membawa nilai yang berasal dari Universal Apostolic Preferences (UAP) yakni “Berjalan Bersama yang Tersingkirkan.” Kegiatan kolaborasi ini dapat menjadi kegiatan yang berdaya ubah terhadap siswa dan siswi untuk pihak eksternal dan internal,” ujarnya.

Para murid SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta menanam bibit pohon di Pantai Trisik, Kulon Progo.

Danang mengatakan, dalam mewujudkan harapan tersebut, maka kegiatan ini mengacu pada salah satu nilai 1L + 5C yakni Compassion (C), yang mengajak mereka untuk membuat kebijakan yang mendukung keberpihakan kepada yang miskin, lemah, dan tersisih.

Selain itu, nilai Compassion (C) pada Cc5+ dari SMA Stella Duce 1 Yogyakarta juga sejalan dengan UAP yang menuntun mereka untuk mewujudkan sikap kerendahan hati, menyadari bahwa mereka hanyalah alat di tangan Tuhan yang dipanggil untuk melayani.

“Dengan mengintegrasikan nilai tersebut dalam setiap kegiatan, kami berharap dapat membawa perubahan positif yang bukan hanya dirasakan oleh sekolah, tetapi juga oleh masyarakat luas, serta mewujudkan semangat kasih yang melampaui batas-batas duniawi,” harapnya.

Danang mengemukakan, seluruh murid SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta merupakan Generasi Z yang dikenal sangat terhubung dengan dunia digital dan memiliki kesadaran tinggi terhadap berbagai isu sosial. Namun, kesadaran tersebut belum diiringi dengan tindakan nyata yang berkelanjutan untuk menciptakan perubahan. Sehingga, tidak sedikit yang kurang memahami realitas kehidupan mereka yang tersingkirkan. Maka dari itu, suatu tantangan yang muncul adalah bagaimana cara mengubah semangat awareness menjadi accompaniment dan action, demi mewujudkan nilai compassion.

Kegiatan pasar murah diselenggarakan di Halaman Politeknik YKPN Yogyakarta.

Nilai ini sejalan dengan ungkapan dalam Mars De Britto yang berbunyi: “Agar dapat menuang tenagaku, bagi Tuhan dan Bangsaku.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa SMA Kolese De Britto Yogyakarta mengajarkan muridnya untuk ikut keberpihakan bagi mereka yang tersingkirkan juga. Menunjukan semangat pelayanan yang tulus dengan memberikan pengertian kepada semua orang, bahkan yang bukan menjadi sorotan karena kata ‘Bangsaku’ mencerminkan seluruh masyarakat. Sehingga mereka yang tidak memiliki panggung juga memiliki kesempatan untuk diperhatikan dan dirangkul.

Selain itu, terdapat sebuah ungkapan pula dalam Mars Stella Duce yang berbunyi: “Kamu sinar cahayanya, pelindung nusa, arah pedoman cita-cita tujuan mulia.” Ungkapan ini menegaskan bahwa SMA Stella Duce 1 Yogyakarta bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga sinar penuntun yang memberi arah dan melindungi, terutama bagi mereka yang tersingkirkan.

Berangkat dari pemahaman tersebut, kegiatan ini diharapkan menjadi perwujudan nyata semangat nilai 1L+5C dan nilai Cc5+ untuk berjalan bersama yang tersisih, membentuk pribadi penuh kasih, serta mempersembahkan karya terbaik bagi Tuhan dan Bangsa.

Pelaksanaan perayaan HUT SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta ke-77 dan perayaan HUT RI ke-80 dilaksanakan secara kolaborasi dengan kegiatan selama 3 hari yaitu pada tanggal 17, 19, dan 20 Agustus 2025.

Pada hari pertama, tanggal 17 Agustus 2025, dilaksanakan upacara HUT RI ke-80 di lapangan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Upacara ini dihadiri oleh Rama, Suster, Direksi, para siswa dan siswi, guru, serta karyawan dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Pakaian yang dikenakan selama upacara berlangsung merupakan pakaian profesi dan nusantara, serta adat dari berbagai daerah.

Misa Syukur HUT ke-77 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.

Sedang pada hari kedua, tanggal 19 Agustus 2025 dilaksanakan misa syukur HUT SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Siswa dan siswi menggunakan atasan berkerah (siswi Stece menggunakan atasan bernuansa putih) dan celana panjang bebas, sopan, dan rapi.

Setelah misa, diadakan jeda untuk persiapan acara yaitu tari kolosal “De Britto dalam harmoni nusantara” dan pentas seni di sore hari. Kegiatan tari kolosal dan pentas seni diisi dengan penampil internal oleh siswa dan siswi, alumni dan alumna dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.

Pada kegiatan pentas seni disediakan pula beberapa stand makanan dan minuman dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pentas seni bersifat wajib dan dihadiri Rama, Suster, Direksi, para siswa dan siswi, guru, staf, karyawan, sejumlah alumni dan alumna undangan, dan tamu undangan lainnya.

Sementara pada hari ketiga, tanggal 20 Agustus 2025 dilaksanakan kegiatan antara lain pertama, kegiatan donor darah yang dilaksanakan di Ruang Kaca SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Kemudian, kegiatan pasar murah yang diselenggarakan di Halaman Politeknik YKPN Yogyakarta, serta kegiatan thrifting (membeli barang bekas atau secondhand) yang diselenggarakan di GOR Politeknik YKPN Yogyakarta sebagai bentuk adaptasi selama masa relokasi.

Kegiatan thrifting diadakan di GOR Politeknik YKPN Yogyakarta.

Dalam masa relokasi ini diharapkan tetap dapat mendukung kelancaran kegiatan serta menjaga antusiasme dan partisipasi warga sekolah maupun masyarakat umum.

Untuk kegiatan pasar murah dan thrifting diikuti oleh siswa dan siswi dari Kelas X beserta Kelas XI. Selanjutnya, ada kegiatan melukis yang diikuti oleh siswa dan siswi dari Kelas X, XI, serta XII yang berlokasi SMA Stella Duce 1 dan Politeknik YKPN Yogyakarta.

Sementara itu, siswa dan siswi kelas XII melaksanakan kegiatan bakti sosial yang diadakan di sejumlah lokasi di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain itu, dilaksanakan aksi penanaman bibit pohon di Pantai Trisik, Kulon Progo oleh murid-murid kelas XII.

Terakhir, bagi siswa dan siswi yang belum mendapatkan bagian dalam kegiatan-kegiatan yang sudah ada, mereka mengikuti workshop di Aula SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Pos terkait