WartaKita.org – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi kegiatan yang dijalani oleh sebagian masyarakat DIY untuk mencari penghasilan.
Namun sejak pandemi Covid-19 mendera, sejumlah pelaku UMKM terkena dampaknya, yaitu penurunan penghasilan.
Salah satunya adalah Edi Waluyo, yang berjualan cilok dan cireng.
Demi menghidupi istri dan satu anaknya yang masih sekolah di play group, Edi memulai usahanya sejak tahun 2016 atau enam tahun yang lalu.
Dulu, Edi berjualan secara keliling. Biasanya pada pagi hari, ia berjualan di Puskesmas Sedayu 1. Lalu menjelang istirahat anak sekolah, ia berpindah di SD Negeri Panggang.
Sejak pandemi Covid-19, Edi Waluyo memutuskan untuk berjualan di pinggir jalan Wates Km 8. Ia mulai berjualan pada pukul 15.00 atau setelah Ashar hingga pukul 21.00 WIB.
Sebelum pandemi, pendapatan Edi dari berjualan cilok dan cireng bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per harinya.
“Tetapi pendapatan saya sekarang tidak menentu. Pandemi Covid-19 ini benar-benar sangat berdampak. Ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM. Sehingga membuat kita susah bergerak,” ujar Edi.









