WartaKita.org – Umat Lingkungan Santo Yusup Jebugan, Paroki Santa Maria Assumpta Klaten mengadakan Ibadat Sabda yang diikuti sekitar 80 umat yang terdiri dari PIA, PIR, OMK dan orangtua di Kapel Santo Yusup Pekerja Jebugan, Klaten Utara pada Jumat (23/8/2024).
Ibadat bersama ini pertama kali diadakan sejak pergantian Ketua Lingkungan, dari Ketua Lingkungan yang lama Yohanes Jaka Susanto ke Ketua Lingkungan yang baru, Yustinus Agus Yunianto yang dilantik pada bulan Januari 2024 lalu.
Ibadat Sabda ini, selain untuk mengenalkan ketua lingkungan yang baru, juga bertujuan mengumpulkan umat untuk saling mengenal dan peduli.
Untuk diketahui, Lingkungan Santo Yusup Jebugan ini dibagi tiga kelompok, yaitu Kelompok Taman Anggrek, Jebugan dan Gelangan. Kelompok ini sudah rutin mengadakan ibadat sendiri.
Ibadat Sabda dipimpin Prodiakon Paroki Lusi.
Sedangkan renungan dibawakan oleh FX Pardiman dengan tema “Murid vs Pengikut Yesus”.
Sebelum menyampaikan renungan, Pardiman mengajak anak-anak bersama umat menyanyikan lagu “Di sini Yesus. Di sana Yesus. Di mana-mana ada Yesus. Alleluya Puji Tuhan, Alleluya Puji Tuhan, Alleluya…”
Untuk masuk dalam renungan, Pardiman mengajukan pertanyaan kepada umat. Siapa yang menjadi murid Yesus? Sebagian umat nengacungkan jari. Siapa yang menjadi murid Yesus? Umat malah semakin bingung. Karena mereka belum tahu antara pengikut dan murid.
Di saat umat mulai bingung, Pardiman menjelaskan, bahwa ada perbedaan yang mendasar antara menjadi murid dan pengikut Yesus.
Menjadi murid Yesus berarti memiliki komitmen yang lebih mendalam untuk belajar, hidup, dan mengikuti ajaran Yesus. Menjadi murid Yesus memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Yesus, seperti seorang murid dengan gurunya.
Menjadi murid Yesus berarti mengalami transformasi hidup secara berkelanjutan, menyerupai Kristus dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menjadi murid Yesus berarti memiliki panggilan untuk memberitakan Injil dan membuat murid-murid baru bagi Kristus.
Sedang menjadi pengikut Yesus mungkin hanya mengikuti ajaran Yesus secara umum, tanpa komitmen yang mendalam untuk berubah. Hubungan dengan Yesus tidak terlalu dekat. Hubungan dengan Yesus mungkin lebih bersifat kasual, tanpa keterlibatan yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan hidup tidak konsisten. Perubahan hidup mungkin bersifat sementara atau hanya pada aspek tertentu, tanpa transformasi menyeluruh. Pengikut mungkin lebih fokus pada apa yang bisa mereka dapatkan dari Yesus, daripada apa yang bisa mereka berikan.
“Intinya, murid adalah mereka yang tidak hanya mengenal Yesus, tetapi juga hidup di dalam-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Sedang pengikut mungkin mengenal Yesus, tetapi belum sepenuhnya menyerahkan hidup mereka untuk mengikutinya,” kata Pardiman.
Ibadat Sabda ini diakhiri dengan ramah tamah dan menikmati makanan ala desa yang ditemani penyanyi lokal serta pembagian doorprize.









