Monday, 23 Nov 2020


Usaha Konveksi Itu Berpeluang, Modalnya Juga Nggak Harus Banyak

Isidorus Garisa Lorka

WartaKita.org – Isidorus Garisa Lorka adalah salah satu wirausahawan muda di negeri ini.

Pria berusia 23 tahun itu memulai usahanya sebagai pemilik konveksi di Desa Manggis, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Konveksinya itu dia beri nama ‘Mangosteen’.

Walaupun masih menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Psikologi, tetapi dia tetap mampu membagi waktu untuk studi dan juga usahanya.

Awalnya, dia membangun usaha konveksinya itu karena di daerahnya belum ada yang merintis usaha konveksi. Karena itu, dia merancang dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Pria yang sering dipanggil Ido ini menjelaskan, langkah pertama yang dia lakukan adalah melihat pasarnya dulu. Kemudian memperhitungkan biaya, tenaga kerja, dan lainnya. Ketika semuanya sudah pasti, maka mulailah dia membuka usaha konveksinya itu.

“Tidak ada kesulitan dalam pembagian waktu untuk kerja dan kuliah. Karena saya mengatur waktu paginya untuk kuliah, sedang malamnya untuk bekerja,” katanya.

Ido menceritakan, kesulitan diawal saat memulai usaha adalah pengalaman kerja atau kualitas tenaga kerjanya, baik dari penjahit dan penyablon yang belum sesuai dengan standar.

“Untuk menanggulangi kesalahan itu, yang saya utamakan adalah meningkatkan skill dari tenaga kerja yang ada,” ujarnya.

Selain mengalami kesulitan dalam segi tenaga kerja, dia juga merasakan kesulitan dalam menghadapi pelanggan. Karena dia harus memperkenalkan produk yang baru yang belum ada di daerahnya. Karena jenis kaos di daerah Jawa Timur itu berbeda.

“Orang di sini menilai, bahan yang lebih tebal itu lebih bagus. Nah, ini kesulitan saya untuk memperkenalkan produk yang baru, seperti jenis kain-kain combed 30s yang agak tipis,” terangnya.

Setelah satu tahun terjun di dunia usaha, dia lalu membagikan harapannya untuk anak-anak muda seusianya agar bisa memulai usaha sedini mungkin.

“Saya melihat, untuk anak-anak muda sekarang, usaha konveksi ini sebenarnya banyak peluang. Dan untuk modalnya juga nggak harus banyak. Tinggal bagaimana kita menyiasati, dan menjual ide-ide kita ke masyarakat,” ucapnya.

Ido menambahkan, pada saat teman-teman muda mampu menjual ide-ide mereka ke masyarakat, dan juga menjalin relasi dengan siapa saja, itu sudah menjadi modal yang cukup untuk memulai sebuah usaha.

“Dan yang jelas adalah, kita tidak hanya menuntut kepada negara. Tetapi kita juga harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang telah kita lakukan untuk negara kita sendiri,” tandasnya.

Menjalankan sebuah usaha memang tidak mudah, apalagi masih menjadi seorang mahasiswa aktif. Maka diperlukan adanya niat, semangat, dan tekad untuk berani memulai dan mengembangkan sebuah usaha. (Mickael Amabel, mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta, Prodi Public Relations/ls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *