Friday, 26 Feb 2021


Tumbuhkan Semangat Kekatolikan Di Masa Pandemi, Paroki Cawas Dampingi PIA Dan PIR Secara Daring

Anak-anak Paroki Cawas sedang berdoa bersama.

WartaKita.org – Salah satu prioritas garapan Arah Dasar (Ardas) VIII Keuskupan Agung Semarang (KAS) yaitu semangat kekatolikan.

Paroki Santa Maria Assumpta Cawas, Kabupaten Klaten sebagai bagian dari Gereja KAS mengimplementasikan semangat kekatolikan tersebut dengan mendampingi anak-anak PIA (Pendampingan Iman Anak) dan PIR (Pendampingan Iman Remaja) yang sedang bertumbuh dalam iman. Karena masih dalam suasana masa pandemi Covid-19, maka pendampingan dilakukan secara daring.

Pastor Kepala Paroki Santa Maria Assumpta Cawas Rama Alexandre Joko Purwanto Pr menyampaikan, dalam Pekan Doa Sedunia misalnya, anak-anak diajak untuk berdoa bersama-sama di rumah masing-masing setiap pukul 16.00 sore. Pendamping sudah menyiapkan materi yang bisa diunggah di media sosial atau WhatsApp (WA).

“Semangat doa ini dikembangkan di masa pandemi lewat ide-ide kreatif. Ini dilakukan agar anak-anak tetap menghayati diri sebagai orang Katolik. Tidak banyak yang bisa dilakukan karena situasi yang sulit di masa pandemi ini. Tetapi hal-hal kecil bisa dilakukan agar anak-anak tetap dilayani kehidupan imannya,” katanya.

Rama Joko Purwanto menyatakan, ada banyak kendala dan tantangan dalam mengimplementasikan semangat kekatolikan di masa pandemi ini. Karena pandemi, membuat banyak orang harus tinggal di rumah. Tidak ada kegiatan-kegiatan berkumpul di gereja atau kapel atau lingkungan.

“Situasi ini tentu saja menyulitkan kita untuk membangun semangat kekatolikan. Karenanya, kami mengusahakan dengan pelayanan misa online. Tetapi hal itu tetap tidak maksimal tanpa adanya pertemuan, baik di lingkungan maupun di paroki,” ujarnya.

Rama Joko Purwanto menambahkan, kendala kurangnya sarana prasarana (misalnya kuota dan sinyal yang terbatas) dan situasi ekonomi keluarga yang melemah juga menjadi kendala. Semua orang sibuk menghidupi keluarga agar “kendhil-nya tidak ngglimpang.” Sehingga dampaknya, kegiatan-kegiatan kerohanian agak menurun.

“Semangat orang untuk mengikuti misa offline harus dikuatkan. Karena selama hampir satu tahun orang dimanja dengan “misa online di rumah.” Karena itu kami mulai “ngoprak-oprak” umat agar mereka yang sehat mau ke gereja mengikuti misa offline,” tandasnya.

Rama Joko Purwanto berharap, nilai-nilai kekatolikan tetap dapat dikembangkan dalam situasi pandemi yang sulit ini. Menurutnya, warga mungkin baru akan lepas dari pandemi ini kira-kira dalam kurun lima tahun ke depan. Dan dampak dari pandemi ini akan berlangsung lama.

“Maka mengembangkan nilai kekatolikan mestinya harus terus dijalankan secara berkesinambungan. Kita diajak untuk tidak henti-hentinya menabur semangat kekatolikan. Mulai dari keluarga, lingkungan, dan di paroki,” terangnya. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *