Monday, 23 Nov 2020


Saatnya Menata Ulang Masa Depan Anak Menjadi Lebih Baik

HARI ANAK SEDUNIA (HAS) diperingati setiap 20 November. Adapun tema HAS tahun 2020 ini yaitu “Menata Ulang Masa Depan Anak Menjadi Lebih Baik”.

Tema ini memiliki makna yang sangat penting. Peringatan ini menjadi momentum untuk kembali mempromosikan perlindungan hak-hak anak kita khususnya dalam aspek pendidikan.

Konvensi Hak-Hak Anak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagaimana klausul Pasal 28 dan 29 mengamanatkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Selain itu, pendidikan perlu menumbuhkan karakter, bakat, kondisi mental, dan kemampuan fisik anak.

Namun, pengalaman selama ini memperlihatkan suatu kecenderungan bahwa pendidikan, khususnya dalam hal ini persekolahan, pada kebanyakan peserta didik sekolah merupakan beban tersendiri. Tantangan yang ada akan bertambah kompleks ketika berhadapan dengan pendidikan dasar, pada khususnya sekolah dasar.

Sebagian pihak mengamati bahwa anak-anak pergi ke sekolah dengan beban fisik dan mental yang berat. Secara fisik dapat dilihat dari bobot tas yang harus dipanggul anak. Dan secara mental dapat dilihat dari jumlah jam belajar dan tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Tidak jarang terjadi pertengkaran di rumah antara anak dan orang tua yang disebabkan oleh keinginan yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan tidak terbangunnya suatu suasana belajar yang dibutuhkan anak, baik di sekolah maupun di rumah.

Kondisi tersebut, bagi peserta didik terkadang menjadi “momok” tersendiri. Mereka pergi ke sekolah dengan suatu beban. Ada rasa keterpaksaan. Lebih dari itu, jika harus memilih, maka sangat besar kemungkinan anak memilih tidak pergi ke sekolah.

Kita dapat melihat bagaimana gembiranya anak-anak (peserta didik) ketika mendengar kabar pengumuman libur atau bel akhir pelajaran. Begitu juga ketika pengumuman kelulusan. Peserta didik merayakan dengan spontan, suatu bentuk suka cita yang mengesankan keterbebasan.

Apakah ini perlambang bahwa selama masa sekolah mereka tidak mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan? Apa yang digambarkan tentu saja bukan keseluruhan potret dunia pendidikan kita. Namun fenomena umum yang terjadi di dunia sekolah saat ini. Ada pula sekolah dasar yang mampu membangun suasana yang menyenangkan.

Kondisi pendidikan tersebut membutuhkan sebuah perubahan. Perubahan yang dimaksud didasarkan pada pengertian bahwa pendidikan adalah suatu upaya untuk mengembangkan potensi anak. Tentu saja, harus dipastikan dalam penyelenggaraannya tidak menjadi wahana yang merugikan hak–hak anak.

Program pembelajaran sepenuhnya berbasiskan pada hak – hak dasar anak, kemampuan, partisipasi, dan juga nilai – nilai lokal. Pendidikan harus memperkuat upaya perlindungan hak–hak anak yang sarat dengan asas non-diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak.

Untuk itu, pentingnya merevitalisasi pelaksanaan pendidikan (dasar) menjadi lebih baik.

Lalu, mengapa pendidikan dasar ?

Pendidikan dasar merupakan dasar dari penalaran siswa dan proses pembentukan kepribadian serta bakat yang akan dimiliki siswa. Masa pendidikan dasar menjadi pondasi penting dalam menempuh pendidikan selanjutnya (menengah, atas, dan tinggi). Oleh karena itu, proses pembentukan keilmuan dan bakat siswa akan ditentukan di satuan pendidikan dasar tanpa harus mendoktrinisasi dan mendikte daya kreatifitas peserta didik.

Bagaimana pendidikan dasar yang ideal?

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 7 menyebutkan bahwa pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Hal tersebut menjadi tantangan yang strategis dalam usaha mengembangkan penyelenggaraan pendidikan dasar.

Penyelenggaraan pendidikan dasar yang ideal pada intinya diharapkan dapat menjawab tiga persoalan sekaligus : Pertama, bagaimana mengembangkan suasana belajar mengajar yang mengesankan dan menyenangkan bagi peserta didik sedemikian rupa sehingga hak-hak dasar anak untuk bermain dapat direalisasikan.

Kedua, bagaimana mengembangkan suatu proses belajar agar peserta didik dapat menerima materi dengan antusias, terbuka, kritis, dan membangkitkan potensi yang dimilikinya.

Ketiga, bagaimana agar pendidikan tersebut menjadi wahana yang dapat melahirkan generasi sebagaimana yang menjadi tujuan pendidikan nasional.

Manajemen dan pola pengajaran yang tepat dapat menjadikan peserta didik merasa nyaman ketika melakukan proses belajar mengajar tanpa adanya rasa tekanan dan beban. Hal ini penting mengingat proses pembelajaran membutuhkan konsentrasi dan daya nalar yang tinggi.

Untuk itu, manajemen pendidikan yang tidak membebani kemampuan peserta didik baik secara finansial maupun secara moral dan etik akan membuat proses belajar mengajar lebih baik. (ls)

Dr Arif Budiyono ST, MT

(Calon Bupati Klaten 2020-2024 dan Dewan Pembina Pusat Studi Klaten/PUSAKA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *