Tuesday, 22 Sep 2020


Polres Klaten Bongkar Pabrik Pupuk Palsu

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat press release pengungkapan kasus pupuk palsu di Wonogiri, Kamis (27/2/2020).

WartaKita.org – Polres Klaten berhasil bongkar praktek pembuatan pupuk palsu di wilayah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Aksi culas yang sangat meresahkan petani tersebut terhenti setelah para korban curiga dengan pupuk yang mereka gunakan dan melaporkan ke Polres Klaten. Selanjutnya, aparat bergerak cepat dengan menangkap SP yang berperan menawarkan pupuk palsu tersebut.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat press release di salah satu lokasi pabrik pupuk palsu di Lingkungan Pule, Kelurahan Gedong, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Kamis (27/2/2020) menyampaikan, laporan dari petani ini ditanggapi Polres Klaten dengan melakukan uji lab di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

“Dan hasilnya, kadar zat Natrium, Kalium dan lainnya jauh dari standar pupuk. Kemudian juga ada dugaan penggunaan merek palsu,” tandasnya.

Kapolda Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menyatakan, setelah dilakukan pengembangan, ternyata ada 7 pabrik yang berlokasi di wilayah Gunung Kidul dan Wonogiri yang memproduksi pupuk palsu tersebut. Semua pabrik akhirnya langsung disita. Sedang 6 tersangka langsung dilakukan penahanan karena terbukti melakukan kejahatan memproduksi pupuk ilegal dan pemalsuan merek.

“Menurut para tersangka, pabrik-pabrik tersebut sudah beroperasi antara 3 sampai 5 tahun dengan kapasitas 5 sampai 10 ton per bulan tergantung permintaan. Para pelaku terancam pasal 62 UU ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf a UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasal 122 UU RI nomor 22 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian, pasal 120 UU RI nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian dan pasal 114 UU RI nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan,” katanya.

Kapolda Jateng menjelaskan, memang ada celah dalam pemasaran pupuk, sehingga ada peluang terjadinya penipuan. Sebab seperti diketahui, bahwa jumlah pupuk yang beredar di setiap Kabupaten atau Kota itu terbatas dan tidak bisa mencukupi seluruh kebutuhan petani. Para tersangka ini memanfaatkan kondisi kelangkaan pupuk dengan memproduksi dan memasarkan pupuk palsu yang menurut perkiraan mereka akan sangat diterima petani.

“Dalam satu tahun, ada tiga kali masa tanam. Nah, pada masa tanam ketiga biasanya pupuk menjadi langka, karena kuotanya sudah diambil untuk menutup kekurangan masa tanam pertama dan kedua. Akibatnya, petani mencari pupuk alternatif. Di sinilah para oknum ini bermain,” jelasnya

Sedang salah satu petani korban asal Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Ngatijan yang dihadirkan dalam press release ini menuturkan, kelompok taninya terpaksa mencari pupuk di luar kios resmi penjualan karena saat itu sudah masuk masa tanam namun tidak ada pupuk di pasaran. Akhirnya, saat tersangka SP menawari pupuk, dia langsung mengiyakan. Karena dia memang butuh dan korban tidak curiga karena harga yang ditawarkan juga seperti harga normal.

Setelah beberapa hari pemakaian, barulah hal-hal aneh dia dirasakan. Tanaman padi yang biasanya menjadi subur setelah tiga hari ditaburi pupuk, kali ini tidak ada perubahan sama sekali. Pupuk palsu tersebut juga lengket dan berubah warna saat dicampur urea. Bahkan warnanya menempel di tangan dalam beberapa hari meskipun sudah dicuci.

Ngatijan menambahkan, setelah diperhatikan dengan seksama, dalam karung pupuk palsu tersebut ternyata ada perbedaan, seperti tulisan yang kurang terang dan warna yang berbeda. Jahitan juga lebih kendor dan lambang yang dicetak terbalik. Setelah yakin bahwa pupuk yang diterima adalah pupuk palsu, maka dia bersama petani lainnya kemudian melaporkan hal tersebut ke Polres Klaten.

“Kalau karung Phonska yang asli itu warnanya agak kebiru-biruan, tetapi yang palsu cenderung hitam. Kemudian tulisan SNI-nya lebih kecil,” terangnya.

Proses Produksi

Di salah satu pabrik yang berbentuk bangunan semi permanen di Lingkungan Pule, Kelurahan Gedong, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri terlihat hamparan batu kapur yang telah dihaluskan seperti pasir. Pabrik yang luasnya sekitar 2 hektar ini terbagi dalam 2 bagian. Kontur atas digunakan untuk menyimpan bahan batu kapur, kemudian pada bagian bawah digunakan untuk proses produksi sekaligus gudang penyimpanan. Di gudang terbuka ini tersimpan ribuan sak pupuk palsu siap edar. Sedang di bagian belakang terdapat alat-alat besar pembuat pupuk palsu.

Direskrimsus Polda Jateng Kombes Pol RY Wihastono Yoga Pranoto menjelaskan, bahan pupuk ini terbuat dari batu kapur yang dihaluskan kemudian dicampur dengan pewarna menggunakan wajan besar berdiameter sekitar 2 sampai 3 meter, kemudian baru dioven.

“Untuk pabrik pupuk yang di Gunungkidul, informasi sementara juga dicampur arang dan kotoran kelelawar. Nanti kita cek lagi,” ungkapnya.

Kombes Pol RY Wihastono Yoga Pranoto menambahkan, saat ini aparat masih mendalami apakah dari 7 pabrik ini dimiliki 1 bos, atau mereka hanya saling menularkan ilmunya. Karena jika dilihat dari cara pembuatannya, semuanya mirip.

Apresiasi

Pihak korban dan PT Petrokimia Gresik mengapresiasi tinggi atas pengungkapan pabrik pupuk palsu di wilayah Wonogiri dan Gunungkidul ini. Apalagi pupuk palsu ini mencatut nama PT Petrokimia.

“Terima kasih kasih kepada Polri yang telah bisa mengungkap tindakan pemalsuan pupuk melalui penyesatan logo petrokimia. Ini sangat merugikan petani,” kata perwakilan PT Petrokimia.

Sementara itu Bupati Wonogiri Joko Sutopo yang mendampingi Kapolda Jawa Tengah dalam press release ini juga menyampaikan apresiasinya kepada jajaran kepolisian yang telah serius melindungi warga dari tindakan pihak yang tidak bertanggungjawab terkait pupuk palsu. Dalam kesempatan tersebut Bupati Wonogiri juga menyampaikan permohonan maaf atas

“Kami perlu sampaikan permohonan maaf, telah terjadi sesuatu yang memprihatinkan dimana di wilayah Wonogiri kecolongan ada produksi pupuk palsu. Ke depan kami akan evaluasi secara berkala,” ucapnya.

Di akhir press release Kapolda Jateng menegaskan bahwa pihaknya masih akan terus melakukan pengembangan kasus tersebut antara lain dengan menelusuri jalur distribusinya. Prinsipnya, jangan sampai pupuk palsu ini juga memakan korban di wilayah lain.

Kapolda Jateng juga memberikan imbauan kepada para petani agar kejadian seperti ini jangan sampai terjadi lagi. Pertama, para petani dalam membeli pupuk agar di sentra-sentra yang ditunjuk Pemerintah yaitu di KPL (Kios Pupuk Lengkap). Kedua, agar para petani lebih jeli dan mengenali ciri-ciri pupuk asli. Dan ketiga, Ketua Gapoktan agar segera melaporkan setiap kejadian kepada aparat penegak hukum agar segera dihentikan. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *