Saturday, 24 Aug 2019


Pilgub, Umat Katolik Diajak Gunakan Hak Pilihnya

Andreas Pandiangan pada Kolasi Kevikepan Surakarta di Paroki Administratif Santo Aloysius Mojosongo, Surakarta, Rabu (14/3/2018).

Wartakita.org – Umat Katolik Kevikepan Surakarta diajak untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah, 27 Juni 2018 mendatang.

Ajakan ini disampaikan Moderator Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS) Rama Raymondus Sugihartanto, Pr pada Kolasi Kevikepan Surakarta di Paroki Administratif Santo Aloysius Mojosongo, Surakarta, Rabu (14/3/2018).

“Umat Katolik harus menggunakan hak pilihnya pada Pilgub nanti. Ingat, jangan sampai kita tidak menggunakan hak pilih kita. Karena kalau kita tidak menggunakan hak pilih kita, dikhawatirkan akan terpilih pemimpin (gubernur dan wakil gubernur) yang tidak kita kehendaki,” kata rama.

Dalam sarasehan bertema “ Peran umat Katolik dalam tahun politik 2018 menuju Pilpres” ini, Rama Sugihartanto menyatakan, umat Katolik perlu terlibat dalam setiap pentahapan Pilgub, terlebih pada saat pemungutan suara nanti.

“Mengapa kita harus terlibat (dalam pentahapan Pilgub)? Karena ini adalah wujud dari kecintaan kita kepada Indonesia demi terwujudnya peradaban kasih di negeri ini,” tandas rama.

Sedang Tim PK4AS Andreas Pandiangan mengatakan, untuk dapat memilih pada Pilgub nanti, maka seseorang harus sudah terdaftar sebagai pemilih.

“Maka, kalau Anda belum terdaftar sebagai pemilih Pilgub, silakan menghubungi PPS (Panitia Pemungutan Suara) di desa atau kelurahan Anda untuk mendaftar. Mumpung masih ada kesempatan. Dengan begitu, kita dapat memilih pada Pilgub nanti,” ujarnya.

Andreas Pandiangan berpesan kepada umat Katolik untuk menggunakan hak pilihnya secara benar dan bertanggung jawab pada Pilgub nanti. Diharapkan, umat Katolik dapat memilih pasangan Cagub dan Cawagub yang “ideal”.

“Kriteria pasangan calon (gubernur dan wakil gubernur) yang ideal itu adalah (singkatan dari) PTP, ITB, dan PPT. Yang dimaksud dengan PPT adalah (pasangan calon yang ) Pegang Teguh Pancasila. Sedang ITB ialah Inklusif, Toleran, dan (menjaga) Bhinneka tunggal ika. Sementara PPT adalah (mempertimbangkan) Partai politik Pengusung yang telah Terbukti mengawal Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” paparnya.

Hadir dalam kolasi kali ini, para rama, perwakilan dewan harian paroki, tim kerja HAK (Hubungan Antaragama dan Keyakinan), orang muda, serta biarawan dan biarawati. (L Sukamta)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *