Wednesday, 17 Jul 2019


Perhatikan “Etika” Saat Mengabadikan Perayaan Ekaristi

Perayaan Ekaristi pembukaan Temu Raya PIA PIR Rayon Klaten di Sendang Sriningsih Jali, beberapa waktu lalu.

Ada banyak hal yang dapat diabadikan oleh fotografer (baca: Komsos) dalam sebuah Perayaan Ekaristi.

Namun, sebelum fotografer mengabadikan Perayaan Ekaristi, ada baiknya kalau mereka mempersiapkan diri dan mau memahami berbagai “etika” saat mengabadikan Perayaan Ekaristi.

Berikut ini kami sajikan panduannya secara terperinci:

1.  Masa persiapan

Masa persiapan berisi antara lain: persiapan petugas (bersiap dengan jubah mereka: misdinar dan petugas lain, yaitu lektor, prodiakon dan juga pastur), petugas among tamu (penyambut umat yang datang), petugas penjaga atau penjual teks misa, petugas parkir, keamanan gereja, koor yang sedang bersiap atau pemanasan, dan juga bangku-bangku kosong yang belum terisi (dan umat yang datang lalu bersalaman dengan petugas among tamu).

Apakah mereka harus dipotret dengan metode candid atau dipersiapkan, diajak, diatur, lalu dipotret? Lakukan saja, biasanya anak-anak misdinar suka berfoto bersama, sedangkan prodiakon dan lainnya lebih banyak di-candid.

2. On the air (Ekaristi sudah dimulai)

Dimulai dari arak-arakan menuju altar (diambil dari depan, samping, ambil suasana – lensa lebar, dan zoom – tele). Dilanjutkan dengan rangkaian pembuka misa, misalnya pemberkatan altar, kemudian mengikuti tata perayaan Ekaristi. Sama seperti pemotretan di masa persiapan, disini fotografer perlu memotret suasana altar, koor, umat dengan menggunakan lensa lebar dan   juga tele atau portrait untuk petugas lektor, pemazmur, dirigen koor, termasuk Pastur. Komuni dan pemberkatan anak juga wajib difoto dalam beberapa sudut pengambilan, baik tele, portrait maupun lebar.

Hal yang membedakan dengan masa persiapan adalah etika. Beberapa hal yang perlu diperhatikan (etika) di sesi ini adalah:

A. Posisi fotografer
Ada baiknya petugas fotografer dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kanan, kiri, dan tengah supaya tidak banyak melakukan pergerakan yang dapat mengganggu liturgi atau konsentrasi doa atau Ekaristi.

B. Perpindahan
Sikap seorang fotografer dalam gereja (saat Ekaristi berlangsung) adalah membaur dengan umat, artinya: ketika umat duduk, fotografer juga harus duduk atau duduk bersila di lantai, sehingga tidak mencolok (fotografer yang menempati posisi tengah sebaiknya duduk di bangku bersama umat). Ketika akan berpindah ke belakang atau ke samping, usahakan menunggu saat umat berdiri. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu jangan berpindah ke tempat lain (ke kanan atau kiri) melewati depan bangku paling depan, tetapi lebih baik mundur baru geser ke baris kiri atau kanan.

C. Penggunaan lampu flash
Lampu flash jangan digunakan pada waktu konsekrasi, lebih baik dilakukan dengan menggunakan tripod. Namun bila ada permintaan khusus untuk mendokumentasikan prosesi ini, silakan dikonsultasikan dengan Pastur, sejauh mana lampu flash dapat digunakan pada sesi ini.

3. Sesudah Ekaristi

Sesudah Ekaristi, lakukan pemotretan seperti pada masa persiapan

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendokumentasian sebuah Perayaan Ekaristi. Apakah Perayaan Ekaristi Natal. Paskah, ulang tahun Paroki, dan sebagainya. Silakan disesuaikan dengan tata perayaan liturgi.

Semoga sharing tulisan ini dapat membantu Anda. Bila ada tambahan dan koreksi, silakan email ke komsoskevikepansurakarta@gmail.com atau WA di 0818 263 873. Berkah Dalem. (@komsos_ska)

 

1 thought on “Perhatikan “Etika” Saat Mengabadikan Perayaan Ekaristi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *