Tuesday, 19 Nov 2019


Perempuan Indonesia Lebih Toleran, Tidak Suka Lakukan Kekerasan

Acara dialog peran perempuan yang diadakan FKUB Klaten di Gedung Dharma Wanita Klaten, Kamis (7/11/2019).

WartaKita.org – Survey yang dilakukan Wahid Foundation dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang diluncurkan pada Januari 2018 menunjukkan, ada potensi toleransi yang luar biasa di kalangan perempuan Indonesia untuk mempromosikan perdamaian.

Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih toleran terhadap perbedaan dan lebih sedikit yang bersedia melakukan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap berbeda.

Pernyataan ini disampaikan Dosen Program Pasca Sarjana Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten Dr Esti Ismawati dalam dialog peran perempuan yang diadakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten di Gedung Dharma Wanita Klaten, Kamis (7/11/2019).

Dialog yang mengusung tema “Mewujudkan kerukunan dalam kehidupan berbangsa melalui moderasi beragama” ini menampilkan dua narasumber, yaitu Dr Esti Ismawati dan Ketua FKUB Kabupaten Klaten Syamsuddin Asyrofi.

“Survei yang melibatkan 1.500 responden laki-laki dan perempuan di 34 provinsi di Indonesia ini menunjukkan bahwa 80,7% perempuan mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama atau keyakinannya,” katanya.

Esti Ismawati menyatakan, pada survei tersebut juga terlihat bahwa, dalam konteks radikalisme, 80,8% perempuan lebih tidak bersedia radikal dibanding laki-laki yang sebesar 76,7%. Sedang perempuan yang intoleran (sebesar 55%) juga lebih sedikit dibanding laki-laki (sebesar 59,2%).

“Perempuan juga memiliki lebih sedikit kelompok yang tidak disukai (53,3%) dibanding laki-laki (60,3%). Ini merupakan potensi yang luar biasa bagi bangsa Indonesia untuk mencegah tindak radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Sedang Ketua FKUB Kabupaten Klaten Syamsuddin Asyrofi menyampaikan, semua agama mengajarkan moderasi, utamanya terkait dengan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia dan kemanusiaan. Dan Indonesia pada dasarnya memegang teguh sikap moderasi beragama sejak dulu.

“Moderasi di Indonesia juga menjadi kekhasan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang religius. Nilai-nilai agama adalah pijakan dasar untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia yang sangat multikultural dan multireligius,” tandasnya.

Syamsuddin Asyrofi mengatakan, cara beragama yang cenderung radikal fundamentalistik dan ekstreme eksklusif serta sikap intoleran akan berpengaruh negatif terhadap harmoni dan kerukunan umat beragama. (L Sukamta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *