Saturday, 18 Jan 2020


Pendidikan (Harusnya) Untuk Memanusiakan Manusia

DIALOG tentang bagaimana dan mengapa “Edukasi Indonesia” kerap kali mengisi perdebatan akademis di negeri ini.

Psikolog Seto Mulyadi dan Pendiri IHF Ratna Megawangi termasuk segelintir perintis yang mengisi sekaligus berperan dalam perdebatan yang dimaksud.

Terlepas dari segi manapun, keduanya membuka lembaran baru bagi khalayak umum tentang peranan “pendidikan” bagi orang Indonesia.

Hakekat Pendidikan

Di zaman milenial ini tidak ada salahnya membuka kembali tentang edukasi Indonesia guna mengikuti perubahan zaman yang semakin kompleks. Ini penting untuk memperoleh hal apa saja yang diperlukan ke depannya. Ini bukan sekadar opini tanpa dasar, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Pada dasarnya, pendidikan menjadi bekal bagi seluruh bangsa untuk menghadapai dunia yang nyata. Mulai dari belajar untuk tahu, mengerti, hingga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan adalah dasar dari pembangunan masyarakat Indonesia dan tidak ada batasan hingga ke pelosok wilayah manapun. Namun tidak jarang pemikiran idealis ini bertolak belakang dengan realita yang terjadi.

Pejuang, Penerapan, Harapan

Contohnya saja Saur Marlina Manurung atau yang akrab dipanggil Butet Manurung. Ia adalah seorang yang mengajarkan baca tulis di pedalaman Jambi sejak tahun 1999. Awalnya mendapat penolakan dari masyarakat rimba di pedalaman Jambi itu sendiri. Karena mereka menganggap pendidikan adalah budaya dari orang luar.

Butet mengajar pertama kali di pedalaman Jambi dan kemudian mulai mendirikan Sokola Rimba bersama dengan lima orang temannya pada tahun 2003. Sekolah ini sifatnya nomaden, yaitu kapan saja dan bisa berpindah. Inisiatif sehebat ini pun mengalami perjuangan yang cukup besar mengingat karakter masyarakat rimba di Indonesia.

Ada pula kisah Anies Baswedan sang Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar pada tahun 2009. Tujuannya adalah mengajak bersama masyarakat untuk ikut serta dan turut aktif mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan janji kemerdekaan.

Peranan pendidikan sangat penting dalam kaitannya dengan perubahan karakter dan perilaku. Pendidikan berusaha mengubah tingkah laku dalam berfikir dan bertindak atau bertingkah laku. Apabila sejak dini pendidikan telah diterapkan, maka orientasi terhadap pembangunan nasional dapat tercapai.

Pada era milenial, peranan pendidikan sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia. Karena kenyataannya, ada banyak masalah sosial timbul dan menjadi penyakit masyarakat.

Tuntutan pendidikan dalam kehidupan sangat komplek. Hal itu terbukti dengan banyaknya orang yang tidak berpendidikan yang berakibat status sosialnya kurang diperhatikan atau dikesampingkan.

Misalnya dalam dunia kerja, banyak perusahaan yang menerima para pekerjanya mulai dari pertanyaan pendidikan terakhir. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan berpengaruh besar dalam kehidupan.

Dengan pendidikan maka setidaknya dapat memberi wawasan dan pengetahuan. Pendidikan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki setiap manusia sehingga kehidupan menjadi lebih terjamin.

Pengaruh pendidikan lainnya sebagai proses sosialisasi dalam masyarakat dengan wajar dan mulus. Orangtua dan keluarga berharap proses sosialisasi yang diterima dalam masa sekolah atau sejenisnya dapat mengajarkan anak-anak untuk memahami dan mengadopsi nila-nilai budaya masyarakatnya.

Pendidikan juga sebagai control sosial antar sesama, mempersatukan segala pandangan demi kepentingan umum dan lainnya. Sehingga dengan demikian, pendidikan diharapkan bisa digunakan untuk memanusiakan manusia.

Yang tidak mendapatkan pendidikan pun wajib mengikuti aturan yang berlaku dalam masyarakat dan bertindak semestinya sehingga tidak menimbulkan keresahan di sekitarnya.

Di zaman milenial semakin banyak tantangan konkret yang harus dihadapi secara serius. Seperti tingginya jumlah anak putus sekolah, sifat kompetitif yang terlalu ekstrim, siswa memukul guru, tawuran, dan masih banyak lagi.

Ketidakseimbangan antar harapan yang terlalu besar dengan tindakan yang dilakukan seseorang menjadi sebab munculnya permasalahan tersebut. Namun bukan berarti bahwa pendidikan tidak membawa dampak yang positif.

Maka inilah yang menjadi latar belakang mengapa pendidikan karakter dibutuhkan dan wajib diketahui oleh generasi penerus bangsa. Sikap yang tidak sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia menghilangkan satu persatu jati diri manusia Indonesia yang sesungguhnya. Miris tapi itu kenyataan!

Pendidikan karakter diharapkan membawa manfaat dalam substansi, antara lain menanamkan sifat religius, jujur, toleransi, dan membentuk sikap mandiri yang bertanggung jawab yang dapat membawa Indonesia ke masa emas.

Gerakan menuntaskan kebodohan, program pendidikan wajib sekolah 12 tahun, beasiswa kepada masyarakat kurang mampu, dan masih banyak lagi sudah diupayakan. Lalu dengan banyaknya tokoh yang aktif untuk memajukan pendidikan Indonesia, apakah generasi penerus bangsa masih mau diam di tempat?

 

Renata Nancy

Mahasiswa Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *