Monday, 25 Jan 2021


Museum Chocolate Monggo: Surganya Pecinta Cokelat

Museum Chocolate Monggo di Jalan Tugu Gentong RT 03 Sribitan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

WartaKita.org – Yogyakarta dikenal sebagai kota pariwisata yang memiliki beragam museum yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Museum Chocolate Monggo.

Nama “Monggo” berasal dari bahasa Jawa “monggo” yang artinya silakan. Dalam budaya Jawa, biasanya kata “monggo” diucapkan oleh orang yang lebih muda ketika akan berjalan lewat di depan orang yang berusia lebih tua. Selain itu, kata ini juga digunakan untuk mempersilakan seseorang yang akan berkunjung ke rumah tetangga atau ke suatu tempat.

Pemilik Chocolate Monggo ini adalah Thierry Detourney. Dia berasal dari Belgia.

Awalnya, dia membuat cokelat dengan bahan dasar yang dibawa dari negara asalnya. Dan karena kegigihannya, maka sekarang dia membuat sendiri cokelatnya dengan bahan dasar biji kakao yang ditanam oleh petani di Yogyakarta, khususnya wilayah Gunung Kidul dan Kulon Progo.

Berkat perjuangan dan pengorbanan Thierry, nama Chocolate Monggo menjadi besar seperti sekarang ini.

Museum Chocolate Monggo tergolong museum baru, karena baru dibangun pada tahun 2017. Museum ini terletak di Jogja bagian selatan, tepatnya di Jalan Tugu Gentong RT 03 Sribitan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Mulai dari sejarah cokelat, proses pembuatan, sampai ke proses pengemasan cokelat, semua dapat disaksikan di sini. Pada setiap dinding museum terdapat deskripsi lengkap tentang cokelat berupa gambar atau koleksi yang mendukung penjelasan tersebut. Adapula display beberapa kemasan cokelat berupa kemasan kertas maupun kaleng.

Di museum ini, pengunjung dapat mengetahui proses pembuatan cokelat dari biji hingga menjadi cokelat yang bisa dimakan, atau “from bean to bar.

Bahan dasar biji kakao ini ditanam petani dari seluruh daerah di Indonesia. Termasuk dari wilayah Yogyakarta, khususnya Gunung Kidul dan Kulon Progo.

Di sini juga terdapat beberapa peralatan untuk membuat cokelat. Salah satunya cetakan cokelat dengan berbagai macam bentuk.

Masuk ke tahap terakhir yaitu proses pengemasan cokelat. Chocolate Monggo menggunakan aluminium foil dan kertas daur ulang untuk mengemas cokelat. Cokelat dikemas dengan aluminuim foil agar tidak meleleh dan higienis. Kemudian di bagian luar dipercantik menggunakan kertas cokelat dengan berbagai macam gambar.

Bagian terpenting yang tidak boleh dilupakan saat berkunjung ke Chocolate Monggo adalah berfoto bersama vespa milik Pak Thierry Detourney. Vespa unik berwarna pink ini dulu berada di depan showroom Chocolate Monggo di Kota Gede. Namun sekarang dipindahkan ke Museum Chocolate Monggo. Dulu, vespa ini digunakan Thierry untuk berjualan cokelat di kawasan Sunmor (Sunday Morning) dan Prawirotaman.

Perusahaan Cokelat Monggo memiliki 5 nilai berharga yang disebut “company values.”  Yaitu peduli, unik, mendidik, asli, dan berbagi.

Perusahaan Cokelat Monggo ini peduli terhadap alam dan masyarakat sekitar. Hal ini dibuktikan dengan pengemasan cokelat yang menggunakan kertas daur ulang. Pegawai yang bekerja di sini merupakan masyarakat sekitar museum Chocolate Monggo.  Hal ini membukti bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat.

Cokelat Monggo juga unik. Karena di setiap sudut museum dihiasi nuansa Jawa yang tenang dan sederhana. Thierry sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat Jawa.

Perusahaan Cokelat Monggo juga berkomitmen untuk mendidik. Maksudnya, keberadaan Museum Chocolate Monggo dapat menambah pengetahuan bagi para pengunjung yang ingin mengetahui sejarah dan proses pembuatan serta pengemasan cokelat.

Produk Cokelat Monggo ini juga asli. Hal itu nampak dari bahan dasar cokelat, yaitu biji kakao.

Dan terakhir, Chocolate Monggo ingin berbagi rasa cokelat yang sesungguhnya kepada orang-orang sekitar.

Di museum ini juga disediakan kedai cokelat dan showroom untuk menikmati kelezatan minuman cokelat panas maupun dingin. Juga tersedia beberapa camilan ringan, gelato, dan lainnya. Pengunjung dapat membeli berbagai macam bentuk dan varian rasa cokelat.

Perjalanan hidup Thierry hingga sekarang dituliskan dalam buku “An Indonesia Chocoladventure, The Succes Story of Chocolate Monggo. Chocolate Monggo adalah surga bagi para pecinta cokelat. (Angeline Louisabethania, mahasiswi Universitas Gadjah Mada, Prodi S1 Sastra Prancis/ls).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *