Tuesday, 21 May 2019


Menjaga Interaksi Sosial, Batasilah Penggunaan HP

Seiring perkembangan zaman, orang semakin tidak bisa terlepas dari teknologi. Perkembangan teknologi, terutama teknonologi komunikasi yang semakin canggih dan praktis memang mempermudah berbagai aktivitas manusia. Dengan adanya teknologi komunikasi, manusia dapat mempermudah aktivitas interaksi sosialnya tanpa batasan jarak.

Perkembangan teknologi komunikasi memang terbilang pesat. Contohnya telepon genggam atau handphone. Jika kita kembali mengingat jenis dan ciri dari telepon genggam di tahun 1900-an hingga kini, kita dapat merasakan bagaimana perubahannya sangat pesat.  Bermula dari telepon genggam dengan layar berwarna kuning dan bentuknya yang besar, hingga kini bertransformasi menjadi berbentuk pipih dengan warna yang lebih kompleks.

Dulu, telepon genggam hanya digunakan untuk keperluan komunikasi jarak jauh dengan menggunakan pesan singkat atau obrolan langsung di telepon. Namun kini, telepon genggam dapat digunakan untuk mendengarkan radio, musik, menonton video, berfoto, dan bahkan menambah ilmu pengetahuan dengan adanya browser internet.

Handphone (HP) Monokrom atau yang biasa dikenal dengan istilah “HP Jadul (jaman dulu)” kini perlahan menghilang, dan tergantikan oleh kecanggihan telepon genggam masa kini yang dilengkapi sistem operasi android atau iOS.

HP Monokrom yang hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan singkat dan menelepon semakin ditinggalkan masyarakat. Karena kini masyarakat lebih tergiur dengan telepon genggam dengan sistem operasi canggih.  Selain itu, handphone dengan sistem operasi android maupun iOS memang sangat memudahkan penggunanya karena dapat mengakses banyak hal dan informasi yang lebih mendunia.

Kemunculan telepon genggam berbasis android dan iOS (gadget) memang memberikan dampak positif. Diantaranya memudahkan pengguna untuk mengakses internet dan media sosial, mengetahui berita terbaru, berbicara tatap muka dari jarak jauh melalui fitur video call, dan bahkan memudahkan para pengguna yang masih pelajar untuk dapat belajar melalui internet (e-book).

Selain itu, dengan adanya kemudahan mengakses internet banyak generasi muda sekarang yang semakin kreatif dan memiliki keingintahuan yang tinggi. Namun, dibalik adanya dampak positif munculnya telepon genggam berbasis android dan iOS, terdapat juga dampak negatif yang diberikan. Salah satu dampak negatif yang sangat merugikan adalah rendahnya tingkat kepedulian sosial masyarakat sekarang. Masyarakat yang sudah kecanduan menggunakan gadget sering tidak mempedulikan lingkungan sekitar karena asyik bersosial jarak jauh melalui media sosial.

Banyak orang mengatakan bahwa generasi sekarang adalah “generasi merunduk”. Sebutan itu merupakan sebuah sebutan negatif yang menggambarkan ketidakpedulian seseorang yang kecanduan gadget. Banyak orang tua yang mengeluhkan tentang sulitnya berbicara dengan si anak jika sudah bermain game atau asyik bermedia sosial dengan gadget.

Lalu, bagaimana sebaiknya para orang tua mengatasi permasalahan anak yang kecanduan gadget ini? Apakah lebih baik jika anak tidak mengenal gadget?

Terdapat beberapa solus,i selain dengan cara melarang anak menggunakan telepon genggam berbasis android atau iOS. Salah satunya adalah memberikan pendidikan karakter pada anak agar lebih bijak dalam menggunakan gadget.

Di zaman yang sudah sangat modern ini, ternyata masih ada beberapa sekolah berasrama (boarding school) di Indonesiayang mengajarkan pendidikan karakter pada siswanya agar tidak kecanduan pada kecanggihan gadget atau smartphone dan menggantinya dengan handphone monokrom.

Salah satu diantara beberapa sekolah tersebut adalah SMA Sedes Sapientiae Bedono, sebuah sekolah berasrama yang terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Meskipun para muridnya sudah beranjak dari remaja menuju dewasa, namun sekolah tersebut tidak pernah takut untuk membatasi akses komunikasi muridnya ke dunia luar. Seluruh murid yang tinggal di asrama tidak diperbolehkan membawa telepon genggam berbasis Android dan iOS, melainkan hanya diperbolehkan membawa handphone monokrom. Tidak hanya itu, penggunaan HP-nya juga dibatasi satu jam dalam sehari.

Setelah ditelusuri, ternyata maksud dari pendidikan karakter di SMA Sedes Sapientiae Bedono tersebut sangatlah unik. Beberapa alasan mengapa pendidikan karakter tersebut diterapkan adalah :

  1. Melatih jiwa sosial dan rasa kepedulian

Karena SMA tersebut merupakan sekolah berasrama, tentunya para murid tinggal bersama dan bertemu selama 24 jam, baik di asrama maupun di sekolah. Dengan adanya batasan penggunganaan handphone, maka para murid tentunya akan lebih akrab satu sama lain karena terbatasnya akses komunikasi keluar. Pentingnya sosialisasi dengan sesama murid di asrama adalah agar mereka dapat lebih menghargai satu sama lain dan juga memiliki jiwa sosial yang lebih tanggap.

  1. Melatih kemandirian

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh telepon genggam berbasis android atau iOS dapat mengakibatkan seorang anak menjadi mudah bergantung dan malas mengerjakan segala sesuatu dengan sendirinya. Pendidikan karakter anak yang membatasi penggunaan gadget dapat melatih kemandirian anak dan menjauhkan anak dari ketergantungan gadget.

  1. Meningkatkan daya kreatif yang alami

Pembatasan anak dengan dunia maya dapat menunjang daya kreativitasnya untuk menemukan atau mengetahui banyak hal baru secara alami. Hal tersebut juga melatih kemampuan anak untu kreatif dengan sendirinya tanpa bantuan alat canggih.

  1. Menjauhkan kenikmatan duniawi

Di SMA Sedes Sapientiae Bedono juga diajarkan kesederhanaan dan menjauh dari kenikmatan duniawi yang sering membuat kita lupa akan kenikmatan surgawi. Gadget merupakan salah satu barang yang bersifat duniawi. Untuk itulah para siswa di SMA Sedes Sapientiae Bedono diajarkan untuk terbiasa jauh dari barang yang diaggap mewah, salah satunya gadget.

Meskipun SMA Sedes Sapientiae Bedono tidak benar-benar menjauhkan gadget dari para siswanya, namun setidaknya mereka belajar untuk tidak terlalu bergantung pada suatu alat dan lebih memperhatikan sekitar. Dan ternyata, handphone monokrom juga masih cukup diandalkan untuk menghilangkan rasa ketergantungan anak terhadap gadget.

Poin utama dari pembahasan ini adalah tetap terjaganya interaksi sosial anak dengan keluarga agar tidak jatuh ke pergaulan yang salah. Pendidikan karakter kepada anak seperti contoh diatas tidak harus dilakukan oleh pihak sekolah. Para orang tua juga dapat mempraktikkannya di rumah. Misalnya, membatasi penggunaan gadget dalam sehari, mengenalkan anak pada dunia nyata yang ada di sekitarnya atau dengan menjaga komunikasi yang baik kepada anak agar anak merasa lebih nyaman berinteraksi dengan orang terdekatnya. Dengan demikian, selain perilaku sosial anak tetap terjaga. Mereka juga bisa tetap memanfaatkan gadget dengan lebih positif dan secukupnya.

Rudanti Widya Swara

Mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat, ASMI Santa Maria Yogyakarta

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *