Tuesday, 20 Aug 2019


Mencintai Indonesia, Lestarikanlah Kesenian Tradisional

Seni merupakan unsur yang menjadi bagian dalam suatu suku maupun bangsa tertentu. Setiap negara pasti memiliki kesenian khasnya masing-masing.

Indonesia sendiri memiliki beraneka ragam kesenian tradisional yang khas dari berbagai macam daerah yang ada. Sebagai contoh, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki beraneka ragam kesenian tradisional.

Salah satunya adalah seni tradsional jemparingan atau panahan. Jemparingan merupakan seni memanah kuno gaya Mataram. Jemparingan dulu sering digelar di wilayah Kerajaan Mataram.

Menurut buku panduan wisata Yogyakarta, kata jemparing memiliki arti berupa panah yang diambil dari bahasa jawa. Bagi yang sudah ahli, jarak yang harus ditaklukan oleh pemain jemparingan adalah 30 meter. Namun, bagi yang masih pemula, jarak yang ditargetkan bisa disesuaikan, seperti 10 sampai 20 meter saja.

GoodNews from Indonesia menjelaskan, tradisi jemparingan telah ada sejak zaman kerajaan ratusan silam. Dahulu kala, tradisi ini dimainkan oleh para bangsawan kerajaan dan juga keluarganya. Raja kerajaan Mataram pun menjadikan permainan ini sebuah perlombaan wajib di wilayah kerajaan kala itu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tradisi jemparingan ini sudah mulai dimainkan oleh rakyat biasa sebagai bentuk olahraga, hiburan, maupun pelestarian budaya yang sangat berharga. Meskipun tradisi ini sempat meredup untuk beberapa waktu dan jarang dimainkan, kini jemparingan kembali muncul dan mulai diminati oleh generasi masa kini.

Menurut sejarah, para prajurit zaman kerajaan biasa melakukan tradisi jemparingan guna melatih ketajaman konsentrasi dalam melesatkan anak panah. Seiring dengan berkembangnya zaman, eksistensi tradisi ini dapat tetap terjaga mengingat panahan selain dapat melatih fisik, bisa juga melatih kesehatan jiwa.

Tidak seperti panahan pada umumnya yang dilakukan dengan posisi berdiri, jemparingan ini dilakukan dengan posisi duduk bersila. Peserta biasanya duduk dengan gaya Mataram membentuk dua barisan menghadap ke barat. Tidak hanya itu, pemain jemparingan juga biasanya mengenakan  pakaian adat jawa lengkap dengan blangkon, jarik, dan kebaya untuk wanita serta beskap untuk laki laki.

Selain menjadi salah satu olahraga tradisional yang ada di Indonesia, tentu saja jemparingan ini juga menggunakan peralatan yang tradisional pula. Busur dan anak panah yang digunakan dalam olahraga jemparingan ini terbuat dari bambu khusus yang bernama bambu petung. Bambu jenis ini memiliki ukuran yang cukup besar dan biasanya hanya tumbuh di daerah dataran tinggi saja. Selain bambu petung, dapat juga menggunakan bahan yang lain yaitu kayu Walikulun dan kayu Jeruk Nipis.

Jemparingan ini bisa diikuti oleh semua kalangan, baik orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak sekalipun. Sampai saat ini, jemparingan masih dijadikan sebagai olahraga, permainan, dan juga perlombaan.

Di Yogyakarta sendiri, ada beberapa daerah yang masih rutin melakukan kegiatan jemparingan baik untuk perlombaan ataupun sekadar kegiatan rutin saja. Dan pada saat Bulan Sapar, biasanya ada beberapa daerah di Yogyakarta yang mengadakan perlombaan jemparingan. Salah satunya di daerah Gamping, Sleman dan Kulon Progo.

Apabila tradisi jemparingan ini kita dapat dikenalkan ke dunia secara lebih luas, maka ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang berkunjung ke kota Yogyakarta. Karena mayoritas wisatawan masa kini lebih tertarik pada sejarah atau filosofi maupun hal unik yang ada di daerah tersebut. Dengan demikian, para wisatawan mendapatkan kepuasan karena memperoleh sesuatu hal baru yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Selain itu, masyarakat juga dapat mengajak para generasi muda agar tertarik untuk mengenal, dan bahkan mendalami kesenian tradisional ini serta melestarikannya, sehingga jemparingan tetap terjaga dengan baik.

Seperti diketahui, kesenian merupakan sejarah yang perlu dijaga kelestariannya agar tetap melekat erat dan tidak luntur nilai sejarahnya. Karena sejarah merupakan bagian penting dan bukti pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang untuk bangsa ini.

Ada berbagai macam cara untuk melestarikan kebudayaan maupun kesenian yang ada agar tetap melekat dan menjadi ciri khas di negara itu sendiri. Oleh karena itu, mari kita mencintai dan melestarikan budaya bangsa ini agar tetap hidup dan berkembang tanpa mengurangi nilai sejarahnya sedikitpun. Karena kalau bukan kita dan tidak diniati dari diri sendiri, lalu siapa lagi? Mari kita kembangkan dan lestarikan kesenian tradisional Indonesia. Cinta Budaya Cinta Indonesia!

Vanida Hasna Afifah

Mahasiswa Program Studi Public Relations, ASMI Santa Maria Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *