Tuesday, 22 Sep 2020


Mahasiswa Perlu Seimbangkan Prestasi Akademis Dan Non Akademis

SEMUA MAHASISWA tentu ingin meraih prestasi baik di bidang akademis maupun non akademis.

Ini adalah suatu cita-cita yang mulia dari seorang mahasiswa untuk membanggakan orang tua  mereka dan dirinya.

Pola pemikiran tersebut tidaklah salah. Seorang anak pasti melihat kerja keras orangtuanya. Melihat bagaimana sulitnya orang tua mencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Anak mungkin juga melihat bagaimana bingungnya orangtua saat menerima tagihan yang bermacam-macam ragamnya.

Melihat hal itu, tentu mahasiswa mulai paham bagaimana keras dan pahitnya perjuangan orangtua saat bekerja. Mahasiswa mulai sadar, ternyata di balik senyuman dan ketegaran orangtuanya, ada perjuangan luar biasa yang dilakukan orangtua demi kebahagiaan anak-anaknya.

Hal ini bisa berimbas pada tumbuhnya semangat positif pada diri mahasiswa untuk menyelesaikan perkuliahan tepat waktu.

Selain menyelesaikan perkuliahan tepat waktu, mahasiswa juga perlu menyadari bahwa dalam kehidupan zaman sekarang yang diwarnai persaingan global ini dibutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki keseimbangan antara prestasi akademik dan non akademik.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional RI Muhadjir Effendy pernah mengingatkan tentang pentingnya keseimbangan pendidikan akademis dan non akademis.

Dalam pidatonya pada Lokakarya Bantuan Pemerintah Fasilitasi Sarana Kesenian di Satuan Pendidikan Tahap II di Jakarta, Rabu (18/7/2018),  Muhadjir Effendy mengatakan bahwa tenaga pendidik pun tidak bisa hanya fokus mendidik di sisi akademisnya saja, tetapi juga non akademisnya, misalnya dalam kesenian.

Segala fasilitas sarana dan prasarana yang disediakan penyedia jasa pendidikan di bidang non-akademik perlu diperhatikan benar oleh mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan, beragam jenis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan lainnya sebenarnya adalah bagian dari usaha institusi pendidikan untuk mempersiapkan pribadi yang bersaing di  persaingan dunia kerja. Melalui kegiatan non akademis ini mahasiswa dilatih untuk menyalurkan energi pada kegiatan positif, mengembangkan bakat dan talenta, serta melatih menjalin relasi.

Rekam jejak berdinamika dalam komunitas atau organisasi non akademik ini akan melatih mahasiswa untuk bekerja sama dalam suatu tim.

Sering mahasiswa menemukan info lowongan pekerjaan yang tertera di papan informasi kampus untuk ditujukan pada kakak-kakak tingkat, dimana mencantumkan syarat seperti dapat bekerja sama dalam tim dan mampu bekerja dalam tekanan. Bekerja sama dalam tim dan mampu bekerja dalam tekanan ini dapat dilatih dengan aktif dalam kegiatan non akademis yang ada di kampus.

Yang menjadi “momok” bagi mahasiswa dalam berdinamika di aktivitas non akademis kampus adalah sulitnya mengatur waktu dengan baik. Kegiatan akademis maupun non akademis akan sama-sama menghasilkan dinamika dan drama yang bisa jadi menguras emosi mahasiswa.

Emosi yang tidak stabil tersebut mungkin akan mempengaruhi kemampuan mengatur waktu antara dua kegiatan ini. Dan biasanya, yang paling terpengaruh adalah di bagian akademisnya. Prestasi akademis ada penurunan dikarenakan hal tersebut. Dan parahnya, respon popular mahasiswa adalah dengan keluar atau secara halus menghilang dari kegiatan organisasi dan kegiatan UKM demi mengembalikan prestasi akademis seperti sebelumnya.

Sebenarnya, keharusan agar seimbang prestasi akademis dan non akademis ini membuat mahasiswa pada akhirnya dapat mengatur waktu, pola makan, dan pola istirahat dengan baik. Ini merupakan tantangan positif yang juga harus ditanggapi dengan positif oleh mahasiswa agar dapat bersaing di dunia kerja di waktu yang akan datang.

 

David Noveno S B

Mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta, Program Studi Public Relations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *