Thursday, 22 Oct 2020


Indonesia Maju Berdasarkan Pancasila

PERINGATAN Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober memberikan catatan penting.

Momentum Hari Kesaktian Pancasila 2020 yang mengangkat tema “Indonesia Maju Berdasarkan Pancasila” menghadapi tantangan tersendiri dalam menghadapi serangan pandemi Covid-19 ini. Saat ini, Pancasila dapat dikatakan benar-benar sakti dan teruji ketika kita tetap utuh, bersatu dalam kebersamaan, dan tidak goyah dalam menghadapi Covid-19.

Peristiwa pandemi Covid-19 ini menjadi momentum untuk membumikan kembali pentingnya nilai Pancasila. Usaha tersebut tidak lain dengan senantiasa memperkuat kebhinekaan, memupuk rasa kemanusian dan persatuan, serta mengedapankan musyawarah dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ini ujian terhadap kesatuan sebagai satu bangsa.

Negara yang berhasil keluar dari pandemi Covid-19 adalah negara yang memiliki persatuan dan kesatuan serta solidaritas yang kuat, mulai dari Pemerintah sampai masyarakat tingkat bawah. Nilai-nilai tersebut merupakan ideologi dasar dari Pancasila.

Upaya tersebut tentunya membutuhkan tata kelola pemerintahan yang efektif dengan dipandu sosok kepemimpinan yang dilandasi nilai-nilai Pancasila. Kepemimpinan pada dasarnya merupakan gambar tentang hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, mendapatkan arahan, inspirasi, optimisme, semangat dan bahkan harapan.

Kepemimpinan Pancasila sesungguhnya adalah kepemimpinan ideologis yakni suatu kepemimpinan yang memberi dasar, pandu, arah dan sekaligus metodologi di dalam prakteknya. Kepemimipinan Pancasila dengan demikian adalah model kepemimpinan yang wataknya mencerminkan ideologi Pancasila. Artinya perilaku, gerak langkah, proses dan keputusan-keputusan yang dilahirkan memancarkan nilai-nilai Pancasila.

Dalam konteks kepemerintahan atau penyelenggaraan kekuasaan negara, model kepemimpinan ini jelas menunjuk pada kualitas kebijakan publik sebagai bagian dari produk kepemimpinan yang secara ideal harus mencerminkan ideologi yang mendasarinya.

Bagi rakyat menjadi sangat mudah untuk memberikan penilaian apakah model kepemimpinan yang dijalankan adalah model kepemimpinan Pancasila atau bukan. Yakni dengan jalan melihat secara kritis kualitas kebijakan publik dengan mengunakan Pancasila sebagai optiknya

Beberapa ciri dapat dikembangkan sebagai indikator dalam kepemimpinan Pancasila adalah: Pertama, mengakui, menghargai, memperkuat kebhinekaan (pluralisme) bukan sebaliknya.

Kedua, memanusiakan manusia dan memuliakan manusia.

Ketiga mempersatukan dan selalu memiliki kemampuan untuk menghindari perpecahan yang tidak perlu. Sadar bahwa hanya bersatu maka akan diperoleh kekuatan yang besar untuk mencapai tujuan.

Keempat, mengedepankan musyawarah, bukan untuk menindas yang kecil (minoritas), merupakan cermin dari tidak mudah lelah dalam menemukan solusi bersama untuk kepentingan bersama.

Dan kelima, berorientasi dan selalu dipandu untuk bersifat dan menuju keadilan.

Lebih dari itu semua, Kepemimpinan Pancasila membentuk arah pada tatanan baru yang lebih baik dan bermakna, material dan spiritual.

Tantangan di masa depan adalah ciri dan indikator seperti apa yang harus dikembangkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam tata kelola kepemerintahan. Saat ini dan kedepan, bangsa ini membutuhkan suatu model kepemimpinan yang benar-benar sesuai dengan jiwa bangsa.

Pertama, diakui atau tidak bahwa di tengah arus globalisasi dengan segala implikasinya bangsa ini tengah diuji keberadaannya: apakah mampu bertahan atau hilang dalam pusaran penjajahan baru. Hal tersebut sebagai akibat dari ketergantungan yang besar pada kekuatan luar dan gagal membangun kemandirian.

Kedua, diakui atau tidak, bangsa ini sebetulnya masih menyimpan tantangan nyata seperti masalah kemiskinan, keterbelakangan dan kesenjangan. Ketidakmampuan mengatasi masalah tersebut bukan saja akan menambah beban rakyat dan menjauhkan rakyat dari cita-cita proklamasi kemerdekaan, tetapi juga menggerus nasionalitas warga bangsa.

Situasi dan kondisi pandemi menuntut adanya kepemimpinan Pancasila dalam kepemerintahan yang peduli atau emphatic governance (ngaruhne/nguwongne)-berpijak dan berpihak pada masyarakat rentan, mengharuskan setiap orang untuk peduli, berbagi bersama.

Hal tersebut sebagian basis pentingnya pengembangan kepemimpinan Pancasila  di semua level, khususnya lingkup tata kelola pemerintahan dan dari padanya membentuk suatu tata kelola  kepemerintahan Pancasila.

Kita percaya semua pihak memiliki komitmen yang besar untuk menyegerakan diri memperbaiki keadaan dan menjalankan tata pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan dasar negara kita: Pancasila!

 

Drs Harjanta, SE, M.Pd

Calon Wakil Bupati Klaten

Alumnus Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Widya Dharma Klaten

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *